Skip to content
Raja-raja Media – Relift Media

Bacaan non-fiksi sejarah Raja-raja Media

“Anak itu orang Persia; jikalau dia akhirnya naik ke atas singgasana, maka kekuasaan akan beralih ke tangan orang asing, dan kami orang Media, yang terpinggirkan, akhirnya akan menjadi budak, menjadi orang asing.”



Kini saatnya membuka bab baru dalam cerita kita. Siapa Cyrus, orang yang sudah menghancurkan kekaisaran Kroisos, dan bagaimana bangsa Persia naik dan menguasai Asia? Aku sudah beberkan empat keterangan berbeda, dan masing-masing membantu menerangkan Cyrus dengan caranya sendiri. Tapi versi yang sudah kupilih untuk diikuti adalah versi yang dituturkan oleh orang-orang Persia yang berpikir lebih penting mendapatkan fakta-fakta secara lang­sung daripada sekadar mengagungkan Cyrus. Nah, selama kurun 520 tahun, bangsa Asyur-lah yang menguasai Asia; dan kaum pertama yang memberontak terhadap kekuasaan mereka adalah bangsa Media. Bahkan, perang kemerdekaan ini terbukti merupakan pembentukan para pemberontak, sebab mereka memerangi bangsa Asyur dengan begitu heroik hingga berhasil membuang kuk perbudakan sepe­nuhnya dan mendapatkan kebebasan. Pasca kemenangan ini, yang lain-lain juga mengikuti contoh bangsa Media.

Tapi meski seluruh benua itu akhirnya memperoleh kemerdekaan, despotisme ditakdirkan untuk kembali. Ada seorang Media bernama Diokis putera Frada, seorang pria yang nafsu kekuasaannya sangat diimbangi oleh ketajaman akalnya, dan yang telah membuat sebuah rencana. Bangsa Media pada masa ini tinggal di permukiman-permukiman yang tak lebih dari desa-desa, dan Diokis, yang sudah men­jadi sosok berkedudukan tinggi di desanya sendiri, mulai bekerja lebih keras lagi untuk menegakkan dirinya sebagai teladan kejujuran—sebab terlihat jelas aturan hukum absen di segenap pelosok Media, dan dia paham betul bahwa bagi orang-orang yang menghargai keadilan, tidak ada musuh lebih besar daripada rusaknya keadilan. Orang-orang Media di desanya sendiri, melihat standar moralnya yang tinggi, sewajarnya menunjuk dia sebagai hakim mereka; dan Diokis, yang senantiasa fokus pada bagaimana meraih kekuasaan, memastikan memenuhi jabatan ini dengan unjuk integritas yang gigih. Perilaku tersebut mendatangkan banyak pujian dari sesama penduduk desanya—bahkan sampai masyarakat desa-desa lain mulai memperhatikan reputasinya sebagai orang yang, uniknya, dijamin akan mengadili para penggugat dengan ketidakberpihakan yang ketat. Tak mau lagi mento­lerir rusaknya keadilan, masyarakat terilhami oleh kabar yang mereka dengar tentang Diokis untuk mendatanginya, dan dengan gembira menyerahkan perkara-perkara mereka kepada pertimbangannya, sampai pada akhirnya mereka menolak minta tolong kepada orang lain.

Bertambah besar saja kumpulan klien-klien setianya ini, orang-orang yang tahu bahwa mereka bisa mempercayainya untuk menyelesaikan setiap gugatan hukum sesuai fakta belaka. Namun, Diokis sendiri, sadar dirinya kini disinggahi oleh siapapun yang punya masalah hukum, menyatakan sudah bosan; tak mau lagi dia mengambil tempatnya di kursi publik di mana tadinya dia duduk untuk menyampaikan putusan-putusannya, dan tak mau lagi dia bertindak sebagai hakim. Toh, apa manfaatnya buat dia menghabiskan seluruh harinya dengan memberi perhatian pada urusan tetangga-tetangganya, hingga mencampakkan urusannya sendiri? Tapi ketika keputusan ini ternyata berdampak pada desa-desa dengan memburuknya gelombang kejahatan dibanding sebelumnya, dan keruntuhan total hukum dan tatanan, bangsa Media bertemu dalam majelis untuk berdebat apa yang harus dilakukan terkait situasi itu (debat di mana, aku curiga sekali, para partisan Diokis-lah yang memonopoli mimbar). “Jika kita terus seperti ini,” kata mereka, “kehidupan di negeri ini tak dapat dipertahankan. Kita harus meng­angkat seorang raja—seorang raja dari tengah-tengah kita sendiri! Bagaimana lagi kita akan mendapatkan masyarakat yang diperintah aturan hukum? Apa prospek lain untuk mulai mengusahakannya? Apa kita semua harus disapu oleh pasang anarki yang naik ini?” Intinya, begitulah argumen-argumen yang menyakinkan bangsa Media akan perlunya seorang raja.

Yang pada gilirannya menimbulkan pertanyaan jelas: siapa yang kini harus mereka pilih untuk memerintah mereka? Kandidat paling populer, karena paling terpuji, adalah Diokis; dan dialah yang sewajarnya mendapatkan penunjukan itu. “Bangunkan untukku sebuah istana yang pantas untuk seorang raja!” perintahnya kemudian. “Beri aku seorang pengawal!” Bangsa Media patuh. Berdirilah sebuah istana besar dan berbenteng kokoh, di sebuah lokasi yang dipilih oleh Diokis sendiri, dan tersedialah pengawal, yang dipilih oleh sang raja dari tengah-tengah populasi Media, tanpa campurtangan siapapun. Lalu, dengan amannya ceng­keramannya pada kekuasaan, dia memaksa bangsa Media untuk bekerja berat membangun sebuah konurbasi megah, proyek yang sangat menyita waktu dan tenaga mereka sampai setiap tempat lain di Media jadi remuk karena ter­lantar. Lagi-lagi bangsa Media dibuat menurut, dan ter­bangunlah kota yang kini dikenal sebagai Agbatana, sebuah benteng raksasa dan tak tertembus yang terlingkungi di dalam serangkaian tembok konsentris. Tembok-tembok ini dibentuk sedemikian rupa sehingga masing-masing lingkar pertahanan yang berturutan berfungsi untuk naik ke atas lingkar sebelumnya melalui ketinggian bastionnya, sebuah efek yang terbantu oleh letak Agbatana di lereng bukit tentunya, tapi tetap saja berutang banyak pada perancangan cermat. Terdapat tujuh lingkar totalnya—dan terlingkungi di dalam lingkar paling dalam adalah istana kerajaan dan kas negeri. Lingkar paling luar adalah kira-kira seukuran tembok yang melingkari Athena. Bastion-bastion berbagai tembok ini dicat dengan warna berlainan, sehingga efek kumulatif­nya sama dengan efek karangan bunga; lingkar pertama dicat putih, kedua hitam, ketiga ungu, keempat biru langit, dan kelima jingga. Adapun bastion-bastion dari dua lingkar paling dalam, yang kedua dari dalam disepuh dengan perak, dan yang paling buncit dilapisi dengan emas.

Kubu-kubu ini dibangun untuk perlindungan Diokis sen­diri dan istananya; setiap orang diperintahkan untuk tinggal di luar tembok-tembok tersebut. Lalu, dengan selesainya berbagai proyek pembangunan, Diokis mulai mengadakan seremonial yang sama sekali baru: dia melarang masyarakat datang ke hadapannya, sebagai gantinya mengharuskan mereka berkomunikasi dengannya melalui para perantara; dia mengenakan larangan pada siapapun untuk sekadar me­lihat sang raja; dan dia menyatakan tertawa dan meludah di depan raja adalah pelanggaran berat. Ada metode di balik penyarungan dirinya dalam kemegahan dan ritual; dia ber­harap untuk tertutupi dari pandangan orang-orang sebaya­nya, orang-orang yang dibesarkan bersamanya, dan yang sedikitpun tidak lebih rendah darinya dalam hal pengasuhan atau keberanian. Maka tak heran Diokis rewel soal meng­hasut mereka kepada kebencian dan konspirasi, dan ber­usaha mengembangkan rasa kemistikannya sendiri dengan menyembunyikan diri.

Pengenalan sistem etiket ini bukan satu-satunya cara dia memperkuat otokrasinya, sebab dia menggunakan tongkat besi dalam bidang peradilan juga. Alih-alih menyampaikan gugatan secara langsung, para penggugat justru diharuskan menyerahkannya ke istana dalam bentuk tertulis; Diokis akan menaksirnya, lalu menyuruh agar putusannya dikirim ke luar. Sejalan dengan cara penyelesaian gugatan hukum ini adalah sebuah inovasi lanjutan: siapapun yang dikabarkan naik melampaui status sosialnya akan dipanggil ke hadapan raja dan dihinakan dengan hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya. Mata-mata ada di setiap tempat di kerajaan—mata dan telinganya Diokis.

Kendati benar bahwa pengaruhnya tak pernah meluas ke luar perbatasan Media, prestasi besarnya bukan hanya sudah membentuk orang-orang Media ke dalam satu bangsa tapi memerintah mereka sebagai satu bangsa. Tentu saja tidak ada kekurangan suku di Media. Suku Busae, suku Paracetani, suku Struchates, suku Arizanti, suku Budii, suku Majus, mereka semua adalah bangsa Media.

Judul asli : Who was Cyrus and how the Persians became Masters of Asia ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Oktober 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Raja-raja Media

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)