Skip to content
Duel Dengan Kota – Relift Media

Duel Dengan Kota

“Kau sudah tamat. Kota ini sudah melahapmu habis. Ia sudah mengambilmu dan memotongmu sesuai polanya dan mencapmu dengan mereknya. Kau sangat mirip dengan sepuluh ribu orang yang kulihat hari ini sampai tak bisa dibedakan dari mereka.”



Para dewa, rebahan di samping minuman nectar mereka di Olimpus dan mengintip ke tepi tebing, melihat se­buah perbedaan pada kota-kota. Walaupun menurut pengli­hatan mereka kota-kota tampak sebesar atau sekecil sarang semut tanpa karakteristik istimewa, nyatanya tidak demi­kian. Mempelajari kebiasaan semut dari ketinggian setinggi itu hanyalah selingan ringan ketika disandingkan dengan minuman ringan itu, yang, kata mitologi, menjadi satu-satunya hiburan mereka. Tapi sudah pasti mereka terhibur dengan pembandingan desa dan kota; dan bukan berita baru bagi mereka (atau mungkin bagi banyak makhluk) bahwa dalam satu kekhususan, New York berkedudukan unik di antara kota-kota dunia. Ini akan menjadi tema sebuah cerita kecil yang ditujukan kepada pria yang duduk merokok dengan kaki berselop Sabat-nya di atas satu kursi lain, dan kepada wanita yang mengambil koran sejenak sambil me­rebus sayuran atau sementara bayi yang dibius membuatnya leluasa. Dengan mereka ini aku suka duduk di tanah dan menceritakan kisah-kisah sedih kematian para Raja.

New York City dihuni 4.000.000 orang asing misterius, mengalahkan Bird Centre dengan selisih tiga juta setengah lusin sembilan. Mereka datang ke sini dengan beragam cara dan untuk banyak alasan—Hendrik Hudson, sekolah-sekolah seni, barang-barang hijau, bangau, konvensi tahunan pen­jahit, Pennsylvania Railroad, kecintaan pada uang, pentas, tarif darmawisata murah, otak, iklan kolom pribadi, sepatu jalan berat, ambisi, kereta barang—semua ini punya peran dalam menyusun populasinya.

Tapi setiap Jack, ketika pertama kali menginjakkan kaki­nya di batuan Manhattan, harus bertarung. Dia harus lang­sung bertarung sampai dia atau musuhnya menang. Tidak ada istirahat di antara ronde-ronde, sebab tidak ada ronde. Menonjok dari awal. Bertarung sampai akhir.

Lawanmu adalah Kota. Kau harus bertempur dengannya dari saat kapal feri mendaratkanmu di pulau itu sampai ia menjadi milikmu atau ia menaklukkanmu. Tidak ada beda­nya apakah kau mengantongi satu juta di sakumu atau hanya senilai indekos satu minggu.

Pertempuran ini untuk memutuskan apakah kau akan menjadi seorang New Yorker atau berubah jadi orang luar dan Filistin yang bau. Kau harus menjadi yang kesatu atau yang kedua. Kau tidak bisa tetap netral. Kau harus men­dukung atau melawan—menjadi pacar atau musuh—menjadi sahabat karib atau orang buangan. Dan, oh, kota ini adalah seorang jenderal di atas ring. Tak hanya dengan pukulan ia coba menundukkanmu. Ia merayumu ke hatinya dengan kehalusan wanita penggoda. Ia adalah perpaduan Delilah, Chartreuse hijau, Beethoven, khloral, dan John L. di masa jayanya.

Di kota-kota lain kau dapat berkeliling dan berdiam se­bagai orang asing selama yang kau suka. Kau dapat tinggal di Chicago sampai rambutmu memutih, dan menjadi warga dan tetap mengocehkan kacang polong jika Boston meng­asuhmu, dan tanpa diomeli. Kau dapat menjadi pilar sipil di kota lain manapun kecuali kotanya Knickerbocker, dan tanpa henti mengejek gedung-gedungnya di depan umum, mem­bandingkan mereka dengan arsitektur kediaman Kolonel Telfair di Jackson, Miss., darimana kau berasal, dan kau tidak akan diserang. Tapi di New York kau harus menjadi seorang New Yorker atau, kalau tidak, seorang penyerbu sebuah Troy modern, bersembunyi di dalam kuda kayu kedaerahanmu yang angkuh. Dan mukadimah suram ini hanya untuk mem­perkenalkanmu kepada sosok tak penting William dan Jack.

Mereka datang bersama-sama dari wilayah Barat, di mana mereka berteman. Mereka datang untuk menggali perun­tungan dari kota besar ini.

Bapa Knickerbocker bertemu mereka di feri, memberi pukulan right-hander di hidung kepada yang satu dan pukul­an upper-cut dengan tangan kirinya kepada yang lain, hanya untuk memberitahu mereka bahwa pertarungan sedang ber­langsung.

William datang untuk bisnis; Jack untuk Seni. Keduanya muda dan ambisius; jadi mereka menangkis dan berpiting. Aku menduga mereka dari Nebraska atau mungkin Missouri atau Minnesota. Bagaimanapun, mereka pergi untuk sukses dan receh dan gepok, dan mereka menekel kota ini, bagaikan dua Lochinvar, dengan knuckle kuningan dan satu tarikan di Balai Kota.

Empat tahun kemudian William dan Jack bertemu di acara makan siang. Si pebisnis muncul tiba-tiba seperti angin Maret, melempar topi suteranya ke seorang pelayan, duduk di kursi yang digeserkan untuknya, merenggut daftar menu, dan memesan sampai ke keju sebelum si seniman sempat berbuat lebih dari mengangguk. Setelah anggukan itu, senyum jenaka masuk ke matanya.

“Billy,” ujarnya, “kau sudah tamat. Kota ini sudah melahap­mu habis. Ia sudah mengambilmu dan memotongmu sesuai polanya dan mencapmu dengan mereknya. Kau sangat mirip dengan sepuluh ribu orang yang kulihat hari ini sampai tak bisa dibedakan dari mereka kalau bukan karena tanda cuci­anmu.”

Judul asli : The Duel ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Juli 2022
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Duel Dengan Kota

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)