“Kapten Connor dari Amerika,” kata Chandro, “saat mesinmu yang kau sebut pesawat itu jatuh di tengah-tengah kaum kami, kami menyambutmu. Kami hanya memintamu tidak coba melarikan diri dan memberitahu dunia luar di mana dan bagaimana kami hidup.”

“Kapten Connor dari Amerika,” kata Chandro, “saat mesinmu yang kau sebut pesawat itu jatuh di tengah-tengah kaum kami, kami menyambutmu. Kami hanya memintamu tidak coba melarikan diri dan memberitahu dunia luar di mana dan bagaimana kami hidup.”
Objek-objek itu pergi 90 derajat terhadap garis kedatangan mereka. Mereka pergi dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga mengecil menjadi bintik dan lenyap dari penglihatan dalam waktu tidak lebih dari enam detik.
Kami berhasil—dengan menanjak lebih cepat dari yang pernah kulihat pada pesawat! Seolah-olah pesawat menemukan arus udara ke atas yang besar! Kami dalam ketinggian permukaan tapi kami bertambah cepat!
“Aku...mendapati ternyata pasukan komunis tak bisa ditaklukkan! Aku...ingin mendesak kawan-kawanku sesama Amerika untuk menyerah dengan perang tak berguna ini! Aku...berbicara setulus hati...”
Dari luar negeri datang sebuah wabah menyeramkan...wabah dalam bentuk seorang penjahat ulung yang hanya dikenal sebagai Wabah Merah! Para pejabat pemerintah ditakdirkan untuk mati.
Proses itu harus dipakai secara hati-hati—tapi itu bukan sesuatu yang umum diburu mata-mata! Kenapa para pengomplot internasional tertarik pada curah hujan?
Pikiran ini ada dalam benakku ketika mataku memandang ke atas dan aku melihat penampakan paling menakjubkan yang pernah dilihat manusia. Andai saja itu bisa kuceritakan padamu saat aku melihatnya sendiri Kamis lalu.