Skip to content
Dunia Ketuhanan: Tuhan dan Tuhan-tuhan – Relift Media

Dunia Ketuhanan: Tuhan dan Tuhan-tuhan Bacaan non-fiksi religi

author _Kaufmann Kohler_; date _1910_ genre _Religi_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Bahwa dalam politeisme, dualisme, atau trinitarianisme, salah satu kekuatan pasti membatasi atau mengaburkan kekuatan lain. Dengan cara ini Trinitas Kristen menggiring umat manusia, dalam banyak hal, ke penurunan standar kebenaran tertinggi, ke pelanggaran keadilan. Yudaisme berpusat pada konsepsi Tuhannya yang luhur dan sederhana. Ini mengangkatnya ke atas semua agama lain dan secara unik memuaskan kerinduan akan kebenaran dan kedamaian batin di tengah kesia-siaan dan perubahan eksistensi duniawi yang tak ada hentinya. Konsepsi Tuhan ini bertolak belakang dengan konsepsi kebanyakan agama lain. Tuhan Yudaisme bukan satu tuhan di antara banyak tuhan, bukan pula salah satu dari banyak kekuatan kehidupan, melainkan Tuhan Satu-satunya dan kudus yang tak ada bandingannya. Di dalam-Nya terpusat semua kekuatan dan esensi semua hal; Dia adalah Pencipta semua eksistensi, Pengatur kehidupan, yang meletakkan hukum-hukum yang dengannya manusia harus hidup. Seperti kata nabi kepada dunia pagan: “Tuhan-tuhan yang tidak menciptakan langit dan bumi, mereka ini akan binasa dari bumi dan dari kolong langit... Tetapi Dia yang menjadi Pusaka Yakub tidaklah demikian; karena Dialah yang mem­bentuk segala sesuatu... Tetapi TUHAN ialah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi bergoncang kerana murka-Nya dan bangsa-bangsa tidak dapat menanggung amarah-Nya.” Konsepsi Tuhan yang luhur ini membentuk esensi Yudaisme dan merupakan perisai dan ikat pinggangnya dalam pertandingan seumur hidup dengan berbagai bentuk paganisme. Sejak semula, Tuhan Yudaisme mendeklarasi­kan perang terhadap mereka semua, entah pada waktu tertentu bentuk yang berlaku adalah penyembahan banyak tuhan, atau penyembahan Tuhan berwujud manusia, penyimpangan kemurnian Tuhan melalui konsep-konsep inderawi, atau pembagi-bagian kesatuan/keesannya ke dalam bagian-bagian atau kepribadian-kepribadian berlainan. Perkataan Talmudik paling mencolok: “Dari Sinai, Gunung pengungkapan Tuhan yang esa, datang Sinah, permusuhan bangsa-bangsa terhadap orang Yahudi sebagai pemikul panji ide Tuhan yang murni.” Sebagaimana siang dan malam merupakan kontras alam, yang ditakdirkan oleh Tuhan, begitu pula monoteisme Israel dan politeisme bangsa-bangsa merupakan kontras spiritual yang tak pernah bisa direkonsi­liasikan. Dewa-dewa pagan, dan sampai taraf tertentu Tuhan trinitasnya Gereja Kristen, yang juga berakar semi-pagan, merupakan akibat dari tersesatnya jiwa manusia dalam men­cari Tuhan. Alih-alih menuntun manusia naik menuju ideal yang akan mencakup semua kehidupan materil dan moril dan mengangkatnya ke tahap kesucian tertinggi, paganisme membawa kepada kebejatan dan perselisihan. Sebab utama semangat tiada henti yang diperagakan oleh nabi dan pe­rumus hukum untuk melawan kemusyrikan adalah praktek-praktek amoral dan tak manusiawi bangsa-bangsa pagan—Kanaan, Mesir, Asyur, dan Babilonia—dalam penyembahan dewa-dewa mereka. Penuhanan kekuatan-kekuatan alam menyerang perasaan moral dunia pagan; tak ada keasusilaan yang terlalu buruk, tak ada pengurbanan yang terlalu kejam untuk kultus mereka. Baal, atau Molokh, dewa langit, menuntut pengurbanan seorang putera oleh ayahnya di masa kesukaran. Astarte, dewi kesuburan, menuntut “pengerama­tan” asal-usul kehidupan, dan ini dilakukan dengan pesta-pora seks paling mengerikan. Kekejian-kekejian tersebut ber­pengaruh menggiurkan pada suku-suku penggembala Israel di rumah baru mereka di Kanaan, dan dengan begitu mem­bangkitkan kemarahan amat dahsyat dari nabi dan perumus hukum, yang melempar botol amarah mereka terhadap ritus-ritus menggemparkan itu, berhala-berhala cabul itu, dan orang-orang itu yang “melacur pada mereka”. Jika Israel ingin dilatih menjadi kaum pendetanya Yang Esa di ling­kungan seperti itu, toleransi terhadap praktek-praktek demikian adalah mustahil. Maka Tuhan hukum Sinai disebut sebagai “Tuhan yang cemburu” yang menghukum tak henti-hentinya setiap pelanggaran terhadap hukum kesucian dan kekudusan-Nya. Kontras tajam monoteisme etik dan spiritual Yahudi juga tetap ada ketika itu berkontak dengan kebudayaan Yunani-Suriah dan Romawi. Di sini, juga, mitos dan adat-istiadat kultus dan agama populer menyakiti semangat suci kaum Yahudi melalui sensualitas kasarnya. Bahkan, mitos dan adat-istiadat ini lebih-lebih berbahaya bagi kemurnian kehi­dupan sosial, karena mereka dibajui dengan keindahan seni dan filsafat yang memikat. Orang Yahudi kemudian merasa­kan tugas yang lebih mendesak lagi untuk menarik garis demarkasi tajam antara Yudaisme beserta ibadah suci dan tanpa patungnya dan kehidupan paganisme amoral penuh birahi. Jurang lebar ini, yang menganga antara Tuhan Esa dan kudus-nya Israel dan tuhan-tuhan bangsa-bangsa, tidak ter­jembatani oleh Gereja Kristen ketika ia muncul di panggung sejarah dan memperoleh kekuasaan dunia. Sebab Kristen pada gilirannya mewarisi dengan lagi-lagi menyeret Tuhan ke dalam dunia indera, mengadopsi mitos-mitos pagan kelahi­ran dan kematian dewa-dewa, dan menyetujui penyembahan patung. Dengan cara ini ia sebetulnya menciptakan pluralitas tuhan-tuhan Kristen sebagai ganti panteon Yunani-Romawi; bahkan, ia menghadirkan sebuah keluarga tuhan mengikuti model agama-agama Mesir dan Babilonia, dan dengan begitu mendorong Tuhan yang senantiasa hidup dan Bapak umat manusia ke latar belakang. Tendensi ini belum pernah dijelaskan, bahkan oleh upaya-upaya beberapa pemikir ber­jiwa besar tertentu di kalangan bapa Gereja. Akan tetapi, Yudaisme, seperti biasa, bersikeras dengan kata-kata Deka­log yang melaknat semua upaya untuk melukiskan Tuhan dalam wujud manusia atau inderawi, dan di sepanjang ajaran-ajarannya digemakan suara Dia yang berbicara me­lalui si peramal Pengasingan: “Aku TUHAN, itulah nama-Ku. Aku tidak akan menyerahkan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung ukiran.” Ketika Musa datang kepada Firaun dan berkata, “Begini­lah firman TUHAN, Allah orang Ibrani, ‘Izinkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka dapat beribadat kepada-Ku,’ Firaun—demikian Midrash menceritakan—mengambil daftar dewa-dewanya, memeriksa itu, dan berkata, “Lihat, di sini disebut­kan satu persatu dewa-dewa bangsa-bangsa, tapi aku tak bisa menemukan Tuhan-mu di antara mereka.” Terhadap ini Musa menjawab, “Semua tuhan-tuhan yang dikenal dan familiar olehmu adalah makhluk, sebagaimana dirimu; mereka mati, dan kuburan mereka kelihatan. Tuhan Israel tidak memiliki kesamaan dengan mereka. Dia Tuhan yang hidup, sejati, dan abadi yang menciptakan langit dan bumi; tak ada kaum yang bisa menahan murka-Nya.” Petikan ini menyatakan dengan sangat mencolok perbedaan antara Tuhan Yudaisme dan tuhan-tuhan paganisme. Tuhan-tuhan paganisme hanyalah kekuatan-kekuatan alam yang diper­tuhankan, dan karena bagian dari dunia, mereka sendiri menyatu dengan alam, mereka tunduk pada kekuatan waktu dan nasib. Tuhannya Israel bersinggasana di atas dunia se­bagai Penguasa moral dan spiritualnya, satu-satunya Entitas yang bisa kita konsepsikan sebagai ada dengan sendirinya, sebagai tak terbagi-bagi seperti kebenaran itu sendiri.
Judul asli : God and the Gods<i=1Z3pWcSclzRLCAFnfqoPBzWmlUZIWdVjA 226KB>God and the Gods
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Oktober 2023
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Dunia Ketuhanan: Tuhan dan Tuhan-tuhan

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2023)