author _James Hain Friswell_, author _James William Sullivan_, author _William Arthur B. Lunn_, author _dll_; date _1868_, date _1898_, date _1843_, date _dll_; genre _Filsafat_, genre _Religi_, genre _Psikologi_; category _Cerpen_, category _Esai_, category _Jurnal_; type _Nonfiksi_, type _Fiksi_ “Andai aku sekarang memiliki seribu dunia, aku akan memberikan semuanya demi satu tahun lagi, agar aku dapat mempersembahkan kepada Tuhan satu tahun pengabdian dan amal baik yang sebelumnya bahkan tak pernah kuniatkan.”

Dunia Sebagaimana Adanya dan Dunia Sebagaimana Semestinya

Oleh: Samuel Porter Jones Frank Stanton, penyair Georgia, berkata:
“Dunia tua tempat kita tinggal ini Sangat sulit dikalahkan; Setiap mawar berduri. Tapi bukankah mawar itu manis?”
Ini adalah dunia yang hebat tempat aku dan kau tinggal, saudaraku. Mungkin ada dunia-dunia lebih besar, lebih agung, dan lebih baik dari ini; tapi ini adalah dunia yang hebat. Gunung-gunungnya adalah pikiran Tuhan yang di­tumpuk; padang-padang rumputnya adalah pikiran Tuhan yang dihampar; sungai-sungainya adalah pikiran Tuhan yang bergerak; bunga-bunganya adalah pikiran Tuhan yang mekar; panen-panennya adalah pikiran Tuhan dalam roti; tetes-tetes embunnya adalah pikiran Tuhan dalam mutiara; dan, ke mana pun kita memandang, setiap benda terse­nyum balik kepada kita, dan berkata, “Aku hanyalah anuge­rah dari seorang Bapak murah hati kepada anak-anak-Nya yang bandel.” Ini bukan hanya dunia yang hebat, tapi orang-orang di dunia ini juga sangat manja. Tidak ada yang menyenangkan mereka. Dunia hari ini hanya mengingatkanku pada kelu­arga besar anak-anak manja. Lihat bankir tua itu, presiden sebuah bank senilai sepuluh juta dolar? Pukul tiga sore dia masuk ke kereta kuda landau-nya dan melaju di jalan. Dia berhenti di depan toko permen dan buah yang cantik, dan memesan beberapa permen dan buah paling langka untuk rumahnya. Tak lama kemudian, duduk di rumahnya yang bagai istana, dia melihat gerobak pengantar barang datang, dan dia menoleh ke anak-anaknya, dan berkata, “Anak-anak, kalau kalian pergi ke dapur, ayah kira kalian akan me­nemukan sesuatu yang kalian sukai. Ayah sudah memesan­kan beberapa barang bagus untuk kalian.” Hanya dua anak yang keluar dari ruangan. Tiba-tiba salah satu dari mereka kembali dengan permen di satu tangan dan buah di tangan lain, dan berkata, “Papa, untuk apa Papa membeli barang-barang tua ini? Tidak ada yang mau.” Anak itu perlu di­hukum keras. Tapi lihatlah pria desa tua itu berkendara ke kota dengan gerobaknya, membawa ayam dan telur untuk ditukar dengan kebutuhan rumahnya. Ketika dia hampir selesai berjual-beli, masih ada sekitar sepuluh sen yang harus dibayarkan kepadanya, dan dia kembali ke si peda­gang dan berkata, “Bungkuskan aku satu pon permen stik merah itu.” Permen itu masuk bersama bungkus-bungkus lain. Dia berkendara ke depan rumahnya, dan ketika dia mendekati rumah, setengah lusin anak kecil berambut pirang pucat berlarian keluar dan berkata, “Papa, apa yang Papa bawa untuk kami?” Dia membuka bungkusan permen, dan memberikan satu stik ke setiap anak kecil. Mereka pergi ke bawah pohon rindang, duduk di halaman rumput, saling memandang, dan berkata, “Kita punya papa terbaik di dunia ini. Lihat saja apa yang dibawanya untuk kita.” Anak-anak itu seharusnya tumbuh dewasa, dan ber­lipatganda dan memenuhi bumi. Mereka bersyukur. Di negara ini kita telah mencapai titik di mana kita tidak puas dengan apapun. Seseorang yang mendapat satu juta menginginkan satu juta lagi. Jika dia mendapat sepuluh juta, ia ingin sekaya Rockefeller. Dan kemudian dia ingin se­luruh dunia dipagari dan disediakan untuknya. Bagaimana jika seseorang sekaya Rockefeller? Apalah itu dibandingkan dengan Negara Bagian New York. Dan misalkan seseorang memiliki seluruh Negara Bagian New York, apalah itu di­bandingkan dengan saldo Amerika? Dan misalkan sese­orang memiliki seluruh Amerika Serikat, apalah itu di­bandingkan dengan saldo dunia? Dan misalkan seseorang memiliki seluruh dunia ini? Ah, kau bisa memasukkan dua dunia seperti itu ke dalam sakumu, dan pergi ke dog star1 dan menginap semalam, dan kau tidak akan punya cukup uang untuk membayar tagihan hotel. Semua