“Kebiasaannya adalah mengepak dolar-dolar dalam kantong-kantong kecil berisi seratus dolar masing-masingnya. Entah berapa banyak kantong yang akan ditampung setiap peti. Banyak sekali. Jumlah yang lumayan pasti diangkut di atas kapal waktu itu.”

Buku KunoBacaan fiksi misteri
Di salah satu tumpukan inilah aku menemukan benda itu. Aku tak pernah tahu judulnya, sebab halaman-halaman pertamanya hilang; tapi itu terbuka di bagian akhir dan memperlihatkan sepintas sesuatu yang membuat panca inderaku oleng.

Silsilah KunoBacaan fiksi misteri
Yang dia cari dari kehidupan hanyalah tidak berpikir. Untuk suatu alasan, berpikir sangat menakutkan baginya, dan apapun yang menggerakkan imajinasi, darinya dia lari bagai wabah. Dia sangat kurus dan beruban dan keriput, tapi ada orang-orang yang mengatakan dia tidak hampir setua kelihatannya.

Jalan Tanpa NamaBacaan fiksi misteri
“Kau tahu, kita orang-orang Barat tak pernah tahu di mana harus berhenti. Kita menghancurkan atau dihancurkan. Aku sudah menggali rahasia terdalam peradaban-peradaban kuno itu, turun, turun, turun, ke dalam agama-agama mereka, pemikiran mereka, ide mereka.”

Penari GolgotaBacaan fiksi misteri
Mereka sedang melompat-lompat riang di sekeliling sebuah objek tengah—sebuah salib terbaring. Kepada salib ini sepasang makhluk merah muda—total jadi empat belas—berlutut dan mengayunkan palu atau godam yang terlihat seperti balok, memaku sesosok manusia.

Ada Hantu di SekolahBacaan fiksi misteri
Dia tidak suka tiga rekannya, dan dia tidak suka cara mereka mendekati apapun itu yang mereka hendak lakukan. Dia mundur satu atau dua langkah, seolah menarik diri.

Kutukan Buddha Mata SatuBacaan fiksi misteri
Suatu orang, atau suatu gerombolan, yang terkait dengan Kuil Buddha di Bhangapore, telah melacak delima terkenal itu sampai ke rumahku. Aku tahu orang-orang fanatik kuil akan berbuat apa saja untuk mendapatkan kembali mata Buddha.

Lot No. 249Bacaan fiksi misteri
Tiga menit lalu itu kosong. Dia bisa bersumpah untuk itu, sekarang itu membingkai tubuh kejur penghuni angkernya, yang berdiri suram dan dingin dengan wajah layu hitam terarah ke pintu.
