Skip to content
Rōnin Tajima – Relift Media

Rōnin Tajima

“Kata hati seorang pembunuh memangsa pikirannya hingga dia melihat apa yang tidak ada. Kemiskinan mendorong seseorang pada kejahatan yang dia sesali dalam kekayaannya.”



Dahulu kala, seorang rōnin bernama Tajima Shume, pria cakap dan banyak membaca, dalam pengem­baraannya untuk melihat dunia, pergi ke Kiyoto lewat Tokaido. [Jalan Laut Timur, jalan utama masyhur yang membawa dari Kiyoto ke Yedo. Nama ini juga dipakai untuk menunjuk provinsi-provinsi yang dilintasi.] Suatu hari, di lingkungan Nagoya, di provinsi Owari, dia berjumpa seorang pendeta pengelana, yang dengannya dia bercakap-cakap. Mendapati tempat yang dituju sama, mereka pun sepakat untuk bepergian bersama, menghibur perjalanan jemu mereka dengan obrolan asyik tentang beragam hal. Lambat-laun, seiring bertambah akrab, mereka mulai bicara dengan leluasa mengenai urusan pribadi; dan sang pendeta, yang percaya penuh akan kehormatan rekannya, menceritakan maksud perjalanannya.

“Untuk beberapa lama di masa lalu,” katanya, “aku memelihara sebuah keinginan yang telah menyita seluruh pikiranku; aku bertekad mendirikan sebuah patung lebur demi menghormati Buddha. Dengan maksud ini aku sudah mengelana ke berbagai provinsi mengumpulkan derma, dan (entah dengan kerja keras sejerih apa?) kami berhasil meng­himpun dua ratus ons perak—cukup, aku yakin, untuk menegakkan sebuah patung perunggu yang bagus.”

Apa kata peribahasa? “Barangsiapa menyandang permata di dadanya, menyandang racun.” Baru saja selesai si rōnin mendengar penuturan ini, niat jahat muncul di dalam dirinya, dan dia berpikir, “Hidup manusia, dari rahim sampai liang kubur, terdiri dari nasib baik dan nasib buruk. Di sinilah aku, menjelang usia empat puluh, seorang pengelana, tanpa pekerjaan, atau bahkan harapan untuk maju di dunia ini. Memang nampaknya memalukan, tapi kalau aku bisa men­curi uang yang diomong-omong pendeta ini, aku bisa hidup nyaman untuk sisa umurku.” Maka dia mulai mencari-cari bagaimana sebaiknya merencanakan maksudnya. Tapi sang pendeta sama sekali tidak menduga arah pikiran rekannya, terus mengembara dengan gembira sampai mereka tiba di kota Kuana. Di sini terdapat teluk, diseberangi dengan kapal feri yang berangkat segera setelah dua puluh atau tiga puluh penumpang terkumpul; dan ke atas salah satu kapal ini kedua pengembara naik. Sekitar setengah jalan menyebe­rang, tiba-tiba pendeta merasa perlu pergi ke lambung kapal; dan si rōnin, mengikutinya, menjegal kakinya selagi tak ada yang melihat, dan menghempaskannya ke laut. Ketika para awak kapal dan penumpang mendengar cemplungan, dan melihat pendeta meronta-ronta di air, mereka khawatir, dan melakukan segala upaya untuk menyelamatkannya. Tapi anginnya bagus, dan kapal melaju tangkas di bawah layar menggembung, jadi mereka segera terpisah beberapa ratus yard dari orang sedang tenggelam itu, yang terbenam sebelum kapal sempat diputarbalik untuk menolongnya.

Ketika melihat ini si rōnin pura-pura berduka dan cemas sehebat-hebatnya, dan berkata kepada sesama penumpang, “Pendeta ini, yang kita baru saja kehilangannya, adalah sepupuku. Dia hendak ke Kiyoto, untuk menziarahi kelenteng walinya; dan berhubung aku kebetulan punya urusan di sana juga, kami putuskan untuk bepergian bersama-sama. Seka­rang, celaka! dengan malapetaka ini, sepupuku mati, dan aku tinggal sendirian.”

Judul asli : Tajima ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, February 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment