Skip to content
Selamat Tinggal Rumah Ibuku – Relift Media

Selamat Tinggal Rumah Ibuku

Saat melewati ambang pintunya, rasanya aku meninggalkan sepotong ragaku di sana. Dengan mata berlinang aku menengok sekeliling, tapi tak ada siapapun di situ yang bisa menolongku. Tak ada siapapun di jalan, dan tak ada siapapun di ladang.



“Jadi,” tanya Bu Barberin, saat kami masuk, “apa kata kepala desa?”

“Kami tak menemuinya.”

“Hah! Kau tak menemuinya?”

“Tidak, aku bertemu beberapa teman di kafe Notre-Dame dan saat kami keluar, sudah terlambat. Jadi kami akan pergi lagi besok.”

Jadi Barberin sudah membuang ide tawar-menawar dengan pria pemilik anjing-anjing itu.

Dalam perjalanan pulang aku sempat bertanya-tanya apakah ini, kembali ke rumah, bukan muslihatnya, tapi per­kataannya barusan mengusir semua keraguanku. Karena kami harus pergi lagi ke desa besok untuk menemui kepala desa, sudah pasti Barberin tidak menerima syarat-syarat dari Vitalis.

Tapi terlepas dari ancaman-ancamannya, aku akan sudah menceritakan ketakutanku pada Bu Barberin jika aku berdua saja dengannya barang sebentar, namun sepanjang petang Barberin tak beranjak dari rumah, dan aku pergi tidur tanpa mendapat kesempatan itu.

Aku pergi tidur seraya berpikir akan memberitahunya besok.

Tapi esok harinya ketika aku bangun, aku tak melihatnya.

Sewaktu aku berlarian keliling rumah mencari-carinya, Barberin melihatku dan bertanya apa yang kuinginkan.

“Mama.”

“Dia pergi ke desa dan tidak akan kembali sampai sore.”

Dia tak bilang padaku tadi malam bahwa dia akan pergi ke desa, dan entah kenapa aku mulai merasa cemas. Kenapa dia tak menunggu kami, jika kami akan pergi sorenya? Akankah dia kembali sebelum kami berangkat?

Ketakutan samar mencengkeram hatiku; entah kenapa aku mulai merasakan bahaya.

Barberin menatapku dengan cara yang tidak menenang­kanku.

Untuk melepaskan diri dari tatapannya aku lari ke kebun.

Kebun kami berarti banyak buat kami. Di situ kami me­nanam hampir semua yang kami makan—kentang, kubis, wortel, lobak, kecuali gandum. Tak ada lahan disia-siakan, tapi Bu Barberin memberiku sebidang kecil khusus untukku, di mana aku menanam pakis dan herba yang kucabut di lajuran pada pagi hari sewaktu mengurus sapi, dan yang kutanam kembali acak-acakan, satu di samping yang lain, pada sore hari.

Tentu saja itu bukan kebun indah dengan jalur-jalur ber­lapis pasir dan petak-petak bunga yang terbelah sepanjang garis, kaya akan bunga-bunga langka; mereka yang melintasi jalan setapak tidak berhenti untuk menengoknya ke atas pagar tanaman duri yang dibabat sampai ke kandang sapi, tapi meski begitu, ia punya nilai dan daya tarik ini: ia milikku. Ia kepunyaanku, kekayaanku, karyaku; aku mengaturnya sesuai yang kuinginkan, menuruti kemauanku, dan saat aku menyebutkannya, yang terjadi dua puluh kali sehari, aku menyebutnya “Kebunku”.

Pada musim panas lalu aku memetik dan menanam koleksiku, jadi pada musim semi mereka pasti bermunculan dari tanah, tipe dini yang tak harus menunggu berakhirnya musim dingin, disusul berturut-turut oleh yang lain.

Makanya rasa penasaranku benar-benar tergerak saat ini.

Bunga-bunga jonquil sedang berpucuk, ujung-ujungnya menguning; bunga-bunga lilak sedang menjulurkan tangkai-tangkai kecil berbintik ungu; dan dari tengah-tengah kerut­nya daun bunga-bunga primrose bermunculan pucuk-pucuk yang tampak siap untuk mekar.

Bagaimana mereka akan mekar?

Karena inilah aku datang setiap hari dengan rasa pena­saran.

Tapi ada satu bagian lain dari kebunku yang kuawasi dengan perasaan lebih hidup ketimbang penasaran, yaitu sejenis ketidaksabaran.

Di bagian kebun ini aku menanam sayuran pemberian seseorang, sayuran yang hampir tak dikenal di desa kami: articok Yerusalem. Aku dengar itu lezat, lebih enak dari kentang, sebab memiliki gabungan rasa articok Prancis, kentang, dan lobak. Setelah mendengar ini, aku meniatkan­nya sebagai kejutan untuk Bu Barberin. Aku tak menyebut-nyebut sedikitpun tentang hadiahku ini. Aku menanam mereka di bidang kebunku sendiri. Ketika mereka mulai bertunas, aku akan membiarkannya mengira mereka adalah bunga, lalu suatu hari nanti ketika mereka matang, selagi dia pergi, aku akan mencabut mereka dan memasaknya sendiri. Bagaimana caranya? Aku tak cukup yakin, tapi aku tak me­risaukan detil kecil seperti itu; terus saat dia pulang untuk makan malam, aku akan menghidanginya masakan articok Yerusalem!

Judul asli : The Maternal House
La Maison Maternelle
()
Pengarang :
Seri : Petualangan Rémi #4
Penerbit : Relift Media, Maret 2022
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Selamat Tinggal Rumah Ibuku

  • Unduh

    Selamat Tinggal Rumah Ibuku

  • Unduh

    Selamat Tinggal Rumah Ibuku

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)