Skip to content
Pemandangan Dari Atas Bukit – Relift Media

Pemandangan Dari Atas Bukit

Aku mengalami semua khayalan yang tidak disukai oleh siapapun: langkah-langkah kaki mendedas pada ranting-ranting di belakangku, orang-orang tak jelas melangkah di balik pepohonan di depanku.



Betapa enak sepertinya, sendirian dalam gerbong kereta kelas satu, di hari pertama liburan yang akan cukup panjang, jika mengeluyuri sepotong pedesaan Inggris yang tak familiar, dan berhenti di tiap stasiun. Kau memangku peta terbuka di atas lututmu, dan kau menemukan desa-desa yang terletak di kanan dan kiri berdasarkan menara-menara gereja mereka. Kau kagum pada kesunyian total yang menyertai perhentianmu di stasiun-stasiun, yang hanya dipecah oleh langkah kaki berderak-derak di atas kerikil. Tapi barangkali itu paling nikmat dirasakan usai matahari ter­benam, dan pelancong yang ada dalam pikiranku itu sedang melaju santai di sore cerah pada paruh terakhir Juni.

Dia berada di kedalaman pedesaan. Aku tak perlu merinci lebih jauh selain mengatakan bahwa kalau kau membelah peta Inggris menjadi empat bagian, dia akan ditemukan di baratdaya mereka.

Dia adalah pria dengan pengejaran akademis, dan masa jabatannya baru saja selesai. Dia sedang dalam perjalanan menemui seorang teman baru, lebih tua darinya. Mereka berdua pertama kali bertemu dalam sebuah pemeriksaan saksi di kota, merasa punya banyak kesamaan selera dan kebiasaan, menyukai satu sama lain, dan hasilnya adalah undangan dari Squire Richards kepada Tn. Fanshawe yang sekarang sedang terwujud.

Perjalanan berakhir sekitar jam lima. Fanshawe diberi­tahu oleh seorang portir pedesaan yang ceria bahwa mobil dari Hall sudah sampai stasiun tadi dan meninggalkan pesan bahwa ada sesuatu yang harus diambil dari suatu tempat setengah mil lebih jauh, dan maukah tuan ini menunggu beberapa menit sampai mobil itu kembali lagi? “Tapi kulihat,” sambung si portir, “tuan sudah dapat sepeda, dan mungkin sekali tuan akan lebih senang bersepeda ke Hall sendiri. Lurus di jalan sini, terus belok kiri—tidak sampai dua mil—dan akan kupastikan barang-barang tuan dimasukkan ke dalam mobil. Izinkan aku mengatakan ini, hanya saja kupikir ini petang yang bagus untuk bersepeda. Ya, tuan, cuaca yang sangat sesuai dengan musimnya untuk para penjemur jerami. Coba kulihat, ini karcis sepedamu. Terimakasih, tuan, terimakasih banyak. Jangan lewatkan jalanmu, dsb, dsb.”

Dua mil menuju Hall, hanya itu yang diperlukan—setelah seharian di dalam kereta—untuk menghilangkan kantuk dan menanamkan keinginan akan teh. Hall, ketika kelihatan, juga menjanjikan persis apa yang diperlukan sebagai tempat istirahat yang tenang setelah hari-hari duduk di komite dan rapat perguruan tinggi. Itu tidak tua membangkitkan minat, pun tidak baru menghilangkan semangat. Tembok-tembok diplester, jendela-jendela sorong, pohon-pohon tua, halam­an-halaman rumput rata, adalah ciri-ciri yang Fanshawe perhatikan saat dia datang menyusuri jalan taman. Squire Richards, seorang pria besar tegap berumur lebih dari enam puluh, sedang menantinya di serambi dengan kesenangan yang nyata.

“Teh dulu,” katanya, “atau mau minuman yang lebih panjang? Tidak? Baiklah, teh sudah siap di taman. Ayo, mereka akan simpan kendaraanmu. Aku selalu minum teh di bawah pohon tilia dekat sungai kecil di hari seperti ini.”

Kau tak bisa minta tempat yang lebih baik dari itu. Sore pertengahan musim panas, naungan dan wangi pohon tilia lebar, air sejuk beraduk-aduk dalam jarak lima yard. Lama kemudian barulah masing-masing mereka mengisyaratkan bergerak. Tapi sekitar jam enam, Tn. Richards duduk tegak, mengetukkan pipa cerutunya, dan berkata: “Begini, sekarang cukup sejuk untuk kepikiran jalan-jalan, kalau kau merasa ingin? Baiklah, kalau begitu kuusulkan kita jalan-jalan menyusuri taman dan lanjut ke lereng bukit, di mana kita bisa memandang pedesaan dari atas. Kita akan bawa peta, dan akan kuperlihatkan padamu letak-letaknya; dan kau bisa pergi dengan kendaraanmu, atau kita bisa naik mobil, terserah yang kau mau. Kalau kau siap, kita bisa berangkat sekarang dan kembali sebelum jam delapan, gampang saja.”

“Aku siap. Tapi aku perlu tongkatku, dan apa kau punya teropong? Punyaku dipinjamkan kepada seseorang minggu lalu, dan dia pergi entah ke mana dan membawanya.”

Tn. Richards merenung. “Ya,” katanya, “aku punya, tapi aku sendiri tidak menggunakannya, dan aku tak tahu apakah yang kupunya akan cocok denganmu. Itu bergaya kuno, dan kira-kira dua kali lebih berat daripada buatan sekarang. Kau boleh pakai, tapi aku tak mau membawanya. Ngomong-ngomong, mau minum apa setelah makan malam nanti?”

Judul asli : A View from a Hill ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Pemandangan Dari Atas Bukit

  • Unduh

    Pemandangan Dari Atas Bukit

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)