Skip to content
Pembunuhan di Rue Morgue – Relift Media

Pembunuhan di Rue Morgue

Kepolisian dikacaukan oleh ketiadaan motif—bukan motif pembunuhan—tapi motif kekejian pembunuhan. Mereka juga dibingungkan oleh kemustahilan menyelaraskan suara-suara cekcok dengan fakta bahwa tak ada siapa-siapa di lantai atas.


Karakter jiwa yang diperbincangkan secara analitis umum­nya kurang dapat dianalisa. Kita hanya mengapresiasi pengaruhnya. Kita tahu, di antaranya, bahwa ia senantiasa menjadi sumber kegembiraan paling hidup bagi pemiliknya. Sebagaimana lelaki kekar bersukaria dengan kemampuan fisik­nya, gembira dengan gerak badan yang membuat otot-ototnya beraksi, demikian halnya kepuasan seorang analis dalam aktivitas moral yang terurai. Dia mendapat kesenangan dari pekerjaan paling sepele yang membuat talentanya bermain. Dia gemar akan enigma, konundrum, hieroglif; setiap solusinya memamerkan derajat kecerdasan yang terasa luar biasa bagi pemahaman biasa. Buah jerih-payahnya, yang dihasilkan oleh inti dan esensi metode, bahkan mengandung segenap hawa intuisi.

Daya pemecahan mungkin banyak diperkuat oleh studi matematis, dan terutama oleh cabang tertingginya yang, secara tak adil, hanya karena operasi retrogradenya, dinamakan sebagai analisa. Seolah itu paling unggul. Padahal menghitung bukanlah menganalisa. Seorang pemain catur, misalnya, melakukan perhitungan tanpa bersusah-payah menganalisa. Selain itu, permainan catur, dalam efeknya terhadap karakter mental, sudah salah dipahami. Aku bukan sedang menulis risalat, aku hanya memberi pendahuluan untuk sebuah cerita aneh melalui pengamatan acak. Oleh karenanya, akan kumanfaatkan kesempatan ini untuk menegaskan bahwa permainan dam menuntut daya intelek reflektif lebih tinggi ketimbang catur yang tak karuan. Dalam permainan catur, di mana bidak-bidak memiliki gerakan berlainan dan ganjil, dengan nilai beranekaragam dan berubah-ubah, yang rumit disalahpahami sebagai yang hebat. Di sini perhatian dikerah­kan. Jika ia kendor sekejap saja, terjadilah kelalaian yang mengakibatkan kerugian atau kekalahan. Langkah-langkah potensial tak hanya bermacam-macam tapi juga bersangkut-paut, resiko kelalaian berkali-lipat. Dalam sembilan dari sepuluh kasus, pemain yang lebih konsentrasi selalu menang daripada pemain yang lebih teliti. Dalam permainan dam, sebaliknya, di mana langkah-langkahnya unik dan tak banyak variasi, probabilitas ketidaktelitian berkurang, dan perhatian tak terlalu dikerahkan, keuntungan yang diperoleh kedua pihak diraih dengan ketajaman unggul. Agar lebih konkret, kita bayangkan sebuah permainan dam di mana bidak-bidak dikurangi menjadi empat raja, dan di mana tak ada kelalaian. Jelas, di sini kemenangan ditentukan (para pemainnya sederajat) hanya dengan pergerakan hati-hati, hasil dari pengerahan kepandaian yang kuat. Tanpa sumberdaya yang biasa, analis menceburkan diri ke dalam semangat lawannya, mengidentifikasi diri dengannya, dan tak jarang sekilas melihat metode-metode tunggal (anehnya terkadang sederhana) yang dapat dipakai untuk menyesatkan lawan ke dalam kekeliruan atau mendesaknya ke dalam salah perhitungan.

Permainan kartu sudah lama dikenal akan pengaruhnya terhadap daya kalkulasi. Entah kenapa orang-orang bertingkat intelektual tinggi sangat menggemarinya, seraya menghindari catur dan menyebutnya pandir. Sudah pasti, tak ada yang begitu menuntut daya analisa selain ini. Pemain catur terbaik di dunia Kristen mungkin memang terbaik; tapi kecakapan dalam permainan kartu mengimplikasikan kapasitas untuk berhasil dalam segala usaha penting di mana otak bergulat dengan otak. Saat aku bilang kecakapan, yang kumaksud adalah kesempurnaan dalam permainan yang meliputi pemahaman akan semua sumber keuntungan sah. Ini bukan cuma berkali-lipat, tapi berkali-bentuk, dan seringkali tersembunyi di antara ceruk-ceruk pikiran yang tidak bisa dimasuki oleh pemahaman biasa. Mengamati dengan penuh perhatian sama dengan mengingat jelas. Sampai sini pemain catur yang konsentrasi akan bermain bagus dalam permainan kartu; sementara aturan Hoyle (yang didasarkan pada mekanisme permainan belaka) dapat dipahami secara memadai dan umum. Dengan demikian, memiliki ingatan kuat, dan melangkah bermodalkan “buku” tersebut, merupakan poin-poin yang lazimnya diakui sebagai inti bermain bagus. Tapi keterampilan analis ditunjukkan dalam perkara-perkara di luar batas aturan belaka. Dalam diam dia melakukan banyak pengamatan dan penyimpulan. Begitu pula rekan-rekannya. Selisih perolehan informasi tidak terlalu bergantung pada keabsahan penyimpulan, tapi lebih pada kualitas pengamatan. Yang penting dia harus tahu apa yang hendak diamati. Pemain kita ini tidak membatasi diri, tidak pula menolak deduksi dari luar permainan hanya karena objeknya adalah permainan tersebut. Dia memeriksa wajah mitranya, membandingkannya dengan masing-masing lawan­nya. Dia mempertimbangkan cara penyusunan kartu di tiap tangan, seringkali menghitung truf demi truf, honor demi honor, melalui lirikan para pemegangnya kepada satu sama lain. Dia memperhatikan setiap perubahan raut selagi permainan berlangsung, menghimpun gagasan dari perbedaan ekspresi keyakinan, keterkejutan, kepuasan, atau kekecewaan. Dari caranya menarik kartu, dia menaksir apakah orang tersebut dapat menarik kartu suit berikutnya. Dia mengenali kartu yang dimainkan melalui serangan tipuan, dari suasana pelemparannya ke atas meja. Perkataan sambil lalu atau tak sengaja, jatuh atau terbaliknya kartu secara kebetulan, diiringi kegelisahan atau ketidakacuhan untuk menutupnya; peng­hitungan kartu, dengan urutan penyusunannya; rasa malu, bimbang, antusias, atau takut-takut—semua mengindikasikan kondisi sesungguhnya menurut persepsi intuitifnya. Dua atau tiga babak pertama setelah bermain, dia menguasai penuh isi setiap tangan, dan sejak itu dia meletakkan kartu-kartunya dengan presisi mutlak seakan para peserta lain telah membuka kartu mereka sendiri.

Judul asli : The Murders in the Rue Morgue ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment