Skip to content
Kesetiaan – Relift Media

Kesetiaan

Sebuah beban memberatkan jiwanya, sebuah keyakinan, sebuah kepastian bahwa hanya ada satu rahasia yang ingin dikubur seorang wanita bersama kematiannya. Pemikiran ini merasukinya, menyita pikirannya.


Dia sudah berpesan tak mau diganggu. Dia sudah mengunci pintu kamarnya.

Rumah sunyi sekali. Hujan turun terus-menerus dari langit yang kelam, tak ada pancaran cahaya, tak ada celah awan, tak ada harapan. Api kayu dinyalakan di perapian yang lapang, menerangi kamar mewah ini sampai sudut terjauhnya.

Dari pojok meja tulisnya wanita ini mengambil buntelan tebal berisi surat-surat, diikat rapat dengan benang kuat dan kesat. Ditaruhnya buntelan tersebut di atas meja di tengah-tengah ruangan.

Berminggu-minggu sudah dia melatih diri untuk apa yang hendak dilakukannya. Ada pertimbangan mendalam pada garis-garis wajahnya yang panjang, tipis, dan sensitif. Tangannya pun panjang, lembut, berurat biru.

Dengan gunting diputusnya tali pengikat surat-surat ter­sebut, melepas yang paling atas ke meja. Dalam gerak cepat dia mendorong-dorong jarinya di antara tumpukan, menghambur­kan dan membolak-balik sampai menutupi permukaan meja yang luas.

Di hadapannya terhampar amplop-amplop beragam ukuran dan bentuk, semuanya dialamatkan dengan tulisan tangan seorang lelaki dan seorang wanita. Setelah diminta, suatu hari sang lelaki mengembalikan surat-surat ini kepadanya, yang cemas terhadap berbagai kemungkinan. Waktu itu dia ber­maksud memusnahkan semuanya, suratnya sendiri dan surat sang lelaki. Empat tahun sudah berlalu, dan sejak saat itu dia hidup darinya—ditopang olehnya, menjaga semangatnya dari kebinasaan.

Tapi kini sudah tiba hari-hari di mana pertanda bahaya tak bisa lagi diabaikan. Dia tahu berbulan-bulan lalu, dirinya harus berpisah dari harta-karunnya, meninggalkannya. Dia takut akan timbulnya rasa sakit, kepedihan akibat ditemukannya surat-surat ini terhadap orang lain—terhadap orang yang dekat dengannya, yang kelembutan dan kesetiaannya telah menjadi­kannya sangat berharga.

Dengan tenang dia memilih satu surat secara acak dari tumpukan dan melemparnya ke dalam api yang menggemuruh. Surat kedua menyusul, hampir sama tenangnya. Sementara pada surat ketiga, tangannya mulai gemetar. Lalu, dalam gejolak emosi, dia melempar yang keempat, kelima, dan keenam ke dalam api secara berturut-turut sambil menahan nafas.

Kemudian dia berhenti dan mulai terengah-engah—dia jauh dari tegar, dia terus memandang api dengan tatapan terluka dan ganas. Oh, apa yang sudah dia perbuat! Apa yang belum dia perbuat! Dengan cemas dan tergesa-gesa dia mulai meng­geledah surat-surat di depannya. Yang mana yang telah dibuangnya dengan begitu kejam, begitu bengis? Untunglah bukan yang pertama, yang itu ditulis sebelum mereka sadar, atau berani, untuk saling mengucapkan “aku mencintaimu”. Bukan, bukan; ternyata masih aman. Dia tertawa riang, meng­angkatnya ke bibir. Tapi bagaimana jika satu surat lain yang paling berharga dan paling gila sudah terbakar! Di dalamnya setiap kata hasrat merasuk ke otaknya sejak lama, dan masih menggairahkannya sampai hari ini, sudah ratusan kali, kalau dia pikir-pikir. Begitu ditemukan, dia langsung menggumalnya di antara kedua telapak tangan. Diciumnya lagi dan lagi. Dengan gigi putih tajam, dirobeknya sudut yang paling jauh dari surat, di mana namanya tertulis. Digigitnya sobekan tersebut dan dikecapnya dengan bibir dan lidah layaknya makanan pemberian Tuhan.

Betapa tak terhingga rasa syukurnya mendapati dua surat­nya belum rusak! Alangkah sepi dan hampa sisa hidup ini andai tanpanya, dengan satu-satunya pikiran, pikiran ilusi, yang tak sanggup dia simpan dalam tangannya, tak mampu dia tekan ke pipi dan dadanya.

Judul asli : Her Letters ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment