Skip to content
Tes Psikologis – Relift Media

Tes Psikologis

Fukiya sampai pada kesimpulan bahwa cuma ada satu solusi: Dia harus membunuh wanita tua itu! Dia juga menalar bahwa harta tersembunyi milik wanita tua itu tentu cukup besar untuk menjustifikasi pembunuhannya.



Masa depan Fukiya di dunia ini mungkin sudah cerah andai saja dia lebih memanfaatkan kecerdasannya yang hebat. Muda, pandai, dan tekun, dan kebanggaan tetap bagi profesor-profesornya di Universitas Waseda di Tokyo—siapapun bisa melihat dia adalah orang yang disiapkan untuk masa depan menjanjikan. Tapi, celaka, bersekongkol dengan takdir, Fukiya memilih mengelabui semua pengamat. Alih-alih mengejar karir skolastik normal, dia meluluhlantakkan­nya tiba-tiba dengan melakukan...pembunuhan!

Hari ini, bertahun-tahun pasca kejahatannya yang meng­gemparkan, masih marak dugaan terkait motif tak wajar apa yang sebetulnya mendorong pemuda berbakat ini melak­sanakan plot bengisnya. Sebagian masih bersikeras dalam keyakinan mereka bahwa kerakusan akan uang—motif paling umum di antara semua motif—ada di balik itu semua. Sampai taraf tertentu, penjelasan ini masuk akal, karena memang benar pemuda Fukiya, yang sedang berjuang menyelesaikan sekolahnya, merasakan dengan getir kekem­pisan dompetnya. Juga, selaku intelektual, kebanggaannya mungkin terluka sangat dalam lantaran harus menghabiskan begitu banyak waktu berharganya dengan bekerja, sehingga dia merasa kejahatan adalah satu-satunya jalan keluar. Tapi apakah alasan-alasan kentara ini cukup untuk menjelaskan kekejian nyaris tak tertandingi dari kejahatan yang dia lakukan? Yang lain-lain memajukan teori yang jauh lebih probabel, bahwa Fukiya adalah penjahat bawaan lahir dan melakukan kejahatan itu semata-mata untuk kejahatan itu sendiri. Pokoknya, apapun motif-motif tersembunyinya, ada-lah fakta tak terbantahkan bahwa Fukiya, seperti banyak penjahat intelektual lain sebelum dirinya, bermaksud me­lakukan kejahatan sempurna.

Sejak hari memulai kelas-kelas pertamanya di Waseda, dia resah dan tak tenang. Suatu kekuatan berbisa serasa sedang menggerogoti pikirannya, membujuknya, melecut­nya untuk mengeksekusi sebuah “plot” yang masih berupa garisbesar samar dalam pikirannya—seperti bayangan dalam kabut. Hari demi hari, selagi menghadiri kuliah, mengobrol dengan teman-teman di kampus, atau bekerja sambilan untuk menutup pengeluarannya, dia terus memikirkan apa yang membuatnya begitu gugup. Dan kemudian, suatu hari, dia menjadi akrab terutama dengan teman sekelas bernama Saito, dan “plot”-nya mulai mengambil bentuk tegas.

Saito adalah mahasiswa pendiam kurang-lebih seumuran Fukiya, dan sama-sama kekurangan uang. Selama hampir setahun ini dia menyewa sebuah kamar di rumah seorang janda yang ditinggal mati suaminya, seorang pejabat peme­rintah, dalam kondisi cukup enak. Usianya hampir enam puluh, wanita ini sangat serakah dan pelit. Terlepas dari fakta bahwa pemasukan dari uang sewa di beberapa rumah men­jaminnya hidup enak, dia masih dengan rakusnya menam­bah kekayaan dengan meminjamkan uang dalam jumlah kecil kepada kenalan-kenalan yang dapat dipercaya. Akan tetapi dia tak punya anak, dan akibatnya lambat-laun dia menganggap uang, sejak awal kejandaannya, sebagai pelipur pengganti. Namun, dalam hal Saito, dia menerimanya seba­gai penyewa untuk perlindungan ketimbang keuntungan: seperti semua penimbun uang, dia menyembunyikan jumlah yang besar di rumahnya.

Begitu mendengar semua ini dari Saito temannya, Fukiya tergoda oleh uang si janda. “Apa manfaatnya itu buatnya?” tanyanya berulang-ulang pada diri sendiri, setelah dua atau tiga kunjungan ke rumah itu. “Siapapun bisa lihat, nenek tua keriput itu tidak akan lama di dunia ini. Tapi lihat aku! Aku muda, penuh semangat dan ambisi, dengan masa depan cerah untuk dinantikan.”

Pikirannya terus berkisar pada persoalan ini, membawa pada satu kesimpulan saja: Dia harus memiliki uang itu! Tapi bagaimana mendapatkannya? Jawaban untuk pertanyaan ini tumbuh menjadi jejaring rencana mengerikan. Namun, per­tama-tama, Fukiya memutuskan bahwa semua plot sukses bergantung pada satu faktor penting—persiapan terampil dan menyeluruh. Jadi, dengan cara halus dan sambil lalu, dia memulai tugas mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari teman sekampusnya, Saito, mengenai wanita tua itu dan uang tersembunyinya.

Suatu hari Saito secara sambil lalu mengeluarkan komen­tar yang nyaris membuat Fukiya terperanjat, sebab itu adalah informasi yang sudah lama dia ingin ketahui.

Judul asli : The Psychological Test
心理試験
()
Pengarang :
Seri : Kogorō Akechi #2
Penerbit : Relift Media, August 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Tes Psikologis

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)