Skip to content
Kisah Penghuni Taman – Relift Media

Kisah Penghuni Taman

Dia bilang, ketakutan yang dialaminya waktu itu jauh lebih buruk daripada bagian lain dalam mimpinya, dan andai aku tak membangunkannya dia tak tahu akan seperti apa nasibnya.


Tn. dan Ny. Anstruther sarapan di ruang tamu Westfield Hall, kabupaten Essex. Mereka sedang menyusun rencana untuk hari ini.

“George,” kata Ny. Anstruther, “kupikir sebaiknya kau bawa mobil ke Maldon, cari barang-barang rajutan yang pernah kubicarakan, untuk stanku di bazar.”

“Oh, well, kalau maumu begitu, Mary, tentu saja aku bisa melakukannya, tapi aku ada rencana jalan-jalan dengan Geoffrey Williamson pagi ini. Bazarnya masih Kamis pekan depan, bukan?”

“Apa hubungannya dengan itu, George? Pasti kau mengira, kalau aku tak mendapat barang-barang di Maldon, aku akan menulis surat ke segala macam toko di kota, dan mereka pasti mengirimkan sesuatu yang harga atau kualitasnya tidak cocok. Kalau kau sudah buat janji dengan Tn. Williamson, lebih baik kau tepati, tapi seharusnya beritahu aku dulu.”

“Oh bukan, bukan, bukan janji. Aku mengerti maksudmu. Aku akan pergi. Terus kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?”

“Ah, setelah membereskan pekerjaan rumah, aku harus menata taman mawar baruku. Ngomong-ngomong, sebelum berangkat ke Maldon, kuharap kau ajak Collins melihat-lihat tempat yang kupilih. Kau pasti tahu.”

Well, aku tidak begitu yakin, Mary. Di ujung atas, kan, ke arah desa?”

“Ya ampun, George, sayang, bukan. Kukira sudah kujelaskan. Bukan itu, tapi bukaan hutan kecil di pinggir jalan setapak bersemak ke arah gereja.”

“Oh, iya, tempat yang dikira pernah ada rumah musim panas, yang ada kursi tua dan tiang-tiangnya itu. Tapi apa kau pikir sinar mataharinya cukup di sana?”

“George, bicaralah yang masuk akal, jangan bebani aku dengan ide rumah musim panasmu itu. Ya, akan ada banyak sinar matahari setelah kita membuang beberapa semak box. Aku tahu apa yang mau kau katakan. Seperti halnya kau, aku pun tidak ingin menggunduli tempat itu. Aku cuma ingin Collins menyingkirkan kursi-kursi lama, tiang-tiang, dan lainnya sebelum aku ke sana satu jam lagi. Setelah makan siang, kurasa aku akan meneruskan sketsa gereja. Kalau kau suka, kau boleh pergi ke lapang golf, atau—”

“Ah, ide bagus—bagus sekali! Ya, kau selesaikan sketsanya, Mary, sementara aku akan senang dengan satu ronde.”

“Aku ingin bilang, kau bisa mampir di tempat Uskup. Tapi sepertinya percuma memberi usulan. Sekarang bersiap-siaplah, atau kau akan kehilangan separuh pagi.”

Wajah Tn. Anstruther, yang sempat memperlihatkan gejala memanjang, kini memendek lagi. Dia pun bergegas keluar ruangan dan terdengar memberi perintah di lorong. Ny. Anstruther, wanita anggun lima puluh musim panas, beranjak menunaikan pekerjaan rumah setelah memeriksa surat-surat pagi.

Dalam beberapa menit, Tn. Anstruther sudah mendapati Collins di rumah kaca. Mereka pun pergi ke lokasi proyek taman mawar. Aku tak tahu-menahu tentang kondisi yang paling cocok untuk kebun bibit ini. Tapi aku cenderung merasa bahwa Ny. Anstruther, meski biasa melukiskan dirinya sebagai “pekebun hebat”, belum terlalu paham dalam memilih tempat untuk tujuan tersebut. Tempat itu berupa bukaan hutan kecil dan lembab, dibatasi jalan setapak di satu sisi, dan semak box lebat, pohon salam, dan beraneka tumbuhan hijau di sisi lain. Tanahnya nyaris tak berumput dan agak gelap. Bekas kursi berkarat dan tiang ék tua dan bengkok dekat tengah-tengah bukaan membuat Tn. Anstruther menduga pernah ada rumah musim panas di situ.

Jelas Collins belum diberitahu soal niat nyonya rumahnya dengan bidang tanah ini. Dan begitu mengetahuinya dari Tn. Anstruther, dia tampak tidak antusias.

Judul asli : The Rose Garden ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment