Skip to content
Mati Lazim – Relift Media

Mati Lazim

Pikirkan bagaimana kami hidup seperti halnya bagaimana kami mati? Ya, ya; paling tepat dan—ehm—pantas. Mati penuh sesal? Ah ya, ya. Maafkan aku—aku bukan penguasa zamanku.


Gerobak tumbril menjadi yang terakhir dari deretan gerobak. Sebagian meninggalkan gerbang Conciergerie, sebagian tetap di situ. Yang lain-lain penuh, sementara di dalam sini Duc sendirian. Di awal percakapan ini tumbril tak bergerak, lalu ia bergulir pelan, dikawal Garda Nasional menerobos kerumunan kisruh menuju tempat tujuannya di Place Louis Quinze (Place de la Revolution). Waktu kejadian adalah tengah hari cerah di masa Pemerintahan Teror.)

Duc: Sendirian! Aku memang mujur sampai akhir. Padahal mereka berdempetan seperti ikan dalam ember—dan kebetulan setiap orang bersebelahan dengan musuh beratnya, atau paling tidak dengan suami sahabatnya! Para bajingan ini tak punya perhitungan. Ah, ada yang datang! Biar bagaimanapun aku pasti dapat teman. Perempuan juga—sial! (Seorang nyonya dibantu masuk tumbril. Duc bangkit, membungkuk, dan kaget.) Marquise! (Nyonya itu merosot ke bangku.) Kau di sini! (Dia menghirup tembakau dan menggumam.) Buruk sekali! (Jeda dan menggumam lagi.) Bahkan dirinya! Terkutuk anjing-anjing itu!

Marquise: Aku—aku dengar kau kabur.

Duc: Ah, madame, aku tak berhak lagi mengharap keadilan darimu—hanya kemurahan. Lalu—maaf—Tn. Marquis?

Marquise: Dia—dia sudah pergi—

Duc: Ah ya, ya. Dia mendahului kita? Aku ingat sekarang. Ehm—aku turut berdukacita, Marquise. Tapi atas alasan apa kau—?

Marquise: Mereka bilang, sebagai isterinya, aku terlibat dalam rencananya dan dipercaya olehnya.

Duc: Sempit sekali dunia mereka! (Tersenyum.) Sebagai isterinya—dipercaya olehnya! Naif betul bangsat-bangsat itu! (Menatapnya.). Kurasa keberadaanku tidak menguntungkan.

Marquise: Tidak juga. (Dia mengulurkan sebuah kotak perak kecil.) Maukah kau pegangkan untukku? (Duc mengambilnya.) Kau boleh lihat. (Membukanya, Duc menemukan gincu pipi dan bantalan pemulas. Marquise tersenyum tipis.)

Duc: (Menutup kotak.) Demi kehormatanku, kau tak butuh ini pagi ini. Pipimu menampakkan gelora paling mempesona. Ah, kita jalan. (Marquise kaget.) Ya, ya, memang bergoyang keras. Tapi takkan kujatuhkan gincu ini.

Marquise: Apa ini akan lama?

Duc: Ini? (Mengangkat bahu.) Oh, sebentar saja—sebentar saja!

Marquise: Bukan, bukan—maksudku perjalanannya.

Duc: Ah, perjalanannya! Akan terasa pendek sekarang. Sebelum kau datang, aku takut bosan—meski kerumunan itu cukup menghibur. Lihat pria itu! Kenapa dia mengacungkan tinju ke arahku? Dia bukan rumpunku, bahkan bukan dari provinsiku. (Tersenyum pada kerumunan dan duduk di samping Marquise.) Kau agak pendiam. Ah, aku ingat, aku ingat sekarang! Waktu kita berpisah terakhir kali, kau bersumpah takkan pernah menyapaku lagi.

Marquise: Harusnya.

Duc: Hal-hal yang kita pikir tak seharusnya dilakukan mencakup semua hal paling menyenangkan.

Marquise: Kau menyanjung dirimu sendiri, monsieur. Aku serius dengan ucapanku waktu itu, tapi zaman berubah.

Duc: Keyakinan, ya! Zaman, lebih dari aku.

Marquise: Lebih darimu? Ah, zaman berubah-ubah!

Duc: Dan perubahannya lebih menyengsarakan daripada perubahanku.

Judul asli : La Mort À La Mode ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment