Di kuil dan sekolah, kita “mengambil” pancasila yang memberadabkan ini, tapi itu tidak cukup; pancasila harus “mengambil” kita, “membawa kita” seperti kata pepatah populer, hidup dalam diri kita, hidup dengan dan melalui kita.

Jalan Pancasila BuddhaBacaan nonfiksi religi
Sila-sila ini merupakan aturan perilaku hasil rumusan sendiri, yang diterima dan diusahakan untuk dipatuhi dengan sukarela oleh individu—bukan untuk menyenangkan Tuhan, tapi untuk menyelaraskan dirinya secara moral dengan hasil-hasil pemikirannya.

Mengambil Jalan PancasilaBacaan nonfiksi religi
“Mengambil pancasila” hanyalah menengok sekali lagi peta jalan itu untuk menyegarkan ingatan, untuk mengingatkan diri kita akan eksistensi jalan-jalan samping dan gang-gang yang dapat menyebabkan kita menyimpang darinya.

Peran Penting PancasilaBacaan nonfiksi filsafat
Kita menaati pancasila bukan untuk alasan duniawi murni semata, tapi karena Buddha mengadopsi mereka sebagai fondasi Ajarannya (Jalan menuju Ketersadaran), dan karena mereka telah senantiasa menyiapkan jalan untuk Ordo Orang Tercerahkan dari semua zaman.

Peringatan PancasilaBacaan nonfiksi sosial
“Mengapa aku mesti sangat peduli soal berbuat baik hanya untuk diriku sendiri?” Karena berbuat sesuatu yang baik pada dirimu sendiri adalah cara teraman berbuat sesuatu yang baik untuk dunia.

Jalan Pancasila LaoziBacaan nonfiksi religi
“Kelima sila ini bermula bersama langit dan bumi dan telah eksis bersama tak terhitung makhluk. Mereka yang menegakkannya menjumpai nasib baik, mereka yang kehilangannya dirundung kemalangan.”
