Ketika terdesak dari setiap parit lain, para trinitarian akan selalu bisa mempertahankan diri di atas prinsip yang sama seperti sekarang, dengan menyangkal bahwa trinitas yang mereka predikatkan pada esensi ilahi adalah sesuatu yang positif/tegas, melainkan hanya sebuah pemungkiran terhadap ketunggalan bilangan itu.

Keesaan Plural dalam Ketuhanan: Tanggapan Bani Israel dan Kristiani Non-YahudiBacaan nonfiksi religi
Karena peringatan Ilahi terhadap Politeisme diulang-ulang, penggunaan sebuah kata benda jamak dalam mengacu kepada Tuhan terkesampingkan seandainya Keesaan sederhana menyusun Ketuhanan. Pencampuran tunggal dan jamak dalam Kitab Suci adalah hasil sah dari Keesaan Plural.

Pendapat Cendekiawan Kristen Tentang Keesaan TuhanBacaan nonfiksi religi
“Pasal-pasal [akidah] paling esensial dari Kristen yang murni menurutku adalah keesaan Tuhan sebagaimana mestinya dan kemanusiaan Kristus sebagaimana mestinya. Keesaan Tuhan adalah doktrin yang ditekankan sebesar-besarnya dalam keseluruhan sistem wahyu.”

Tiada Kristen Tanpa Trinitas: Tiga Persona Ketuhanan yang EsaBacaan nonfiksi religi
Lantaran berbilangan jamak, nama Tuhan dalam bahasa Ibrani, “ELOHIM”, menyampaikan ide kejamakan persona dalam Ketuhanan, sebab akan bertentangan dengan seluruh maksud Kitab Suci jika dikatakan itu berarti kejamakan Tuhan-tuhan. Hanya ada satu Tuhan. Ini adalah doktrin yang diajarkan sepanjang Alkitab.

Tuhan Arya & Tuhan SemitBacaan nonfiksi religi
Kaum Semit tidak seperti bangsa-bangsa Arya, yang melihat esensi dewa-dewa mereka dalam fenomena alam seperti cahaya, hujan, guntur, dan kilat dan memberinya nama-nama dan gelar-gelar sebanding. Emosionalisme keagamaan kaum Semit yang lebih intens mempersepsikan Ketuhanan lebih sebagai kekuatan yang bekerja dari dalam.

Apa yang Dimaksud Ketuhanan Manusia?Bacaan nonfiksi filsafat
Tidak ada yang namanya keilahian yang terpisah dari entitas ilahi. Jika manusia bisa dikatakan memiliki kadar keilahian lebih besar atau lebih kecil di dalam diri mereka, bahasa ini tidak memiliki pengertian yang jelas, kecuali jika dimaksud bahwa mereka memiliki kadar tertentu Tuhan di dalam diri mereka.

Mikhail, Adam, Nuh Adalah Raja-raja Arya, Bukan Tokoh-tokoh SemitBacaan nonfiksi sejarah
Mereka memparodikan fakta-fakta historis dan karakter mulia Raja “Adam” agung, dengan menjadikan “Adam” sebagai manusia “ciptaan” rendah pertama, alih-alih manusia dan manusia super pertama yang pertama kali menciptakan manusia dari manusia-manusia Pra-Adamit.

Al-JiliBacaan nonfiksi religi
Al-Jili, seperti para Sufi dan mistikus lain, menyatakan kesatuan semua eksistensi, tapi memandang eksistensi sebagai dua jenis: Eksistensi Absolut, Ke-ada-an Murni, yakni Tuhan sebagaimana Dia dalam Diri-Nya sendiri; dan Eksistensi yang tergabung dengan non-eksistensi.
