Skip to content
Penderitaan Yesus – Relift Media

Penderitaan Yesus

Putera Tuhan bisa saja meloloskan diri dari kemarahan musuh-musuh-Nya, sebab satu kata dari mulut-Nya cukup untuk merebahkan mereka ke tanah; tapi Dia mengasihi kita, Dia ingin menyelamatkan kita, dan untuk mendamaikan kita dengan Bapak-Nya, Dia memilih untuk mati.



“Firman itu telah menjadi daging dan tinggal di antara kita. Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan Anak Tunggal Bapa.” Dia datang untuk menarik kita kembali dari jalan kesalahan—untuk mendirikan kita kembali di jalan ke­benaran. Dia telah memberitahukan kepada kita Tuhan langit, dan dalam Tuhan kita Dia telah mengungkapkan kepada kita seorang Bapak dan Bapak yang paling lembut di antara Bapak-Bapak. Dia menunjukkan kepada kita ibadah yang mesti kita lakukan kepada Tuhan, ibadah roh dan hati. Dia mengungkapkan kepada kita takdir indah yang menanti kita di akhirat; kehidupan abadi itu, yang dipenuhi nikmat-nikmat tak terkatakan, ketika kita akan bertemu Tuhan tatap muka, seperti Dia dalam dirinya sendiri, dan yang bisa kita raih dengan mengamalkan kebenaran-kebenaran yang Dia ajarkan dan aturan-aturan yang Dia tentukan. Untuk me­negaskan kebenaran doktrin surga-Nya, Yesus melakukan mukjizat-mukjizat besar, keajaiban-keajaiban kekuatan-Nya, dan lebih banyak lagi keajaiban-keajaiban derma dan belas-kasih. Dia adalah yang paling ramah, paling lembut, paling suci di antara anak-anak manusia, tapi Dia mempunyai musuh-musuh. Hari ini, aku akan bicara pada kalian tentang cawan dukacita yang mereka buat Dia meminumnya, bahkan sampai ampasnya.

Yesus Kristus telah meramalkan kepada Rasul-rasul-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke tangan orang-orang durjana—para juru tulis dan imam kepala; bahwa mereka akan men­jatuhkan kepada-Nya hukuman mati; bahwa Dia akan di­pandang rendah dan diperolok, dicambuk dan disalib. Sekarang telah tiba waktunya ketika Juru Selamat ilahi ini akan mewujudkan pengorbanan-Nya, dan akan meletakkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Disertai Rasul-rasul-Nya, Dia berjalan ke Tempat di mana Dia sudah tunjuk untuk perjamuan terakhir-Nya, dan menyantap paskah terakhir-Nya bersama mereka. Namun, sebelum Dia pergi dari kehi­dupan ini, Dia ingin meninggalkan untuk mereka ikrar paling mulia akan kasih dan kelembutan-Nya—Dia ingin mengada­kan sakramen menawan yaitu tubuh dan darah-Nya. Dia kemudian “mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku. Sesu­dah itu Dia mengambil cawan, mengucap syukur lalu mem­berikannya kepada mereka dan berkata: Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah per­janjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk peng­ampunan dosa. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Masih banyak lagi yang Dia katakan kepada murid-murid tersayangnya dengan kasih-sayang paling lembut. Melihat mereka tertindas oleh beban kesedihan, Dia melipur mereka, dengan berjanji tidak akan meninggalkan mereka jadi yatim, dan akan mengirim kepada mereka Roh Kudus, yang akan menemani mereka sepanjang masa dan akan membuat mereka mengerti semua yang telah Dia ajarkan kepada mereka. Dia menitipkan mereka kepada perlindung­an mahakuasa Bapak-Nya, Bapak yang Dia mohon dengan segenap jiwa-Nya agar melindungi mereka, agar memper­tahankan mereka dari godaan-godaan musuh, agar menjaga kesatuan hati di antara mereka, supaya tak satupun dari mereka tersesat, tapi supaya semuanya bersamanya dalam kebahagiaan abadi surga. Kita tidak bisa ragu, Saudara-saudaraku, bahwa bukan untuk Rasul-rasul saja Juru Selamat pemurah kita menujukan doa sungguh-sungguh ini kepada Bapak-Nya di surga, tapi juga untuk kita, yang—dikonversi oleh khotbah mereka—merasakan bahagianya dipanggil menuju pengetahuan akan kebenaran melalui rahmat Yesus Kristus.

Judul asli : Sufferings of Jesus Christ ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Juni 2022
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Penderitaan Yesus

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)