ini bersifat perbandingan. Semakin banyak yang kita dapatkan, sema­kin banyak yang kita inginkan. Di Utah sana seorang pria menginginkan semua wanita di negara ini untuk dijadikan isteri. Beberapa pria tidak bisa akur dengan satu orang isteri, dan aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana mereka bisa akur dengan dua, apalagi empat, atau selusin. Semakin banyak yang kau dapatkan, semakin banyak yang kau inginkan. Tapi kebahagiaan dalam hidup ini ditemukan dalam pemantangan. Kebahagiaan dalam hidup ini ditemukan dalam kemoderatan absolut dalam segala hal. Berbahagia­lah orang yang tidak menginginkan banyak. Berbahagialah orang yang diberkahi dengan sedikit saja. Setiap orang menginginkan sedikit saja di dunia ini, dan dia tidak meng­inginkannya terlalu lama. Aku sangat senang dengan dunia ini! Ini benar-benar dunia terbaik yang pernah kutinggali. Dan dunia ini seribu kali lebih baik bagiku daripada aku baginya; tak ada keberatan atau keluhan dariku. Aku tak keberatan sama sekali. Aku seperti orang yang kedua kaki­nya terputus oleh kereta api. Mereka berkumpul, dan mulai berbelasungkawa kepadanya. Dia mendongak dan berkata, “Tuan-tuan, aku tak keberatan.” Aku tidak hanya memiliki seribu berkah besar untuk disyukuri, tapi aku juga memiliki banyak sekali hal, dalam arti negatif, untuk disyukuri. Aku bersyukur kepada Tuhan aku tidak berkaki bengkok. Hal tersulit di dunia adalah menikahkan pria berkaki bengkok. Gadis kota tidak mau menerimanya karena dirinya tidak bisa duduk di pangku­annya. Gadis desa tidak mau menerimanya karena dia tidak bisa menghalau rumput. Aku senang aku tidak terlahir berkaki bengkok. Aku senang aku tidak bermata juling. Dua pria juling bertemu di tikungan, dan mereka bertabrakan kepala. Yang satu terpental ke belakang dan berkata, “Me­ngapa kau tidak melihat ke mana kau berjalan?” Yang lain berkata, “Mengapa kau tidak berjalan ke mana kau meli­hat?” Aku bersyukur kepada Tuhan aku tak pernah memu­kuli siapapun; aku tak pernah mencuri apapun; aku tak pernah melakukan kejahatan yang membuatku ditangkap; sedangkan orang-orang lain, mungkin dalam godaan sama sepertiku, telah melakukan hal-hal itu. Dan ketika kita duduk dan merenungkan bukan hanya berkah-berkah yang telah kita terima, tapi juga banyak hal yang telah dijauhkan dari kita oleh rahmat Tuhan, kita seharusnya menjalani dunia ini dengan senyum syukur di wajah kita, di setiap langkah. Seorang pria memiliki dua tetangga. Salah satunya selalu menggeram. Dia bertemu dengannya suatu pagi, dan bertanya kepadanya, “Apa kabarmu?” Dia menjawab, “Hari ini tidak sesehat kemarin; dan kemarin pun tidak sesehat kemarin lusa. Dan jika aku tidak mati karena penyakit sece­patnya, aku akan mati kelaparan.” Dan dia bilang dirinya bergegas meninggalkan pria itu, lalu berbelok di sudut jalan dan bertemu tetangga satu lagi, dan berkata kepadanya, “Apa kabarmu pagi ini?” “Ha, ha, tidak pernah sebaik ini.” “Apakah keluargamu baik-baik saja?” “Ha, ha, baik-baik saja! Campak menyerang kami sepuluh hari lalu, dan sem­bilan anak-anak terjangkit campak, dan seekor anjing bakal tertawa melihat isteriku di antara anak-anak berbintik-bintik. Itu hal terlucu yang pernah kulihat.” Suatu kali aku bokek dan pergi menjual setelan terbaik yang kumiliki untuk membeli roti, dan mengesol sepatuku setengah tapak, dan malam itu seseorang mencuri sepatu­ku, dan keesokan paginya ada salju sedalam sepuluh inci, dan aku bangun dan menengok ke luar jendela, dan melihat seorang pria di atas gerobak tanpa kaki, dan aku berkata, “Aku lebih pilih punya kaki dan tanpa sepatu daripada punya sepatu tanpa kaki.” Aku suka orang yang terus maju tanpa menggeram. Dunia ini adalah dunia yang tak ber­syukur. Jika ada sesuatu yang harus kita pupuk untuk men­jadikan dunia ini sebagaimana mestinya, itu adalah sema­ngat bersyukur. Tidak ada semangat yang lebih terpuji di dunia ini selain semangat yang berterimakasih kepada Tuhan dan berterima kasih kepada sesamanya atas beribu-ribu kebaikan yang telah dilimpahkan kepadanya sepan­jang jalan. Satu hal lain; dunia ini tidak seperti yang semestinya, dalam hal hubungan keuangannya. Sepertinya sekarang setiap orang yang tak peduli moral