Skip to content
Pengakuan Seorang Jurnalis – Relift Media

Cerita fiksi jurnalisme Pengakuan Seorang Jurnalis

Menulis hanya untuk “jemaat gereja”, boleh dibilang, membatasi independensi; sementara independensi membatasi daftar pembacaku atau mengubah personilnya—dua-duanya membuat suratkabar tak memiliki basis yang pasti dan kokoh.



Yang terhormat Dr. Leete, kau akan kaget saat mende­ngar aku sudah memutus hubungan dengan Trumpet of Liberty, tapi demikianlah faktanya. Kebaikanmu di masa lalu, semangatmu yang sungguh-sungguh dalam mendapat­kan cukup pelanggan guna mengganti biaya yang timbul dari wewenang eksekutif, serta optimismemu yang tak kunjung padam bahkan ketika keadaan tampak gelap, semua itu me­yakinkanku bahwa aku seperti melupakan nikmat-nikmat yang kuterima jika aku tidak mengemukakan alasan-alasan yang telah menggerakkanku dalam langkah terakhir ini. Alasan-alasan itu tidak murni sentimental, meski aku tahu, jika kuletakkan mereka di atas landasan tersebut, aku akan langsung membangkitkan simpati lembut dari hatimu yang pemurah dan percaya. Dan jika kritik pribadiku di sini, terkait kebijaksanaan cara kita dalam menjalankan suratkabar, te­rasa condong pada pengkhianatan, aku hanya bisa meng­andalkan sifat baikmu.

Keharusan mendapatkan cukup pelanggan guna me­nanggung biaya sebelum izin terbit diperoleh tentu mem­buat usaha ini sangat lokal. Balasan-balasan dari jauh ter­hadap edaran yang disebarkan, sesuai dugaan kami, tidak terlalu memberi semangat. Tiadanya iklan, jika aku boleh gunakan kata antik itu, mencegah fakta diketahui luas, di samping karakter dan lingkup pekerjaan kami, dan sekaligus membuat kami tak punya sarana untuk mengumpulkan nama-nama. Bahkan, dokter yang terhormat, meski sama sekali tak meremehkan ketenangan dan keamanan yang kami rasakan sekarang karena tahu bahwa kekurangan materil kami akan dengan mudah terpenuhi, aku tetap merasa—tapi tanpa menyetujui kiasan “sampah dapur babi”-nya Carlyle—keamanan perut ini cenderung mengurung upaya kami dalam lingkaran lebih sempit dan membatasi cakrawala intelektual kami dalam batas-batas hubungan personal. Tanpa sarana untuk menjangkau para pencaritahu yang tak dikenal, pekerjaan dan kemajuan kami banyak ter­hambat.

Tapi untung saja Trumpet, karena memiliki daftar lang­ganan yang lumayan, dan karena aku dipilih sebagai redak­tur, mengatasi kesulitan-kesulitan ini, bahkan mencegah penurunan daya tarik yang signifikan. Tapi di sini timbul kesulitan lebih besar. Kau ingat sarkasme tajam dalam karya-karya abad sebelumnya di mana kaum pendeta di­serang lantaran tunduk pada jemaat gereja yang menjadi sumber tunjangan mereka. Aku rasa aku bisa menempatkan diriku dalam posisi seorang pendeta di bawah kondisi semi-barbar yang merajalela sebelum pemerintah dengan baiknya membebaskan kita dari urusan mengawasi moral kita sendiri. Sebab di bawah kebebasan kita yang gilang-gemilang pun, yang aku sudah berbuat begitu banyak untuk mene­rompetkannya, ternyata aku terus-menerus melukai perasa­an sensitif dan mendatangkan protes geram dari pelanggan­ku. Institusi-institusi tercinta kita tidak membudayakan kritik; sebaliknya, kecenderungan yang ada adalah jelas-jelas mengarah ke penindasan kritik. Meski pers kita terus-menerus menerbitkan buku, buku-buku itu, seperti halnya suratkabar-suratkabar, menemukan kesulitan besar dalam menjangkau ke luar pasar lokal, yang, selain mempertinggi ongkos, pasti membatasi peredaran. Menulis hanya untuk “jemaat gereja”, boleh dibilang, membatasi independensi; sementara independensi membatasi daftar pembacaku atau mengubah personilnya—dua-duanya membuat suratkabar tak memiliki basis yang pasti dan kokoh.

Memusuhi pihak-pihak dalam jangkauan terdekat, yang cenderung dibuat sangat konservatif oleh segala hal ter­hadap spekulasi-spekulasi menyangkut kebebasan personal luas, dan tanpa sarana untuk menjangkau pihak-pihak lain di tempat jauh yang mungkin saja menyambut pemikiran semacam itu, hanyalah satu dari banyak kesulitan yang pernah kujumpai. Karena inisiatif individu sejak saat itu sudah lama ketinggalan zaman, dalam runtuhnya sistem kuno ekonomi politik, maka menegaskannya dalam ekonomi intelek menjadi semakin sulit. Aku sadar bidang jurnalisme dianggap dikecualikan dari kaidah umum haluan otoritas dan, seperti kaum pendeta, diserahkan kepada nilai lebih personal untuk meraih sukses. Tapi tetap saja, kecende­rungan universal semua institusi kita kepada tindakan dan haluan militan banyak membatalkan teori ini. Kecende­rungan kepada sentralisasi ini, yang telah menjadi puncak kejayaan peradaban kita, gamblang dan mencolok dalam jurnalisme sekalipun, terlepas dari pengecualiannya secara teori.

Judul asli : A Journalist’s Confession. Boston, A. D., 2001. ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Oktober 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Pengakuan Seorang Jurnalis

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)