Skip to content
Selai Rasberi – Relift Media

Selai Rasberi

“Aku tak menipu diriku sendiri dengan menganggap hal-hal mustahil bisa terjadi. Tapi seseorang membunuh suamiku, dan—menurut para detektif itu—aku satu-satunya yang punya motif dan kesempatan!”


“Kau boleh membantahku mentah-mentah, Eunice, tapi itu takkan mengubah fakta. Ada sesuatu dalam telepati—ada sesuatu dalam pembacaan pikiran—”

“Kalau kau bisa baca pikiranku, Bibi Abby, kau takkan bahas ini lagi. Kalau kau teruskan, aku akan mengatakan apa yang kupikirkan. Dan—”

“Oh, aku sama sekali tak keberatan. Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi pikiranmu kacau—kosong soal ini—bahkan tak bernilai. Nah, dengarkan koran ini: ‘Hanlon akan berjalan dengan mata berpenutup—mata berpenutup, camkan—di jalanan Newark, dan akan menemukan sebuah benda yang disembunyikan oleh perwakilan The Free Press.’ Tentu saja, kau tahu, Eunice, orang-orang suratkabar itu jujur—ah, sudah pasti! Aku pernah lihat pameran sewaktu kau kecil; aku ingat kau sangat marah karena tak dibolehkan ikut. Well, sampai di mana barusan? Biar kuingat lagi—oh, ya—‘Hanlon—’ Hmm hmm, ah bagus sekali! Waktunya besok! Aku akan datang! Menurutmu Sanford mau mengajak kita?”

“Entahlah, kecuali kalau dia hilang akal. Bibi Abby, kau gila! Memangnya itu apa? Acara jalanan biasa?”

“Andai saja kau mau dengar, Eunice, dan sedikit memper­hatikan, kau akan paham apa yang kubicarakan. Tapi begitu aku bilang telepati, kau mulai tertawa dan memperoloknya!”

“Aku belum dengar apapun untuk diperolok. Tentang apa ini semua?”

Tapi sambil bicara Eunice Embury mondar-mandir di ruangan, ruang tinggal besar di apartemen Park Avenue, dan menepuk-nepuk perabot rumah-tangga pada penopangnya. Mengatur ulang anyelir-anyelir merah muda dalam vas kaca jangkung, memutar setangkai mawar panjang dalam wadah perak, meninju bantal-bantal sofa, dan akhirnya duduk di kursi meja bagai kupu-kupu hinggap di atas bunga.

Sesaat kemudian dia asyik dengan beberapa surat, dan Bibi Abby mendesah pasrah, putus asa untuk menarik perhatian sang keponakan pada proyeknya.

“Sama saja, aku akan pergi,” ujarnya, mengangguk pada punggung gemulai yang sedang duduk di meja. “Newark tidak begitu jauh, aku bisa pergi sendirian—atau mungkin mengajak Maggie, dia pasti suka. ‘Dimulai dari Teater Oberon, pukul 14:00—’ Hmm, aku bisa makan siang lebih awal dan ‘—tersembunyi di suatu area di kota—hanya diarahkan dengan pikiran—tak ada kata terucap.’ Bayangkan itu, Eunice! Oh, astaga! sulit dipercaya besok hari Palang Merah! Well, aku tak sabar; kesempatan seperti ini tak datang dua kali. Andai saja aku bisa membujuk Sanford—”

“Tak bisa,” gumam Eunice, tanpa mendongak dari menulis­nya.

“Kalau begitu aku pergi sendirian!” kata Bibi Abby bersemangat, mata hitam cerahnya memancarkan kebulatan tekad. Dia menganggukkan kepala berubannya. “Kau tak boleh memonopoli kemauan seluruh keluarga, Eunice Embury!”

“Aku tak ingin melakukannya! Tapi aku boleh bersuara dalam urusan rumah dan keluargaku, dan, ya, tamuku! Tak terkecuali Maggie besok. Kau tahu betul Sanford takkan mau berburu sia-sia seperti itu, dan tentunya aku tak mau. Kau tak boleh pergi sendirian—lagipula, semua itu omong-kosong. Aku tak mau dengar lagi!”

Eunice memungut pena, tapi melirik bibinya untuk melihat apa dia sudah menerima situasi tersebut.

Ternyata tidak. Nn. Abby Ames adalah wanita teguh, dan dia punya satu hobi, yang untuk mengejarnya dia akan berusaha mengatasi rintangan apapun.

“Kau tak perlu mendengarnya lagi, Eunice,” katanya kasar. “Aku bukan anak kecil yang diizinkan keluar atau dikurung di rumah! Aku akan pergi ke Newark besok untuk menonton pertunjukan ini, dan aku pergi sendirian, dan—”

“Kau takkan berbuat hal seperti itu! Kau akan tampak hebat naik kereta sendirian! Ah, aku tak percaya kau pernah ke Newark seumur hidupmu! Tak ada yang pernah! Itu terlarang!”

Eunice setengah tak karuan, setengah marah, tapi mata sengitnya menandakan pertempuran dan warna mukanya mengindikasikan kejengkelan.

“Terlarang!” pekik bibinya. “Persetujuan tak berarti bagiku! Abby Ames membuat aturan sosial—dia tidak mematuhi aturan yang dibuat orang lain!”

“Kau tak bisa berbuat itu di New York, Bibi Abby. Di Boston lamamu, mungkin kau diktator, tapi tidak di sini. Lagipula aku punya hak sebagai nyonya rumah, dan aku melarangmu keluyuran sendirian.”

“Kau menggelikan, Eunice!”

“Aku tak berniat melucu, ingat itu.”

Judul asli : Raspberry Jam ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment