Skip to content
Raja-raja Maya – Relift Media

Raja-raja Maya Bacaan non-fiksi filsafat

author _Occultus_; date _1930_ genre _Filsafat_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Mereka yang menjadi budak-budak Maya tidak bisa mengajarkan bagaimana meninggalkannya; mereka yang telah meninggalkannya tidak ada di sini; mereka sedang berlari, berlari, berlari untuk menemukan sebuah tempat di mana tidak ada pengaruh Maya. Roh dalam raga sering dinamakan jiwa terpenjara. Bumi ini sering disebut satu-satunya neraka sung­guhan yang ada. Kedua pernyataan ini berlaku pula pada manusia biasa. Manusia Disempurnakan tidak terpenjara oleh raga; eksil sukarela dari Nirvana, Jiwa Ruang, Dia tetap bebas meskipun Dia memakai raga untuk maksud-maksud-Nya sendiri. Aspek neraka Bumi tidak menyentuh-Nya, meski Dia hidup dan bersusah-payah di sini demi semua jiwa yang diperbudak di bumi. Kutukan jiwa-jiwa ini terletak dalam ketidaktahuan mereka tentang perbudakan mereka. Dengan begitu mereka menciptakan neraka mereka sendiri. Ketidaktahuan atau avidya ini adalah ilusi atau maya. Kita dapat katakan ada tiga jenis manusia: (1) mereka yang hidup di bumi dan tidak tahu bahwa mereka ada di neraka; (2) mereka yang mengenali bahwa kehidupan di bumi adalah keadaan pemenjaraan dan perbudakan; dan (3) mereka yang hidup di bumi tapi merdeka, tidak tersentuh oleh kekuatan magik—maya-shakti—yang membuat bumi jadi neraka. Golongan terakhir ini terdiri dari para Master yang telah menguasai semua rahasia warna, bunyi, bau, rasa, dan sensasi, dan menundukkan indera dan pikiran mereka sendiri. Kebanyakan manusia termasuk kepada golongan per­tama: pesona warna-warna dan corak-corak, pikatan bau-bau dan aroma-aroma, kualitas nada-nada dan bunyi-bunyi yang menghantui dan merasuki, kekuatan rasa-rasa, sensasi-sen­sasi, perasaan-perasaan, pikiran-pikiran yang memperbudak—semua memayahkan manusia lemah. Semakin dia meng­hiraukan mereka, semakin dia pergi dari dirinya sendiri. Dia kehilangan daya tahu miliknya sendiri dalam pemikiran dan ide orang lain, dan pemikiran dan ide ini begitu merantai pikirannya sehingga ia lupa berbalik ke arah Diri-nya. Dia menyelaraskan telinganya dengan bunyi-bunyi kedagingan dan nada jiwanya tidak didengar. Huru-hara warna-warna membutakannya dari warna wujudnya sendiri—ke banyak arah kehidupan indera, sampai perceraian terjadi antara jiwa dan kendaraannya, di mana kendaraannya menjadi medium pasif dan tempat penyimpan otomatis pengaruh-pengaruh luar. Semua medium cenderung ke arah yang berseberangan dengan kesempurnaan. Medium spiritualistik adalah bunga dan apoteosis dari mediumisme, secara umum, yang di dalamnya ras kita dibungkus. Untuk semua manusia ada tiga jalan. Pertama, jalan Maya yang membuat manusia tetap tertaut pada Maya, terikat pada kehidupan indera dan nafsu, hingga akhirnya meng­giring mereka melewati mediumisme ke kelupaan total akan jiwa atau diri. Mereka memeluk cangkang Maya dan diserap olehnya. Inilah mengapa jalan ini kadang dinamakan jalan Kemusnahan. Jalan kedua adalah jalan Peninggalan. Ini membangun­kan manusia sampai-sampai ingin menolak Maya dan melari­kan diri dari kepedihan Maya. Peninggalan tersebut mengha­silkan kemurnian dan kebahagiaan anak yang imut tapi jahil. Orang yang melarikan diri dari bayangan Maya dikejar oleh­nya. Manusia mungkin mencoba merasa bahwa mereka telah berhasil meninggalkan Maya; itu tak pernah meninggalkan mereka.
Judul asli : The Lords of Maya<i=1I0wN2kTS1iqHAOibom8EZMKFzjSnhflJ 134KB>The Lords of Maya
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Maret 2024
Genre :
Kategori : ,

Unduh