mengejar dolar. Cara menyembunyikan kejahatan apapun di dunia ini adalah dengan menutupinya dengan dolar dan sen, dan kemudian kau tidak bisa melihat kesalahan apapun. Ketika zaman mulai sulit pada 1893, banyak orang baik ingin aku mem­bela mereka di bank. Aku membela mereka. Aku tidak tahu apa itu artinya, tapi kampret, aku tahu sekarang. Aku akan ambil resiko untuk menyatakan bahwa aku telah membayar empat puluh ribu dolar dalam lima tahun terakhir, mem­bela orang-orang, dan sekarang ketika seseorang datang kepadaku dan ingin aku membelanya, aku berkata, “Kam­pret, aku sendiri pasrah; aku tidak membela apapun.” Orang paling bodoh di negara ini adalah orang yang akan meneken namanya pada nota promes orang lain. Kalian para bankir tidak bertindak benar. Jika seseorang datang kepada kalian, dan ingin meminjam uang, kalian berkata kepadanya jika dia menuliskan sekian dan sekian di nota promesnya, kalian akan memberinya uang itu. Mengapa kalian tidak menuliskan sendiri di nota promesnya? Kalian mendapat bunga. Orang paling bodoh di Amerika Serikat saat ini adalah orang yang menumpulkan hati nuraninya dengan dolar dan sen. Dunia ini terlilit utang. Utang nasional, negara bagian, kotamadya, dan perorangan di negara ini tidak akan pernah terbayar. Mereka tidak berhitung untuk membayarnya. Mereka membayar bunga sampai mereka tidak sanggup membayarnya lagi, dan kemudian mereka bangkrut dan melakukan reorganisasi; dan sama sekali mustahil dunia membayar utang-utangnya; dan seharusnya tidak pernah timbul utang. Orang paling bodoh di negara ini adalah orang yang mau menanggung nota promes orang lain. Orang paling bodoh berikutnya adalah orang yang terlilit utang. Keinginan khayali kitalah yang membuat kita terlilit utang. Lalu kau melangkah ke dunia gereja; dan keadaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kita semua akan meng­akuinya. Kau boleh saja mencaci-maki gereja dan mener­tawakan para pengkhotbah, tapi aku ingin bilang padamu bahwa aku telah menyaksikan prosesi itu sampai aku tahu ini sungguhan; pria-pria dan wanita-wanita terbaik yang hidup di bumi ini, mereka yang betul-betul garam dunia2, adalah pria-pria dan wanita-wanita beriman yang memper­cayai firman Tuhan dan berbaris mengikuti alunan rahmat-Nya di gereja setiap hari. Misalkan kau pergi ke St. Louis, Kansas City, Chicago, dan New York, dan ke setiap kota di Union, dan menyerahkan komunitas tersebut kepada geng—yang tak disela, tak diganggu, dan tak dipengaruhi oleh orang-orang baik komunitas itu. Tidak akan lama lagi komunitas-komunitas ini akan jatuh ke dasar anarki dan kehancuran. Kau tahu, aku bersyukur kepada Tuhan atas setiap anggota gereja di kotaku. Ada beberapa anggota tak karuan, tapi aku bicara tentang anggota-anggota baik. Iblis sudah sangat menyusahkanku tentang anggota-anggota tak karuan di gereja. Suatu hari aku duduk tenang di rumah, mengobrol dengan isteriku. Aku berkata, “Isteriku, aku sudah mempelajari trik baru untuk mengelabui iblis.” Dia berkata, “Apa itu?” Aku berkata, “Dia menyusahkanku sam­pai hampir mati. Dia membawa seorang munafik tua dan berkata kepadaku, ‘Apa pendapatmu tentang dia?’ Ketika dia melakukannya, aku mengusulkan untuk membawa pak Broder Loveless di kota ini. Salah satu pria tua terbaik yang pernah Tuhan ciptakan, dan bertanya kepada iblis apa pendapatnya tentang dia. Dan iblis akan terpaksa pergi.” Kapanpun iblis membawa seorang munafik, kau bawa orang kelas satu, dan iblis.” Isteriku berkata, “Ada apa?” Aku berkata, “Kalau tidak, secepatnya. Dan jika kau tidak menemukannya, datangkan saja dari luar.” Kaum wanita adalah bagian terbaik dari gereja, tetapi para wanita baik membelanjakan lebih banyak uang untuk topi Paskah, dan pakaian setiap musim semi, daripada yang mereka berikan kepada Tuhan sepanjang tahun. Mereka akan berdandan dan berpakaian dengan gaya Paskah mereka, dan pergi ke gereja, duduk di kursi depan, dan bernyanyi,
“Haruskah Yesus memikul salib sendirian? Dan seluruh dunia melenggang bebas? Tidak, ada salib untuk setiap orang. Dan topi Paskah untukku.”

diterjemahkan dari: The World as it Goes,
So the World Goes: The Genius of the Boom,
The World as it Goes: The Patron & The Rival,
dll