Skip to content
Haruskah Menikahinya? – Relift Media

Haruskah Menikahinya?

Aku tidak siap untuk mengakuinya. Salah satu dari tiga wanita itu mengambil surat dari Alkitab, tempat aku menaruhnya. Siapa di antara mereka yang menulis baris-baris pemicunya, aku tak berani menebak.


Saat aku berjumpa dengan Taylor di Club tempo malam, dia terlihat begitu riang. Aku sampai hampir tak mengenali­nya.

“Ada apa?” teriakku, maju dengan tangan terulur.

“Aku akan menikah,” jawabnya gembira. “Ini malam ter­akhirku di Club.”

Aku merasa senang, dan menampakkannya. Taylor adalah orang yang menganggap kehidupan rumahtangga sebagai kebutuhan. Dia belum pernah bersama kami di rumah, padahal kami semua menyukainya, dan dia menyukai kami dengan caranya sendiri.

“Lalu siapa wanita beruntung itu?” selidikku. Aku di luar kota beberapa waktu ini, jadi tak hafal kabar terbaru tentang para tokoh.

“Calon pengantinku adalah Ny. Walworth, janda muda—”

Dia pasti melihat perubahan pada ekspresiku, sebab kata-katanya terhenti.

“Kau kenal dia, tentunya?” imbuhnya, setelah mencermati wajahku.

Aku kembali menguasai diri.

“Tentu,” timpalku, “dan aku selalu menganggapnya salah satu wanita paling menarik di kota ini. Untuk itu jabat tangan sekali lagi, pak tua.”

Tapi hatiku berat dan pikiranku bingung, walau nada bicaraku dipaksakan ramah, dan aku ambil kesempatan sedari awal untuk menarik diri dan memikirkan situasi ini.

Ny. Walworth? Dia wanita cantik, dan terlebih, dari luar sikap manisnya menyiratkan kemurahan hati. “Orang yang tepat,” renungku, “yang akan kupilih sebagai pendamping sahabat rewelku, jika—” aku berhenti pada kata jika. Ini jika yang berat, tidak mengecil atau menipis di bawah eramanku. Malah terasa membesar hingga ukuran raksasa, menyusahkan dan membebani hati nuraniku begitu berat sampai-sampai akhirnya aku bangkit dari suratkabar yang sedang kupelototi tanpa minat. Kembali mendongak, aku bertanya seberapa cepat dia akan melepas status perjaka tuanya.

Jawabannya membuatku kaget. “Satu minggu lagi,” sahut­nya, “dan kalau aku belum mengundangmu ke upacara, itu karena Helen tidak dalam posisi untuk—”

Kurasa dia menyelesaikan kalimatnya, tapi aku tidak mendengarkan. Kalau pernikahannya sedekat itu, maka bodoh sekali aku jika berusaha menghalangi. Aku meminggir untuk kedua kalinya.

Tapi aku tak bisa tenang. Taylor teman yang baik; akan jadi aib jika dia dibiarkan menikahi seorang wanita yang bersama­nya dia tak pernah bisa bahagia. Dia akan kecewa berat, jauh lebih berat dibanding kebanyakan pria. Kurangnya prinsip atau bahkan kepekaan wanita ini akan membuatnya sengsara. Mengharap surga, dia takkan perlu neraka untuk mencelakakan dirinya; api pencucian sudah cukup. Maka pantaskah kubiarkan dia meneruskan maksudnya berkenaan dengan Ny. Walworth, padahal boleh jadi wanita inilah yang—aku berhenti dan coba membangkitkan wajahnya di depanku. Wajah yang manis dan barangkali tulus. Aku sendiri bisa saja percaya padanya, tapi aku tidak mencari kesempurnaan, sementara Taylor sebaliknya, dan pasti marah jika dia tertipu dalam harapannya. Tapi satu minggu lagi! Sudah terlambat untuk campur tangan—hanya saja tak pernah terlambat sampai tali pernikahan diikat. Selagi memikirkan ini, kuputuskan sesuai kata hati, dan boleh dibilang tidak bijak, untuk memberinya isyarat bahaya, dan kulakukan dengan cara ini:

“Taylor,” kataku, setelah kutempatkan dia dengan aman di kamarku, “aku mau cerita sedikit soal riwayat pribadi, kukira cukup aneh untuk membuatmu tertarik bahkan di malam pernikahan. Entah kapan kita akan bertemu lagi, dan aku ingin kau tahu bagaimana seorang pengacara dan pria berpenga­laman kadang bisa tertipu.”

Judul asli : Shall He Wed Her? ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, August 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment