Skip to content
Teka-teki Kereta 17:28 – Relift Media

Teka-teki Kereta 17:28

Kau bisa perhatikan bahwa dalam ketergesaannya, saat dia menempatkan revolver di tangan mayat agar terlihat sebagai kasus bunuh diri, dia menaruhnya persis sebagaimana dia sendiri mengambilnya dari saku.



Waktu itu tepat jam 17:32 Jumat malam, 9 Desember, ketika kepala stasiun di Anerley menerima komuni­kasi kawat berikut ini dari pos persinyalan di Forest Hill:

17:28 dari London Bridge baru saja lewat. Satu kompartemen kelas satu gelap total. Selidiki.


Berhubung dua stasiun, Sydenham dan Penge, terletak di antara Forest Hill dan Anerley, dalam keadaan biasa pesan pos persinyalan ini akan sudah dikirim ke salah satu dari mereka, Forest Hill atau Anerley; tapi kebetulan kereta 17:28 dari London Bridge ke Croydon adalah kereta khusus, yang tidak berhenti sebelum stasiun Anerley dalam proses perjalanannya, akibatnya petugas persinyalan tak punya pilihan selain bertindak sebagaimana dia lakukan.

“Kabelnya lumer, kurasa, atau filamennya terbakar habis. Itulah jeleknya lampu listrik,” komentar kepala stasiun ketika menerima komunikasi itu. “Carikan pelita dari ruang lampu, Webb. Mereka harus betah dengan itu sampai Croydon. Cepat. Keretanya akan tiba sebentar lagi.” Lalu dia memungut sebuah lentera (selain kabut, salju rintik-rintik turun sekitar satu jam sebelumnya, alhasil petang itu gelap dan sangat tak nyaman) dan menyeberang lewat terowongan menuju peron bawah untuk bersiap-siap dengan kedatangan kereta, yang sedikit kesulitan melaju, karena kebetulan hari itu seorang selebritas lokal habis menghibur Lord Mayor yang baru terpilih, dan akibatnya peron atas dan peron bawah sama-sama penuh sesak tak seperti biasanya untuk musim dan jam begini.

Segera saja pada 17:42, jadwal jam kedatangannya, kereta muncul menghentak-hentak rel berlapis salju dari Penge, dan melakukan perhentian pertama sejak ia berangkat. Ia berjubel sampai nyaris bikin sesak seperti biasa, dan seketika stasiun tersumbat. Jauh di bagian peron yang lowong, Webb si portir, yang kini sudah bergabung dengan kepala stasiun, melihat satu jeda dalam barisan panjang jendela-jendela bercahaya terang, dan mereka berdua cepat-cepat ke sana, masing-masing dengan lentera menyala di tangannya.

“Ini dia. Nah, coba kita lihat apa masalahnya,” kata kepala stasiun, sementara mereka sejajar dengan kompartemen tanpa penerangan itu, di mana, yang membuatnya heran, tak seorangpun mencondong keluar dan “rewel” soal itu. “Seolah-olah kosong, walau itu sama sekali tidak mungkin di dalam kereta berjubel seperti kereta 17:28. Halo! Pintunya terkunci. Dan ada label ‘Sedang Dipakai’ pada jendelanya. Setan, ke mana kunciku? Oh, ini dia. Nah, coba kita lihat apa yang tak beres.”

Ada banyak yang tak beres, sebagaimana dia saksikan begitu membuka kunci pintu dan mendorongnya sampai terbuka—saat pertama lentara diangkat, penyebab kegelapan itu menjadi sangat gamblang. Bola kaca dangkal yang seharusnya berada di tengah langit-langit telah remuk, pecahan gerigisnya masih tergantung pada pengait, dan tiga bohlam listrik telah dicopot. Satu lirikan ke bawah, tampak­lah ketiga bohlam maupun pecahan bola remuk tergeletak di satu kursi, terbungkus sebagian dalam kain basah, dan di kursi satu lagi— Dia loncat dan teriak, dan mundur satu atau dua langkah dalam kondisi panik total. Sebab di pojok sana, dengan wajah tertuju ke lokomotif, sesosok orang mati setengah duduk setengah condong, dengan satu lubang peluru di antara kedua matanya, dan sepucuk revolver kecil berlapis nikel tergenggam kendor dalam jari-jari tekuk di satu tangan yang lemas tak bernyawa.

Itu adalah jasad seorang pria yang umurnya tidak mungkin lebih dari 38, paling jauh, seorang pria yang tak salah lagi semasa hidupnya lebih dari tampan biasa. Rambut dan kumisnya terang, pakaiannya sangat elegan dari segi bahan maupun gaya, dia tak mengenakan perhiasan jenis apapun, kecuali sebuah cincin emas polos pada jari keempat tangan kiri, kakinya bersepatu bot kulit perlak, pada rak di atas kepala tersimpan sebuah topi sutera mengkilap gaya terbaru, sebuah tongkat jalan kayu jeruk, dan sepasang sarung tangan suede kelabu. Sehelai koran sore terletak di antara kedua kakinya, terhampar, seakan-akan habis dibaca, dan pada lubang kancingnya ada satu anggrek ungu muda dengan keindahan dan kehalusan istimewa. Jasadnya sen­dirian di kompartemen, dan tak ada sekeping bagasi macam apapun.

“Bunuh diri,” teguk si kepala stasiun yang kaget begitu dia menemukan kekuatan untuk berkata-kata; lantas dia buru-buru membanting dan mengunci kembali pintunya, menyuruh Webb berjaga di depannya, dan lari memberitahu masinis dan mengirim kabar kepada kepolisian setempat.

Judul asli : The Riddle of the 5.28 ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Teka-teki Kereta 17:28

  • Unduh

    Teka-teki Kereta 17:28

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)