Kendati pengaruh pers, melalui kemampuannya untuk terus mempertahankan subjek-subjek tertentu di depan pembacanya, telah tumbuh bersama pertumbuhan sumberdaya dan langganannya, cengkeramannya pada kepercayaan populer tak diragukan lagi sudah mengendor selama empat puluh atau lima puluh tahun terakhir.

Hasan al-BashriBacaan nonfiksi sejarah
‘Wahai Hasan... Jika aku jatuh dalam lumpur, tak ada bahaya besar yang timbul, aku bisa menyingkirkannya dengan mencuci; tapi jika kau jatuh ke dalam lubang kemegahan diri, kau takkan pernah keluar dalam keadaan bersih dan keselamatan abadimu akan hancur seluruhnya.’

Peran Intelijen dan Reporter Dalam Mengelola Urusan UmatBacaan nonfiksi politik
“Para pejabat tidak bisa mencegah para petani mengucapkan hujatan-hujatan ini, pun para petani tidak bisa berkata apa-apa tentang keingkaran, tirani, dan kefasikan para pejabat; kedua pihak sama-sama berasyik-masyuk dalam kedurjanaan.”

Wejangan Untuk Diktator dan Calon DiktatorBacaan nonfiksi politik
Kediktatoran harus mampu bertahan hidup di atas kehati-hatian rohaninya sendiri. Itu tidak akan berhasil jika apa yang baik dalam ide-idenya berasal dari lawan-lawannya, dan apa yang berasal dari selain lawan-lawannya adalah buruk.

Mengapa Kita Menentang Yahudi?Bacaan nonfiksi politik
Apa kaitan anti-Semitisme dengan nasionalisme? Aku bertanya kebalikannya: apa kaitan Yahudi dengan nasionalisme? Nasionalisme adalah doktrin darah, doktrin ras. Yahudi adalah musuh dan penghancur darah manunggal, penghancur sadar ras kita.

Kedatangan Ras AryaBacaan nonfiksi sejarah
Kaum Arya pertama kali kelihatan dalam sejarah sekitar seribu tahun sebelum Masehi, ketika mereka menginvasi India di satu sisi dan mengancam Babilonia di sisi lain.

Raja-raja MediaBacaan nonfiksi sejarah
“Anak itu orang Persia; jikalau dia akhirnya naik ke atas singgasana, maka kekuasaan akan beralih ke tangan orang asing, dan kami orang Media, yang terpinggirkan, akhirnya akan menjadi budak, menjadi orang asing.”

Ketika Jurnalis MemerintahBacaan nonfiksi jurnalisme
Seorang anggota parlemen, sekalipun dia suka bicara, tidak bisa melakukan pidato dalam sidang sebanyak redaktur menulis artikel dalam sepekan. Dan redaktur mencetak setiap kata, dan menyebarkannya ke hadapan jemaat besarnya.
