Skip to content
Kamar No. 3 – Relift Media

Kamar No. 3

Orang ini tidak punya nurani. Dia menyembunyikan sesuatu, kalau tidak, dia takkan berbohong tentang hal seremeh itu. Aku tak pernah memintanya menghapus namaku dari buku tamu. Justru akulah yang menulis namaku juga nama ibuku di situ.


“Pintu apa itu? Kau sudah membuka semua pintu lain, kenapa melewatkan yang ini?”

“Oh, itu! Itu cuma Nomor 3. Cuma kloset, bapak-bapak,” tanggap pemilik penginapan dengan suara senang. “Kami terkadang memakainya sebagai ruang tidur bila terdesak. Jake, juru tulis yang kalian lihat di bawah, menggunakannya tadi malam. Tapi ini tak termasuk daftar reguler kami. Kalian mau melihatnya?”

“Sudah pasti. Seperti kau tahu, kami wajib memeriksa setiap ruangan di rumah ini, baik reguler atau bukan.”

“Baiklah. Aku tidak bawa kuncinya. Tapi—ya, ada. Ini dia, bapak-bapak!” teriaknya, membuka kunci dan menahan pintu agar mereka menengok ke dalam. “Kalian lihat, ini tidak memenuhi deskripsi nona tadi. Dan tak ada kamar lain yang bisa kuperlihatkan pada kalian. Kalian sudah melihat semuanya di bagian depan, dan ini yang terakhir di bagian belakang. Kalian harus percaya cerita kami. Nyonya tua itu tak pernah menginjakkan kaki di losmen ini.”

Kedua lelaki yang ditegurnya mengintip ke dalam ceruk remang di depan mereka, dan salah satu dari mereka, pemuda tampan, jangkung, tegap, dan serius, melangkah pelan-pelan ke dalam. Dia seorang petani yang tinggal tak jauh, baru-baru ini ditunjuk menjadi deputi sherif karena maraknya pencurian kuda di lingkungan sekitar belakangan ini.

“Kuamati,” ujarnya, setelah buru-buru melihat sekeliling, “kertas di tembok sini tidak seperti yang digambarkannya. Dia sangat rewel soal kertas, katanya berwarna pink keruh dan ada gulungan besar yang tampak bergerak dan merayap berputar manakala dipandang. Kertas ini biru dan bergaris-garis. Kecuali kalau—”

“Kita ke bawah saja,” usul rekannya yang, dari sikap hormat pemuda ini terhadap ucapannya, jelas-jelas memegang wewe­nang. “Di sini dingin, dan ada beberapa pertanyaan yang harus kuajukan kepada nona itu. Tn. Quimby,” beralih kepada pemilik penginapan, “aku tak sangsi kau benar, tapi kami akan memberi kesempatan lain pada gadis malang itu. Aku selalu memberi kesempatan penuh kepada setiap orang.”

“Reputasiku ada di tanganmu, Koroner Golden,” tanggapnya pelan. Lalu, sementara keduanya berbalik, “reputasiku berban­ding ucapan seorang gadis gila.”

Kata-katanya menggema. Sambil bergerak mengikuti dua orang lainnya menuju lorong, sang pemuda petani menangkap gema ini. Di luar kemauannya dia menoleh ke belakang seolah menyangka suatu kontradiksi akan menyapanya dari tembok gundul dan murung yang sedang ditinggalkannya. Tapi tak ada kontradiksi semacam itu. Justru, di sana dia membaca konfir­masi pernyataan gamblang dan lega dari pemilik penginapan. Kertas biru pudar, dengan garis-garisnya yang kuno dan tak menarik, telah memperjelek tembok selama bertahun-tahun. Bukan cuma kotor gara-gara usia, tapi juga menunjukkan bintik-bintik luntur besar di sana sini, terutama di sekeliling lubang pipa asap tungku, tinggi di sebelah kiri. Tentu dirinya pengkhayal kalau sampai meragukan bukti-bukti sejelas ini. Tapi—

Kemudian matanya beradu dengan mata Quimby. Berhenti tiba-tiba, dia segera tersadar rekannya sedang bergegas menempuh lorong sempit menuju gang lebar di depan. Andai dia terpikir untuk berbalik lagi sebelum berbelok di sudut—tapi tidak, aku ragu dia sudah tahu sesuatu saat itu. Penutupan pintu oleh tangan yang hati-hati—langkah mengendap-endap penuh hasrat di belakangnya—apa ada sesuatu dalam gerak-gerik ini yang membangkitkan lagi rasa penasaran dan memancangkan kecurigaan? Tidak ada, bila orang yang dimaksud adalah Jacob Quimby, tidak ada. Lebih baik dia tidak menoleh ke belakang, itu membuat pikirannya lebih bebas untuk menghadapinya di ruang bawah.

Judul asli : Room Number 3 ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment