Skip to content
Kutukan Buddha Mata Satu – Relift Media

Cerita fiksi misteri Kutukan Buddha Mata Satu

Suatu orang, atau suatu gerombolan, yang terkait dengan Kuil Buddha di Bhangapore, telah melacak delima terkenal itu sampai ke rumahku. Aku tahu orang-orang fanatik kuil akan berbuat apa saja untuk mendapatkan kembali mata Buddha.



Sebagai seorang kolektor batu mulia, aku sangat tertarik pada delima agung dari Bhangapore, tapi tak terpikir sedikitpun bahwa aku bakal begitu mujur sampai memiliki­nya. Sebab itu adalah batu yang sakral bagi kaum Hindu, dan tertatah pada kening Buddha. Tapi itu ditawarkan padaku diam-diam. Rabindranath Kim membawanya ke rumahku di New York tak lama setelah aku kembali dari bepergian ke luar negeri. Aku membayar dia $400.000 untuk itu.

Saat Kim menyerahkan delima itu dalam kotak kecilnya, dia memperingatkanku untuk jangan pernah menyentuh­nya. Siapapun yang menyentuhnya akan mati, kata dia. Aku menertawakan ketakutan takhayulnya, tapi aku tak berke­inginan menguji kutukan tersebut.

Seminggu kemudian aku mengadakan makan malam untuk memamerkan tambahan baruku. Tamu-tamu adalah Tn. dan Ny. Jessop, bibiku Claire, Stephen Whitney, seorang kolektor saingan, dan sekretarisku, Sam Winship. Sebelum memperlihatkan delimanya, aku menceritakan kutukan itu kepada mereka.

Sam dengan hati-hati mengangkat delimanya. Sewaktu dia berbuat demikian, lampu-lampu jadi padam dan sebuah jeritan jahat membelah udara di atas kepala kami. Ketika lampu-lampu menyala lagi, tubuh Sam tergeletak di atas meja—mati membisu. Ada sebilah belati emas di pung­gungnya.

Whitney, dalam suara seraknya, berteriak bahwa hal itu mustahil. Untuk membuktikannya, dia mengangkat batu itu. Lagi-lagi ruangan jadi gelap, dan jeritan itu berbunyi keras. Lampu-lampu menyala sesaat kemudian, dan kami mene­ngok ke sana kemari dengan takut dan terbeliak.

Tubuh orang yang terbunuh tadi sudah raib! Dan belati yang menonjol dari punggungnya tertanam pada dinding di belakang Bibi Claire.

Whitney duduk tanpa terluka di kursinya, tapi delima itu ikut menghilang. Dia bilang dia menjatuhkannya ke atas meja, tapi kami tak temukan jejaknya.

Aku memanggil polisi. Detektif Sersan Moran tiba dan mendengarkan cerita kami dengan tak percaya.

Menitipkan para tamu kepada seorang petugas polisi, Moran membawaku menyertainya dan mulai menggeledah rumahku dari gudang bawah tanah sampai loteng. Kami tak menemukan sesuatu yang mencurigakan hingga kami tiba di gudang loteng tak berlampu yang paling kurang kupedulikan untuk dimasuki. Seorang paman orangtuaku bunuh diri di situ. Ketika Moran mencoba pintunya, itu seperti dikunci, padahal aku tahu tak ada kunci padanya. Kami berdua men­dorong pintunya, dan lantas itu terbuka jauh lebih mudah daripada yang kami duga. Ada suatu benda berat lunak ter­sandar padanya. Itu juga janggal. Sebab pintunya terbuka ke dalam, dan ruangan itu tak punya jalan keluar lain.

Baru ketika detektif mengeluarkan senter dan mengarah­kannya pada benda di pintu, kami menyadari apa yang kami temukan. Itu adalah tubuh sekretarisku yang tewas. Kami berdiri keheranan di sana, aku dan Detektif Sersan Moran; dan senternya, yang dipegang longgar di tangannya, me­mancarkan lingkaran cahaya putih kecil pada lantai.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu meminggir ke dalam ling­karan ini, dan aku merasa tak berdaya untuk menjerit atau bergerak. Itu bagai mimpi di mana seseorang mengalami bahaya hebat tapi tak sanggup melakukan upaya apapun untuk menjauhinya. Aku berdiri di sana bermimpi, tapi ter­jaga, menyaksikan dengan mata terpana seekor ular biludak bergelung yang waspada, kepalanya terangkat, siap mener­jang begitu ada gerakan. Aku mengenali biludak sebagai salah satu varietas India yang gigitannya tidak ada antidot­nya. Setetes saja bisanya menyebabkan kekakuan seketika dan gawat dalam ajal.

Jadi di ruangan di loteng rumahku di New York ini kami diancam dengan kematian sesaat dan seketika oleh seekor ular yang rumah aslinya berjarak dua belas ribu mil. Apakah mengherankan bahwa aku merasa seolah-olah dalam mimpi?

Apa yang sedang dilakukan ular ini di sini? Tangan jahat apa yang telah melepasnya ke sini? Jawaban datang seketika. Suatu orang, atau suatu gerombolan, yang terkait dengan Kuil Buddha di Bhangapore, telah melacak delima terkenal itu sampai ke rumahku. Aku tahu orang-orang fanatik kuil akan berbuat apa saja untuk mendapatkan kembali mata Buddha.

Judul asli : The Curse of the One-eyed Buddha ()
Pengarang :
Seri : Buddha Mata Satu #1
Penerbit : Relift Media, Juni 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Kutukan Buddha Mata Satu

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)