Skip to content
Mimpi Tangan Merah – Relift Media

Mimpi Tangan Merah Cerita fiksi filsafat

author _Bram Stoker_; date _1894_ genre _Filsafat_; category _Cerpen_; type _Fiksi_ Aku lari membawa rasa bersalah sia-sia yang tak sanggup kupikul. Ah! Tuan, kau yang belum pernah berbuat dosa seperti itu tidak tahu bagaimana rasanya membawa-bawanya bersamamu. Opini pertama yang kudapat mengenai Jacob Settle adalah sebuah pernyataan deskripsi sederhana. “Dia orang yang gundah-gulana.” Tapi ternyata itu menampung pemikiran dan pendapat semua rekan buruhnya. Dalam ungkapan tersebut terdapat toleransi ringan tertentu, ketiadaan perasaan positif apapun, ketimbang opini lengkap, yang secara akurat menandai kedudukan orang ini dalam penghormatan publik. Tapi tetap ada suatu perbedaan antara ini dan penampilannya yang tanpa sadar membuatku berpikir, dan sedikit demi sedikit, dengan semakin banyak orang dari kedudukan tersebut dan para buruh yang kutemui, aku jadi punya ketertarikan khusus padanya. Dia, ternyata, selalu berbuat kebaikan, tidak membelanjakan uang di luar kemampuan sederhananya, kecuali dengan bermacam-macam pertimbangan dan kesabaran dan penahanan diri yang merupakan amal hidup lebih hakiki. Kaum wanita dan anak-anak mempercayainya secara mutlak, tapi anehnya dia agak menghindari mereka, kecuali ketika ada orang yang sakit, dan karenanya dia menampakkan diri untuk menolong kalau sanggup, dengan malu-malu dan canggung. Dia menempuh kehidupan menyendiri, mengurus rumahtangga sendiri di sebuah pondok kecil, atau lebih tepatnya gubuk, yang terdiri dari satu ruangan, jauh di tepi tanah tegalan. Eksistensinya terasa begitu suram dan sunyi, sehingga aku berkeinginan menceriakannya, dan untuk tujuan itu aku mengambil kesempatan ketika kami duduk bersama seorang anak kecil, yang terluka olehku tanpa sengaja, untuk menawarinya pinjaman buku-buku. Dengan senang dia menerima, dan saat kami berpisah dalam kelabu fajar, aku merasa suatu rasa saling percaya telah terbangun di antara kami. Buku-buku selalu dikembalikan dengan sangat hati-hati dan tepat waktu, dan lambat-laun aku dan Jacob Settle berteman. Satu atau dua kali saat melintasi tanah tegalan di hari Minggu, aku menjenguknya; tapi pada kesempatan seperti itu dia tampak malu dan tidak nyaman, jadi aku merasa malu untuk singgah. Dia tidak akan pernah, dalam keadaan apapun, datang ke kamar kosku. Suatu Minggu siang, aku sedang kembali dari jalan-jalan panjang keluar tegalan, dan saat melewati pondok Settle aku mampir di pintunya untuk mengucap “apa kabar?”. Berhubung pintunya tertutup, aku mengira dia sedang keluar, dan hanya mengetuk untuk formalitas, atau karena kebiasaan, tidak berharap mendapat jawaban. Tanpa dinyana, aku dengar suara sayup-sayup dari dalam, walau tidak dengar apa yang dikatakan. Serta-merta aku masuk, dan mendapati Jacob sedang berbaring setengah berpakaian di atas tempat tidurnya. Dia pucat pasi, dan keringat bergulir dari wajahnya. Kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram seprai seperti orang tenggelam yang berpegangan pada apa saja. Sewaktu aku masuk dia setengah bangkit, dengan sorot liar ketakutan di matanya, yang terbelalak dan terbengong, seolah baru didatangi sesuatu yang mengerikan; tapi ketika mengenaliku, dia merosot kembali ke atas dipan dengan isakan lega yang tertahan, dan memejamkan matanya. Aku berdiri di sisinya beberapa saat, satu atau dua menit yang sepi, sementara dia terengah-engah. Lalu dia membuka mata dan menatapku, tapi ekspresinya begitu putus asa dan sengsara sampai-sampai, sebagai seorang manusia hidup, aku lebih suka melihat raut ngeri terbeku tadi. Aku duduk di sampingnya dan menanyakan kesehatannya. Sesaat dia tidak menjawabku selain bilang dirinya tidak sakit; tapi kemudian, setelah mengamatiku, dia setengah bangkit pada sikunya dan berkata: “Terimakasih, tuan, tapi aku berkata yang sebenarnya. Aku tidak sakit, sebagaimana orang menyebutnya, meski Tuhan tahu ada penyakit lebih buruk daripada yang dokter ketahui. Aku akan cerita padamu, karena kau begitu baik, tapi aku percaya kau tidak akan menyebut-nyebut pikiran seperti ini kepada siapapun, sebab itu bisa membuatku semakin sengsara. Aku mengalami mimpi buruk.”
Judul asli : A Dream of Red Hands<i=1HLmsepNyY9_a6Eqrx6CHmlNkfQwivFwT 226KB>A Dream of Red Hands
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Oktober 2018
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Mimpi Tangan Merah

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2018)