Skip to content
Manusia Lebah Dari Orn – Relift Media

Manusia Lebah Dari Orn

Dia sudah hidup bersama para lebah begitu lama, mereka begitu terbiasa dengannya, dan kulitnya begitu kasar dan keras, sampai tak terpikir untuk menyengatnya sebagaimana tak terpikir untuk menyengat pohon atau batu.


Di negeri kuno Orn, hiduplah seorang pak tua yang dipanggil Manusia Lebah, lantaran seluruh waktunya dihabiskan bersama lebah-lebah.

Dia tinggal di sebuah gubuk kecil yang tak lebih dari sarang lebah raksasa, sebab makhluk-makhluk mungil ini membangun sarang madu di setiap sudut satu-satunya ruangan yang ada: di atas rak, di kolong meja kecil, di sekitar bangku kasar tempat pak tua duduk, dan bahkan di sekitar papan kepala ranjang dan sepanjang sisian tempat tidurnya yang rendah. Sepanjang hari, udara ruangan pekat dengan serangga mendengung, tapi ini tidak mengganggu pak Manusia Lebah, yang berjalan di antara mereka, makan, dan tidur, tanpa takut disengat.

Dia sudah hidup bersama para lebah begitu lama, mereka begitu terbiasa dengannya, dan kulitnya begitu kasar dan keras, sampai tak terpikir untuk menyengatnya sebagaimana tak terpikir untuk menyengat pohon atau batu. Sekawanan lebah membuat sarang di dalam saku doblet kulitnya yang usang. Saat mengenakan mantel ini untuk menempuh salah satu per­jalanan panjang di hutan mencari sarang lebah liar, dia senang ada sarang ini bersamanya. Pasalnya, jika tak menemukan lebah liar, dia akan memasukkan tangan ke dalam saku dan mengambil sepotong sarang madu untuk makan siang. Lebah-lebah di dalam sakunya bekerja sangat getol, dan dia selalu yakin membawa sesuatu untuk dimakan ke manapun dia pergi.

Pada prinsipnya dia hidup dari madu. Saat perlu roti atau daging, dia bawa beberapa sarang madu bagus ke sebuah desa tak jauh dan ditukarnya dengan makanan lain. Dia jelek, berantakan, keriput, dan cokelat. Dia miskin, dan lebah adalah satu-satunya teman. Tapi, terlepas dari itu semua, dia bahagia dan puas; dia memiliki semua madu yang diinginkannya, dan lebah-lebahnya, yang dia anggap kawan terbaik di dunia, sangat bersahabat dan supel, dan jumlahnya bertambah setiap hari.

Suatu hari, singgahlah di gubuk Manusia Lebah seorang Penyihir Junior. Pemuda ini, yang merupakan pelajar sihir, nek­romansi, dan ilmu-ilmu sejenis, sangat tertarik pada Manusia Lebah, yang sering dia perhatikan di tengah pengembaraannya, dan dianggap subjek mengagumkan untuk dipelajari. Dia men­dapat banyak latihan berguna dari usaha mencaritahu, lewat berbagai kaidah dan hukum ilmu sihir, kenapa persisnya pak Manusia Lebah tidak begini dan kenapa begitu. Dia sudah mempelajari perkara ini untuk waktu lama, dan menemukan sesuatu.

“Apa kau tahu,” katanya, ketika Manusia Lebah keluar dari gubuk, “kau sudah berubah wujud?”

“Apa maksudmu?” kata Manusia Lebah, terkaget-kaget.

“Kau pasti pernah dengar tentang binatang dan manusia yang secara sihir berubah wujud ke dalam beraneka jenis makhluk?”

“Ya, aku pernah dengar hal ini,” kata Manusia Lebah. “Tapi aku berubah wujud dari apa?”

“Itu di luar pengetahuanku,” kata Penyihir Junior. “Tapi satu hal yang pasti—kau mesti diubah kembali. Kalau kau mau mencaritahu dari apa kau berubah wujud, akan kuusahakan kau diperbaiki lagi. Tak ada yang lebih membuatku senang selain mengurus kasus seperti ini.”

Dan, karena ada banyak hal yang harus dipelajari dan diselidiki, si Penyihir Junior pergi.

Informasi ini sangat mengusik pikiran Manusia Lebah. Jika dirinya berubah dari sesuatu yang lain, tentu dia adalah makhluk lain tersebut, apapun itu. Dia mengejar si pemuda, dan menyusulnya.

“Kalau kau tahu, tuan budiman,” katanya, “bahwa aku berubah wujud, tentu kau bisa memberitahu apa aku ini sebelumnya?”

Judul asli : The Bee-man of Orn ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2018
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment