Skip to content
Kebun Berbisik – Relift Media

Kebun Berbisik

Ada kesamaran pada segala hal yang terlihat oleh mata: hutan bagaikan awan hijau besar, bunga-bunga tepi jalan, rumah-rumah petani yang sepi dan setengah tertelan kumpulan bunga kebun—semuanya seperti dalam mimpi.


Musim semi sekali lagi hadir. Seraya bernyanyi sendirian di hutan yang jauh, suaranya menggapai telinga-telinga kota, yang jemu dengan musim dingin panjang. Bakung-bakung berbunga di pintu masuk terowongan kereta bawah tanah, mobil-mobil van pengangkut furnitur merintangi jalan-jalan samping, anak-anak kecil berkerumun bagai bunga di ambang pintu, gerbong-gerbong terbuka menyala, dan teriakan “cash clo’” sekali lagi terdengar di daratan.

Ya, ini musim semi, kota mendambakan bunga-bunga lilak dan siulan sejuk burung-burung di pohon apel tua yang berkenjal, mengidamkan pohon dogwood yang menyala dengan kayu perak menebal, tetumbuhan air yang membentangkan gulungan mengkilap di kolam-kolam pagi nan segar.

Pada Minggu pagi, kereta keberangkatan biasanya dijejali peziarah penuh hasrat, bergegas keluar kota, demi menyaksikan keajaiban kuno musim semi sekali lagi; dan, pada Minggu malam, terminal kereta dihiasi spanduk bunga dari jarahan hutan dan kebun yang dibawa pulang oleh para peziarah, yang matanya masih menyorotkan keajaiban musim semi, yang di dalam telinganya musik peri masih bernyanyi.

Dan sambil menyaksikan tanda-tanda ekuinoks musim semi ini, aku sadar harus turut mengikuti iringan musiknya, meng­abaikan sejenak sirene indah yang disebut kota, dan dalam keheningan hijau berjumpa sekali lagi dengan Kesunyian kasihku.

Sementara kereta beranjak dari Grand Central, aku ber­senandung:

Aku punya gadis murni nan apik,
di tanah hijau nan resik.

Aku pun mengucapkan selamat tinggal pada kota, dan berangkat dengan hati berdebar untuk menemui musim semi.

Aku sudah dengar tentang pelosok yang nyaris terlupakan di pesisir selatan Connecticut, di mana aku dan musim semi dapat tinggal dalam kesunyian tanpa terusik—tempat yang tak dihuni kecuali oleh burung dan bunga, hutan dan rumput tebal, dan sesekali petani bisu, dan dirembesi hembusan dan kilauan Selat.

Rumor tersebut bukan bohong, sebab ketika kereta menurunkanku di tempat tujuan, aku melangkah menuju keheningan hijau terindah, kesunyian Sabat yang rindang, diselinapi oleh kereta yang melaju menjauh seredam mungkin karena takut merusak musim.

Setelah musim dingin di kota, diturunkan di pedesaan sepi memberi kesan remang-remang pada seseorang, bagai keheningan tersihir, keheningan yang mendengarkan dan menyaksikan, tapi tak pernah bicara, dengan telunjuk di bibir. Ada kesamaran pada segala hal yang terlihat oleh mata: hutan bagaikan awan hijau besar, bunga-bunga tepi jalan, rumah-rumah petani yang sepi dan setengah tertelan kumpulan bunga kebun—semuanya seperti dalam mimpi. Segalanya begitu tenang, begitu hijau luar biasa. Tak ada yang bergerak atau bicara, selain hembusan lembut angin musim semi yang menggoyang kuncup-kuncup muda ke langit yang tinggi nan sepi, atau sesekali seekor burung, atau selokan kecil yang ber­senandung di antara tanaman-tanaman rush yang berdesakan.

Meski dari rumah-rumah di sana-sini ada bukti penghuni manusia di hamparan hijau sunyi ini, tak seorangpun terlihat. Aku penasaran ke mana penduduk desa bersembunyi, semen­tara aku berjalan jam demi jam, melintasi ladang dan tanah dan pekarangan sepi, tapi tak menangkap wajah manusia. Jika kau mau menanyakan jalan, petani sama malunya dengan tupai, dan jika kau mengetuk pintu rumah, semua lengang seperti lubang kelinci.

Judul asli : The Haunted Orchard ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment