“Andai aku sekarang memiliki seribu dunia, aku akan memberikan semuanya demi satu tahun lagi, agar aku dapat mempersembahkan kepada Tuhan satu tahun pengabdian dan amal baik yang sebelumnya bahkan tak pernah kuniatkan.”

Dialog Raja Jin, Manusia, dan Bangsa HewanBacaan fiksi filsafat
Alkisah, sebuah kapal yang mengangkut 70 pedagang, perajin, dan cendekiawan dari berbagai negeri dan budaya kandas di Pulau Blasaghoun, dekat khatulistiwa. Pulau itu subur, dipenuhi mata air dan air mancur, pohon-pohon buah dan taman-taman yang bermekaran lebat.

Dialog Jiwa dan RagaBacaan fiksi filsafat
Satu demi satu dia ceritakan mimpi-mimpi semua yang tidur di jalan itu. Kadang dia berhenti untuk mencaci-maki raga karena bekerja buruk dan lambat. Jari-jari dinginnya menulis secepat yang mereka bisa, tapi jiwa tak peduli soal itu. Maka malam terus beranjak sampai jiwa mendengar kerincing dalam langkah kaki pagi jauh di langit Timur.

Demokrasi Sebagai AgamaBacaan nonfiksi filsafat
Baginya, demokrasi mencakup semua bahan esensial semua agama, dari semua masa dan tempat. Agama bukanlah satu set pernyataan yang harus diyakini, tapi sejenis kehidupan yang harus dijalani. Agama adalah jumlahan hubungan manusia dan aktivitas sosial kita di bawah hukum kasih.

Falasi Dalam Agama Baru H. G. WellsBacaan nonfiksi filsafat
Wells, seperti halnya James, bersikeras bahwa Tuhan pasti benar-benar personal, eksis di dalam lingkungan waktu, membantu umat manusia dalam perjuangannya ke atas, dan dapat diakses oleh manusia melalui apa yang James sebut “komuni penuh doa”.

Kemanusiaan dan Moralitas Sebagai Agama Baru Tanpa TuhanBacaan nonfiksi filsafat
Ketika kita katakan bahwa M. Comte telah menegakkan filosofinya menjadi sebuah agama, kata “agama” tidak boleh dipahami dalam pengertian yang biasa. Dia tidak mengubah sikap negatifnya terhadap teologi: agamanya adalah tanpa Tuhan.

Kesatuan di Tengah KeragamanBacaan nonfiksi filsafat
Bumi menggambarkan keselarasan dan kesatuan. Meski kita menemukan perbedaan-perbedaan besar di tempat-tempat berbeda, tidak ada tempat di mana kita memasuki dunia berbeda.

Manusia KerumunanBacaan fiksi filsafat
Dengan dahi di kaca, aku asyik meneliti gerombolan itu, ketika tiba-tiba tampaklah sebuah wajah (wajah pak tua jompo, umurnya 65 atau 70-an), sebuah wajah yang menahan dan sekaligus menyerap seluruh perhatianku, lantaran ekspresinya yang betul-betul aneh.
