Skip to content
Mata-mata – Relift Media

Mata-mata

Bagiku keadaan ini sulit dimengerti, bahwa tanpa terdengar teriakan oleh satupun tamu, pembunuhan dapat dilakukan di sebuah hotel padat di mana kamar-kamar di setiap sisi telah berpenghuni dan orang berlalu-lalang di koridor sepanjang waktu.


“Craig, kau lihat lelaki dekat meja itu, yang sedang bicara dengan resepsionis malam?” tanyaku pada Kennedy suatu malam sambil berjalan santai ke dalam lobi Hotel Vanderveer usai meminta kembali topi kami dari plutokrat yang memegang hak pemeriksaan. Kami habis makan malam di taman atap Vanderveer tanpa keperluan apa-apa selain hasrat untuk berkenalan dengan hotel baru.

“Ya,” sahut Kennedy, “kenapa dengannya?”

“Dia detektif hotel, namanya McBride. Mau menemuinya? Dia punya banyak cerita bagus, orangnya menarik. Beberapa waktu lalu kami bertemu di sebuah makan malam yang diadakan untuk Presiden. Dia menuturkan bagaimana dinas rahasia, kepolisian, dan hotel bersatu untuk menjaga Presiden selama makan malam. Kau tahu, hotel besar adalah tempat favorit segala macam orang aneh dan brengsek.”

Detektif hotel itu berpaling dan menangkap sorot mataku. Tak dinyana, dia maju menghampiri.

“Hai—ehm—ehm—Jameson,” sapanya, akhirnya ingat namaku, meski kami baru bertemu satu kali dan tidak lama. “Kau kerja di koran Star, bukan?”

“Ya,” jawabku, penasaran apa yang dia mau.

Well—ehm—kira-kira apa kau bisa sedikit—ehm—mem­bantu hotel ini?” tanyanya, bimbang dan menurunkan suara.

“Ada apa?” selidikku, tidak begitu yakin tapi kurasa itu upaya terselubung untuk memperoleh iklan gratis kecil-kecilan untuk Vanderveer. “Ngomong-ngomong, McBride, perkenalkan ini temanku, Kennedy.”

“Craig Kennedy?” bisiknya pelan, cepat-cepat menoleh padaku. Aku mengangguk.

“Tn. Kennedy,” seru si orang hotel penuh hormat, “apa kau sibuk sekarang?”

“Tidak juga,” sahut Craig. “Barusan temanku Jameson bilang kau punya kisah menarik tentang kehidupan detektif hotel. Aku ingin dengar sebagiannya, kalau kau tidak terlalu—”

“Mungkin kau mau melihatnya langsung?” potong si detektif hotel, antusias mengamati wajah Craig.

“Tentu, aku akan senang sekali. Soal apa itu—‘penipu’ atau ‘ronda’ hotel?”

McBride menengok sekeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar. “Bukan dua-duanya,” bisiknya. “Entah bunuh diri atau pembunuhan. Ikut ke atas denganku. Saat ini tak ada orang di dunia ini yang ingin kutemui selain kau, Tn. Kennedy.”

Kami mengikuti McBride ke dalam elevator yang dia hentikan di lantai 15. Diawali anggukan kepada seorang gadis muda, resepsionis di lantai tersebut, sang detektif hotel memimpin jalan menyusuri lorong berkarpet tebal, berhenti di sebuah kamar yang lampunya memancar keluar jendela loster di atas pintu. Dia menarik seikat kunci dari saku, lalu memasukkan kunci induk ke dalam dudukannya.

Pintu berayun terbuka ke ruang duduk berperabot mewah. Aku menengok ke dalam, setengah takut. Tapi walaupun semua lampu dinyalakan, ruangan tersebut kosong. McBride langsung melintasi ruangan, membuka pintu sebuah kamar tidur, dan menyentak kepalanya ke belakang dengan gerak cepat, menandakan agar kami ikut.

Sosok seorang wanita tergolek tak bernyawa di atas tempat tidur apik berlapis seprei linen putih. Wanita ini cantik, meski tidak menampakkan kesegaran yang membuat kaum hawa Amerika begitu menarik. Ada kesan tak alami dari kecantikan­nya, ketidakalamian yang mengisyaratkan cerita rahasia seorang wanita dengan masa lalu tertentu.

Dia orang asing, kelihatannya dari ras Latin, walaupun aku tak mampu menebak kebangsaannya di depan kengerian tragedi ini. Sudah cukup bagiku di sini terbaring seorang wanita cantik dingin, keras, kaku, berbalut gaun teranyar Paris, sendirian di kamar berperabot elegan, di sebuah hotel eksklusif di mana ratusan tamu riang sedang makan malam, berceng­kerama, dan tertawa-tawa tanpa menyangka adanya rahasia seram beberapa kaki dari mereka.

Judul asli : The Unofficial Spy ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment