Di ruangan ini, waktu itu, pada malam itu, kami mencapai kesepahaman. Kami akan mengawali usaha kami sebagai orang berakal sehat. Kami, tentu saja, akan harus meminum seluruh dosis politik—para bos, geng, para pengekor, perintrikan, perdalangan.

Di ruangan ini, waktu itu, pada malam itu, kami mencapai kesepahaman. Kami akan mengawali usaha kami sebagai orang berakal sehat. Kami, tentu saja, akan harus meminum seluruh dosis politik—para bos, geng, para pengekor, perintrikan, perdalangan.
Kendati pengaruh pers, melalui kemampuannya untuk terus mempertahankan subjek-subjek tertentu di depan pembacanya, telah tumbuh bersama pertumbuhan sumberdaya dan langganannya, cengkeramannya pada kepercayaan populer tak diragukan lagi sudah mengendor selama empat puluh atau lima puluh tahun terakhir.
Bagaimanapun, Marxisme mengakui nilai propaganda demikian, dan melakukannya. Itu salah satu kekuatan utamanya. Setiap anggota partai harus bisa mempertahankan posisi dalam percakapan dengan lawan-lawan dalam pekerjaan, di halaman belakang, di rumah, dalam bisnis.
Para bangsawan ini biasa menyatakan yang tak ada, dan menyangkal yang ada. Mereka begitu terbiasa menggunakan fraseologi sebagai ganti berpikir, dan membaca sebagai ganti merenung, sampai-sampai otak mereka hanya memuat kata-kata, bukan ide-ide.
Dulu, pengisapnya sedikit; tapi belakangan penularannya menyebar, dan racun mengalirnya bertambah setiap hari. Di China, di antara mereka yang tersangkut, banyak sekali orang-orang kaya, tapi ada pula di antara massa bodoh beberapa yang tidak tahan godaan asap, sehingga merusak hidup mereka.
Gerombolan-gerombolan submanusia akan berbuat apa saja dalam upaya mereka untuk meruntuhkan dunia cahaya dan pengetahuan, untuk membawa apokalips kepada semua kemajuan dan pencapaian manusia. Tujuan mereka satu-satunya adalah menciptakan gurun tandus dari bangsa atau ras apapun yang bersinar.
Para penyokong ortodoksi paling kaku menghalangi pengajaran moral lebih luas kepada sebanyak-banyaknya orang dengan keengganan mereka terhadap semua perubahan adat-istiadat. Mereka takut terhadap semua perubahan dan menyebutnya “baji pembuka” menuju penyimpangan berat dari kebenaran.
Kita menaati pancasila bukan untuk alasan duniawi murni semata, tapi karena Buddha mengadopsi mereka sebagai fondasi Ajarannya (Jalan menuju Ketersadaran), dan karena mereka telah senantiasa menyiapkan jalan untuk Ordo Orang Tercerahkan dari semua zaman.