Skip to content
Kartu Misterius – Relift Media

Kartu Misterius

Hari ini baru tiga pekan sejak dia menerima kartu misterius itu, tapi dalam masa itu dia sudah kehilangan semua yang dia hargai di dunia—isteri, teman, dan bisnis. Masalah berikutnya terkait kartu mematikan itu kini merasukinya.


Richard Burwell, dari New York, akan selalu menyesal bahasa Prancis tidak dijadikan bagian dari pendidikan­nya.

Begini alasannya:

Pada malam kedua setelah Burwell tiba di Paris, merasa kesepian tanpa isteri dan anak perempuannya, yang masih mengunjungi seorang teman di London, pikirannya otomatis berpaling ke teater. Jadi, setelah memeriksa kalender hiburan harian, dia memutuskan datang ke Folies Bergére, yang dengar-dengar merupakan salah satu tempat terkemuka di kota itu. Pada waktu istirahat, dia pergi ke taman yang indah, di mana orang-orang berjalan-jalan riang di antara bunga-bunga, lampu, dan air mancur. Dia baru duduk di sebuah meja kecil berkaki tiga, dengan maksud menikmati pemandangan baru, ketika perhatiannya tertarik oleh seorang wanita cantik, bergaun mencolok, tapi seleranya sempurna, yang berlalu di dekatnya, bersandar pada lengan seorang pria terpandang. Satu-satunya hal yang dia perhatikan adalah, pria itu mengenakan kacamata.

Burwell tak pernah berlagak menjadi pemikat kaum wanita, dan hampir tidak bisa mempercayai matanya saat nona itu melepas pinggang pasangannya, berbalik seakan terlupa sesuatu, berlalu di dekat Burwell, dan menaruh sebuah kartu di mejanya dengan cekatan. Kartu tersebut memuat kata-kata Prancis yang ditulis dengan tinta ungu, tapi karena tak menguasai bahasa tersebut, dia tak mampu memahami maknanya. Si nona tak memberi perhatian lebih jauh padanya, bergabung kembali dengan pria berkacamata tadi, menyusur keluar dari tempat itu dengan anggun dan bermartabat ala seorang puteri. Burwell tetap memelototi kartunya.

Tak ayal, dia tak lagi memikirkan penampilan atau daya tarik dirinya. Segalanya terasa datar dan enteng dibanding bayangan berseri-seri yang muncul dan lenyap secara misterius. Hasratnya kini adalah menemukan makna kata-kata yang tertulis pada kartu.

Memanggil kereta kuda, dia berangkat ke Hotel Continental tempatnya menginap. Langsung menuju kantor dan mengajak manajer, Burwell memintanya berbaik hati menerjemahkan beberapa kata Prancis ke dalam bahasa Inggris. Seluruhnya tidak lebih dari dua puluh kata.

“Ah, tentu saja,” kata manajer, dengan kesopansantunan ala Prancis, dan melirik kartunya. Sambil membaca, raut wajahnya mengeras heran, dan, menatap tajam penanyanya, dia berseru: “Dari mana Anda dapat ini, monsieur?”

Burwell mulai menjelaskan tapi dipotong oleh: “Itu cukup, itu cukup. Anda harus tinggalkan hotel.”

“Apa maksudmu?” tanya sang pria dari New York, terheran.

“Anda harus tinggalkan hotel sekarang—malam ini juga—tidak boleh tidak,” perintah manajer heboh.

Sekarang giliran Burwell yang marah, dan menyatakan jika dirinya memang tak diinginkan di hotel ini, masih ada banyak hotel di Paris yang mau menyambutnya dengan hangat. Lalu, dengan gengsi di permukaan, tapi kejengkelan di dalam hati, dia membereskan tagihan, menyuruh seseorang mengambil barang-barang, dan menempuh Rue de la Paix menuju Hotel Bellevue, di mana dia menghabiskan malam itu.

Keesokan paginya dia bertemu pemiliknya, yang kelihatan ramah. Kini memandang insiden semalam dari sisi konyol, Burwell menjelaskan apa yang sudah menimpanya, dan ingin mencari pendengar simpatik.

“Ah, bodoh sekali dia,” kata sang pemilik. “Coba lihat kartunya. Akan kuberitahukan maknanya.” Tapi begitu dia membaca, wajah dan tingkahnya sontak berubah.

Judul asli : The Mysterious Card ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment