Skip to content
Rombongan Signor Vitalis – Relift Media

Rombongan Signor Vitalis

“Kecerdasan mereka akan lebih dihargai lagi jika aku membuat perbandingan. Misalnya, jika aku punya orang bego untuk beraksi dengan mereka. Itulah kenapa aku menginginkan bocahmu. Dia akan jadi si bego agar kecerdasan anjing-anjing ini lebih menonjol.”



Malam itu aku bermimpi dibawa ke Panti. Ketika aku membuka mata pagi-pagi sekali esok harinya, aku hampir tak percaya bahwa aku masih ada di sana, di tempat tidur kecilku. Aku meraba-raba tempat tidur dan mencubit lenganku untuk memastikan itu nyata. Ah, ya, aku masih bersama Bu Barberin.

Dia tak berkata apa-apa padaku sepanjang pagi itu, dan aku mulai berpikir mereka sudah membuang ide untuk mengirimku pergi. Mungkin dia mengatakan dia bertekad merawatku.

Tapi ketika tengah hari tiba, Barberin menyuruhku mengenakan topi dan ikut dengannya.

Aku memandang Bu Barberin untuk memohon padanya agar menolongku. Tanpa kelihatan suaminya, dia memberiku isyarat agar aku ikut dengannya. Aku menurut. Dia menepuk pundakku saat aku lewat, untuk memberitahu bahwa tak ada yang perlu ditakutkan.

Tanpa berkata apa-apa aku mengikutinya.

Dari rumah kami ke desa agak jauh—jalan kaki satu jam. Barberin tak bilang apa-apa padaku sepanjang perjalanan. Dia terus berjalan, pincang. Sesekali dia berputar untuk melihat apa aku mengikuti.

Ke mana dia membawaku?

Aku menanyakan ini lagi dan lagi pada diriku sendiri. Terlepas dari isyarat menenteramkan dari Bu Barberin, aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi padaku dan aku ingin lari.

Aku coba berlambat-lambat, berpikir untuk lompat ke dalam selokan di mana Barberin tak bisa menangkapku.

Mulanya dia tampak puas karena aku terus berjalan gontai di belakangnya, dari jarak dekat, tapi jelas dia mulai curiga dengan apa yang mau kulakukan, dan dia merenggut pergelangan tanganku.

Aku dipaksa mengimbangi langkahnya.

Begitulah kami memasuki desa. Setiap orang yang ber­papasan dengan kami menoleh, karena aku tampak seperti anjing nakal yang diikat.

Saat kami akan melewati kedai minuman, seorang lelaki yang berdiri di ambang pintunya memanggil Barberin dan memintanya masuk.

Barberin memegang telingaku dan mendorongku masuk di depannya, dan ketika kami sampai di dalam, dia menutup pintu.

Aku merasa lega; kafe tidak tampak sebagai tempat ber­bahaya buatku; dan lagipula itu kafe, dan aku sudah lama ingin melalui pintunya.

Kafe, kafe Notred-Dame Inn! seperti apa tempat itu?

Betapa sering aku menanyakan ini pada diriku sendiri!

Aku sering lihat orang-orang keluar dari kafe ini dengan wajah bersinar dan kaki sempoyongan; sambil lewat di depan pintunya, aku sering dengar teriakan dan nyanyian yang membuat jendela-jendela bergoncang.

Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Apa yang terjadi di balik gorden-gorden merahnya?

Aku akan segera tahu.

Barberin duduk di meja dengan bos yang memintanya masuk. Aku duduk dekat perapian dan menengok ke sana kemari.

Di pojok di depanku ada seorang pria tua jangkung ber­janggut putih panjang. Dia mengenakan kostum aneh. Aku tak pernah lihat yang seperti itu sebelumnya.

Ikal-ikal kecil panjang terjuntai ke bahunya dan dia memakai topi kelabu tinggi berhiaskan bulu-bulu hijau dan merah. Sebuah kulit domba, yang sisi berbulunya mengarah ke dalam, terpasang ke sekeliling tubuhnya. Tidak ada lengan baju pada kulit itu, tapi melalui dua lubang besar, yang dipotong di bawah bahu, kedua lengannya ditobloskan, ditutupi lengan baju beludru yang tadinya berwarna biru. Penutup kaki wol naik sampai ke lututnya, dan untuk menahan itu pada tempatnya sebuah pita dijalin beberapa kali melingkari kakinya.

Judul asli : Signor Vitalis’ Company
La Troupe du Signor Vitalis
()
Pengarang :
Seri : Petualangan Rémi #3
Penerbit : Relift Media, June 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Rombongan Signor Vitalis

  • Unduh

    Rombongan Signor Vitalis

  • Unduh

    Rombongan Signor Vitalis

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)