Skip to content
47 Rōnin – Relift Media

47 Rōnin

Gambaran mengerikan akan heroisme dahsyat yang mustahil untuk tidak dikagumi. Dalam pikiran Jepang, perasaan kagum ini tak tercampur, dan oleh sebab itulah keempat puluh tujuh Rōnin menerima penghormatan nyaris ilahi.


Aku meminta pembaca membayangkan terhanyut ke pesisir Teluk Yedo—sebuah pemandangan tersenyum nan cantik: lereng-lereng landai, berjambulkan serumbaian gelap pinus-pinus dan fir-fir, membawa turun ke laut; lis-lis aneh pada banyak kuil dan kelenteng menyembul di sana-sini dari hutan-hutan kecil; teluknya sendiri bertaburkan kerajinan nelayan indah, yang obor-obornya bersinar pada malam hari bagai kunang-kunang di antara benteng-benteng terpencil; jauh di sebelah barat nampak puncak-puncak Oyama yang dihantui goblin, dan, di baliknya, bukit-bukit kembar Hakoné Pass—Fuji-Yama, si Gunung Tiada Tara, sendirian dan megah berdiri di tengah dataran, yang darinya ia memuntahkan lidah-lidah api dua puluh satu abad lampau. Selama seratus enam puluh tahun gunung itu senantiasa damai, tapi gempa yang kerap terjadi masih mengabarkan api-api tersembunyi, dan tak ada yang tahu kapan bebatuan merah panas dan abu-abu akan sekali lagi turun seperti hujan di atas lima provinsi.

Di tengah-tengah sekumpulan pohon dimuliakan di Takana­wa, pinggiran Yedo, tersembunyi Sengakuji, atau Kuil Bukit Musim Semi, masyhur ke seantero negeri akan pekuburannya, yang menampung makam-makam Empat Puluh Tujuh Rōnin—tersohor dalam sejarah Jepang, para pahlawan drama Jepang, yang kisah perbuatannya akan kutuliskan sebentar lagi.

Di sisi kiri lapang utama kuil terdapat sebuah kapel, di mana, beratapkan patung emas Kwan Im, dewi welas asih, terabadikan arca-arca keempat puluh tujuh orang itu, dan si majikan yang mereka cintai begitu dalam. Arca-arca ini diukir dalam kayu, muka-mukanya diwarnai, dan pakaian-pakaiannya kaya akan pernis; sebagai karya seni, mereka memiliki kualitas hebat—aksi para pahlawan itu, masing-masing bersenjatakan senjata kesayangan, seperti hidup dan bernyawa. Sebagian adalah pria-pria disegani, dengan rambut tipis beruban (salah satunya berumur tujuh puluh tujuh tahun); yang lain-lain cuma bocah-bocah enam belas. Dekat kapel, di sisi jalan setapak yang mendaki bukit, terdapat sumur kecil air murni, dipagar dan dihiasi sebatang pakis kecil, yang padanya tercantum sebuah prasasti, berbunyi “Ini adalah sumur tempat kepala itu dibasuh; dilarang membasuh tangan atau kaki di sini.” Sedikit lebih jauh ada sebuah kios, di mana seorang pak tua malang menghasilkan sedikit uang dengan menjual buku, lukisan, dan medali, yang memperingati kesetiaan sang Empat Puluh Tujuh; dan lebih tinggi lagi, dinaungi hutan kecil pepohonan megah, ada tanah berpagar yang resik—dipelihara, seperti disampaikan oleh sebuah papan tanda, melalui sumbangan sukarela—yang di sekelilingnya berderet empat puluh delapan batu nisan kecil, masing-masing dihiasi tanaman senantiasa hijau, masing-masing dengan persembahan air dan dupa untuk kenyamanan arwah yang meninggal. Ada empat puluh tujuh Rōnin; ada empat puluh delapan batu nisan, dan cerita tentang batu nisan keempat puluh delapan betul-betul khas gagasan Jepang akan kehormatan. Hampir bersinggungan dengan jeruji pagar pemakaman, terdapat satu monumen lebih mengesankan yang di bawahnya terkubur sang tuan, yang kematiannya dibalaskan oleh para pengikutnya dengan penuh pengabdian.

Dan berikut adalah ceritanya.

Judul asli : 47 Rōnin ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, August 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment