Skip to content
Ada Hantu di Sekolah – Relift Media

Cerita fiksi misteri Ada Hantu di Sekolah

Dia tidak suka tiga rekannya, dan dia tidak suka cara mereka mendekati apapun itu yang mereka hendak lakukan. Dia mundur satu atau dua langkah, seolah menarik diri.



Bart Setwick turun dari kereta di Carrington dan berdiri sejenak di peron stasiun, berwajah jujur, berpakaian rajut tweed. Kota kecil ini dan sekolah tersohornya akan men­jadi rumahnya untuk delapan bulan ke depan, tapi ke arah mana sekolahnya? Matahari sudah terbenam, dia hampir tak bisa melihat papan-papan tanda toko di seberang jalan utama Carrington yang sederhana.

Dia ragu-ragu, lalu sebuah suara lembut menyapa di siku tangannya.

“Kau mau ke sekolah?”

Terkaget, Bart Setwick berputar. Dalam cahaya senja ke­labu berdiri seorang pemuda lain, tersenyum tipis dan seolah menunggu jawaban. Si orang asing baru berumur sembilan belas tahun—itu artinya dewasa bagi Setwick belia, yang ber­umur lima belas—dan wajah pucatnya memuat garis-garis tajam. Tubuh jangkung ribetnya berbalut kaos leher tinggi dan pantalon ketat tak modis. Bart Setwick mengamatinya sepintas dengan mata sigap penaksir ala pemuda Amerika.

“Aku baru sampai,” jawabnya. “Namaku Setwick.”

“Namaku Hoag.” Terulurlah tangan yang lampai. Setwick menjabatnya dan ternyata itu dingin seperti kodok, dengan kesan otot-otot kawat baja. “Senang bertemu denganmu. Aku datang kalau-kalau ada yang akan turun dari kereta. Biar kuberi kau tumpangan ke sekolah.”

Hoag berbalik, ringan seperti kucing, terlepas dari semua kekakuannya, dan membawa kenalan barunya membeloki stasiun kayu mungil itu. Di belakang bangunan, setengah ter­sembunyi dalam bayangannya, bercokol sebuah kereta kuda lusuh dengan seekor kuda kapisa kurus dalam poros-poros­nya.

“Naiklah,” ajak Hoag, tapi Bart Setwick berhenti sejenak. Generasinya tidak biasa dengan kendaraan semacam itu. Hoag terkikih dan berkata, “Oh, ini cuma keisengan sekolah. Kami lari ke kebiasaan aneh. Naiklah.”

Setwick menurut. “Bagaimana dengan koporku?”

“Tinggalkan saja.” Si pemuda jangkung naik ke samping Setwick dan mengambil tali kekang. “Kau takkan membutuh­kannya malam ini.”

Dia membunyikan lidahnya dan si kuda kapisa pun ber­gerak menarik mereka memutar dan menyusuri jalan sam­ping yang dibatasi semak-semak. Ketukan kukunya teredam aneh.

Mereka berbelok, berbelok lagi, dan tiba di pedesaan ter­buka. Lampu-lampu Carrington, yang baru disulut berlatar­kan malam, tergantung di belakang seperti rasi yang turun ke Bumi. Setwick merasakan sedikit hawa dingin yang tidak pas untuk malam September.

“Berapa jauh sekolahnya dari kota?” tanyanya.

“Empat atau lima mil,” jawab Hoag dalam suara terdiam. “Itu disengaja oleh pihak para pendiri—mereka ingin mem­persulit para siswa pergi ke kota untuk bersenang-senang. Kami jadi terpaksa menggali hiburan kami sendiri.” Wajah pucatnya mengerut dalam senyum tipis, seolah-olah itu sendagurau. “Cuma ada beberapa orang malam ini. Ngo­mong-ngomong, buat apa kau dikirim?”

Setwick mengerutkan kebingungannya. “Ah, untuk seko­lah. Ayah mengirimku.”

“Tapi buat apa? Tidakkah kau tahu ini persiapan penjara kelas tinggi? Setengah dari kami adalah orang idiot yang perlu didorong-dorong, setengah lainnya adalah orang-orang yang kena skandal di tempat lain. Sepertiku.” Lagi-lagi Hoag tersenyum.

Setwick mulai tidak suka kawannya. Mereka melaju kira-kira satu mil tanpa bicara sebelum Hoag kembali bertanya:

“Apa kau suka ke gereja, Setwick?”

Si anak baru takut terlihat angkuh, jadi dia berlagak acuh tak acuh dengan, “Tidak terlalu sering.”

“Bisakah kau bacakan sesuatu dari Alkitab?” suara lembut Hoag mengesankan nada cemas.

“Soal itu aku tak tahu.”

“Bagus,” adalah jawabannya yang hampir sepenuh hati. “Seperti kubilang, cuma ada beberapa dari kami di sekolah malam ini—cuma tiga, persisnya. Dan kami tidak suka pe­ngutip Alkitab.”

Setwick tertawa, mencoba terlihat bijak dan sinis. “Bukan­kah Setan terkenal suka mengutip Alkitab untuknya sendiri—”

“Apa yang kau tahu tentang Setan?” potong Hoag. Dia berbalik penuh pada Setwick, mempelajarinya dengan mata gelap serius. Lalu, seolah menjawab pertanyaannya sendiri: “Cukup sedikit, kuduga. Apa kau mau tahu tentang dia?”

Judul asli : School for the Unspeakable ()
Pengarang : Manly Wade Wellman
Penerbit : Relift Media, Agustus 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Ada Hantu di Sekolah

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)