Skip to content
Amerika Negara Tuhan – Relift Media

Amerika Negara Tuhan Bacaan non-fiksi politik

author _Joseph Goebbels_; date _1942_ genre _Politik_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Aku tak tahu apa harus tercengang atau jijik dengan pemikiran naif dan bodoh ini. Bagaimanapun juga, itu pemikiran Amerika tulen, dan aku bisa memberi rasio 10:1 bahwa kebanyakan orang Amerika sungguh-sungguh yakin itu benar. Kita tak pernah yakin mana di antara dua karakteristik ini yang lebih mencolok dalam karakter kebangsaan Amerika dan karenanya lebih signifikan: kenaifan atau kom­pleks superioritas. Ketika, misalnya, mereka mengatakan sesuatu tentang kawasan kita, rasa kaget kita terhadap keja­hilan mereka hanya dilampaui oleh rasa jengkel terhadap kekurangajaran dungu mereka. Semakin sedikit mereka tahu tentang sebuah perkara, semakin banyak mereka berbicara dengan percaya diri. Mereka betul-betul percaya bahwa orang-orang Eropa tak sabar menunggu mendengar kabar dari mereka dan mengindahkan nasehat mereka. Mereka menganggap keputusan strategis kita (untuk tidak mendis­kusikan kebudayaan dangkal) sebelum perang sebagai tanda kekaguman. Pencapaian teknis terbesar mereka adalah kul­kas dan radio. Mereka percaya tidak ada nilai-nilai kultural (yang merupakan hasil dari berabad-abad perkembangan historis) yang tidak bisa dibeli. Bukanlah lelucon buruk ketika sesudah perang mereka membeli reruntuhan kastil-kastil Jerman dan memindahkannya batu demi batu ke AS. Mereka betul-betul berpikir sudah membeli sepotong sejarah bangsa yang terkandung dalam batu, dan cukup naif untuk berpikir bahwa gelak-tawa mengolok dari Eropa adalah rasa hormat terhadap kekayaan yang memungkinkan mereka membeli apa yang tidak ada dalam tradisi dan budaya mereka sendiri. Sebuah buku karya Eric, pengarang Skotlandia, berjudul Juan in America, baru saja terbit dalam terjemahan Jerman. Dengan ejekan beberapa kata tapi mematikan, itu mengang­kat cermin kepada para Yankee. Orang harus membaca buku ini, yang berlangsung dalam periode pasca perang, untuk memahami orang-orang Amerika dengan tepat. Baru-baru ini pers Amerika mengklaim orang-orang Amerika berpen­dapat bahwa Jenderal Rommel mempelajari teknik-teknik militernya, yang dikagumi di seantero dunia, dari bangsa Amerika. Jenderal Lee menggunakan kavalerinya dengan cara yang sama seperti Rommel menggunakan tank-tank­nya. Aku tak tahu apa harus tercengang atau jijik dengan pe­mikiran naif dan bodoh ini. Bagaimanapun juga, itu pemi­kiran Amerika tulen, dan aku bisa memberi rasio 10:1 bahwa kebanyakan orang Amerika sungguh-sungguh yakin itu benar. Hanya di AS isteri presiden bisa menerima honor seribu dolar di sebuah pertemuan amal, dan mengambil uang tersebut tanpa repot-repot mencaritahu apakah pertemuan untuk kepentingan para korban luka perang itu akan me­ngalami defisit. Suratkabar-suratkabar New York baru-baru ini mewartakan ini. Ny. Roosevelt bahkan tampil dengan bayaran bagus sebagai model fesyen, menunjukkan pakaian bulu teranyar kepada khalayak pengagum. Dia menulis se­buah kolom untuk sejumlah besar suratkabar AS bertajuk “My Day”, yang di dalamnya dia menceritakan bagaimana dia mengisi hari kemarin, apa yang dia kenakan, pesta koktail mana yang dia hadiri, siapa yang dia temui, dan apa yang dia hendak lakukan besok. Kita betul-betul mendapatkan citra Amerika yang keliru. Film-film Hollywood paling patut disalahkan, karena mereka menampilkan gaya hidup sepuluh ribu orang tingkat atas, yang kebanyakan orang Amerika sendiri alami melalui film-film. Para pengamat Amerika bimbang antara kekaguman tak terbatas dan kejijikan mendalam. Para pengamat luaran mengaguminya, para pakar asli selalu merasa jijik padanya. Tentu saja ada banyak hal yang sekilas impresif di bagian dunia yang masih masa remaja ini. Namun, ketinggian gedung-gedung pencakar langit bukanlah ukuran level kebu­dayaan. Tanah ini, yang berkeinginan melindungi kebebasan intelektual di kebudayaan-kebudayaan kuno Eropa dan Asia, tanah ini sendiri tidak memiliki teater dan opera permanen. Sebuah perusahaan swasta seperti Metropolitan Opera New York bertahan hidup di masa damai hanya mengandalkan opera-opera Jerman dan Italia dan terpaksa menutup pintu karena alasan keuangan begitu perang dimulai. AS tidak memiliki penyair, pelukis, arsitek, atau komposer kelas dunia. Apapun budaya yang dimilikinya dipinjam dari Eropa. Tanah ini tidak memiliki bahasa, budaya, dan perada­bannya sendiri. Ia meminjam segalanya, biasanya menurun­kan nilainya dengan meng-Amerikanisasi-nya, tak pernah menyempurnakannya. Amerikanisasi adalah sejenis kitschi­fikasi yang memberi stempel Amerika pada setiap nilai kul­tural, mengubah bahasa matang menjadi bahasa gaul, waltz menjadi jazz, karya sastra menjadi cerita kriminal. Jika orang-orang Amerika tak punya uang, kemungkinan besar mereka akan jadi kaum paling hina di dunia. Superio­ritas paling mengesalkan adalah superioritas mereka. Mereka tentu saja membangun pesawat dan tank terbaik, dan jumlahnya ratusan ribu. Mereka mempunyai jenderal-jenderal dan prajurit-prajurit terbaik, dan kekalahan mereka hanyalah bukti kecerdasan mereka dalam menghancurkan keberanian musuh-musuh mereka. Presiden mereka adalah setengah tuhan, meski dia memimpin bangsa ke dalam bencana ekonomi yang darinya dia tak melihat jalan keluar selain perang. Mereka menjanjikan Eropa seorang juru selamat pada 1917 dan mengiriminya seorang Wilson pada 1919. Mereka akan mengulangi pengkhianatan besar ini hari ini jika kita tidak mencegahnya. Pendek kata, ia adalah sebuah bangsa yang masih jauh dari menjadi bangsa, dan sebuah kaum yang tak punya prasyarat terpenting untuk menjadi sebuah kaum, yakni gaya hidup yang jelas. Penerjemahan atas seizin Randall L. Bytewerk.
Judul asli : God’s Country
Aus Gottes eigenem Land
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Juli 2023
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Amerika Negara Tuhan

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2023)