Skip to content
Ksatria Cinta – Relift Media

Ksatria Cinta

Dengarkan, nak, dengar­kan perempuan tua ini, yang telah menyaksikan tiga generasi, yang punya pengalaman panjang dalam urusan pria dan wanita. Pernikahan dan cinta tidak punya kesamaan.


Kastil bergaya kuno ini didirikan di atas bukit hutan kecil di tengah pepohonan tinggi berdaun hijau gelap. Kebun raya tersebut membentang hingga kejauhan, di satu arah menuju tepi hutan, di arah lain menuju desa jauh. Beberapa yard dari muka rumah terdapat kolam batu besar di mana gadis-gadis marmer sedang mandi; kolam-kolam lain terlihat berselang-selang di kaki lereng, dan searus air terjun dari satu kolam ke kolam lain.

Dari rumah manor yang menjaga keanggunan ala pensiunan wanita genit hingga gua-gua berlapiskan karya cangkang kerang di mana tertidur asmara masa lalu, segala sesuatu di tanah antik ini mempertahankan fisiognomi hari-hari lampau. Segalanya seakan masih membicarakan kebiasaan kuno, tata­krama lawas, keksatriaan terdahulu, dan keremehtemehan luwes yang begitu bernilai bagi nenek-nenek kita.

Di sebuah ruang tamu bergaya Louis XV, yang dinding-dindingnya diliputi penggembala pria sedang merayu peng­gembala wanita—gadis-gadis jelita dengan rok gelung, dan pria-pria jantan berwig—seorang nenek renta, yang terlihat mati setiap habis bergerak, hampir rebah di kursi malas besar yang di tiap sisinya bergantung tangan kerempeng mirip mumi.

Mata sayupnya memandang hampa ke cakrawala jauh, menembus kebun raya, seolah berusaha mengikuti impian masa mudanya. Lewat jendela terbuka, sesekali datang hembusan udara penuh aroma rumput dan wangi bunga-bunga. Itu membuat rambut putihnya berkibar di sekitar dahi keriput dan kenangan lama melayang di dalam kepalanya.

Di sampingnya, di atas bangku beralas permadani, seorang gadis belia, dengan rambut panjang halus bergantung ke belakang punggung dalam kepangan, sedang menyulam kain altar. Ada ekspresi termenung di matanya, dan mudah sekali untuk membaca bahwa dia sedang melamun, meski jemari gesitnya melesat ke sana kemari pada sulaman.

Tapi nenek tua itu memutar kepala dan berucap:

“Berthe, bacakan sesuatu dari suratkabar, agar aku tetap tahu sekali-sekali apa yang sedang berlangsung di dunia ini.”

Si gadis memungut sebuah koran, dan melihatnya sepintas.

“Ada banyak soal politik, nek. Haruskah dilewatkan?”

“Ya, ya, sayang. Apa tak ada kisah cinta? Apa artinya keksatriaan sudah mati di Prancis, sampai-sampai mereka tak lagi membahas penculikan atau petualangan seperti dulu?”

Si gadis menelusuri kolom-kolom suratkabar.

“Ada,” ujarnya. “Judulnya ‘Drama Asmara!’”

Sang nenek tersenyum di antara keriputnya. “Bacakan untukku,” tukasnya.

Berthe pun memulai. Itu kasus pelemparan asam belerang. Seorang isteri, demi membalas dendam terhadap selingkuhan suaminya, membakar wajah dan mata si gundik. Dia meninggalkan Pengadilan Assizes dengan putusan bebas, dinyatakan tak bersalah, di tengah tepuk-tangan massa.

Nenek bergerak-gerak resah di kursinya, dan berseru:

“Ini mengerikan—ah, ini betul-betul mengerikan! Coba cari yang lain, sayang.”

Lagi-lagi Berthe menelusuri. Lebih ke bawah di antara liputan kasus-kasus kejahatan, dia membaca:

“‘Drama Suram. Seorang pramuniaga, tak lagi muda, membiarkan dirinya disesatkan oleh seorang pemuda. Lalu, untuk menuntut balas pada sang kekasih, yang ternyata berhati plin-plan, dia menembaknya dengan revolver. Si lelaki naas buntung seumur hidup. Juri, semua pria berkarakter moral, mengampuni asmara haram si pembunuh, membebaskannya dari tuduhan secara hormat.’”

Kali ini nenek tampak syok, dan dengan suara bergetar dia mengatakan:

“Ah, kalian manusia zaman sekarang memang gila. Kalian gila! Tuhan yang baik telah memberi kalian cinta, satu-satunya pesona dalam hidup. Manusia telah menambahkan pada keksatriaan ini satu-satunya penghibur momen jengah kita, dan di sini kalian malah mencampur asam belerang dan revolver dengannya, bagai memasukkan lumpur ke dalam sebotol anggur Spanyol.”

Judul asli : The Love of Long Ago
Jadis
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment