Skip to content
Hantu Membara – Relift Media

Hantu Membara

Aku mendengar teriakan paling mengerikan yang pernah terdengar oleh manusia. Bukan rintihan, bukan pula jeritan—hanya teriakan. Lalu, sementara aku memantapkan syarafku, sebuah sosok—sosok putih ber­kobar, terbakar—timbul dari ketiadaan.


Reporter Hutchinson Hatch berdiri di samping meja Editor Kota sambil merokok, dengan sabarnya menunggui pria energik itu menyelesaikan beberapa urusan. Para Editor Kota selalu punya beberapa urusan. Profesi menghitung denyut nadi dunia memang menyibukkan. Akhirnya si Editor Kota bangkit dari tumpukan barang dan memungut selembar kertas yang dia tulisi beberapa hieroglif aneh, melambangkan penafsirannya terhadap seni tulis tersebut.

“Takut hantu?” tanyanya.

“Entahlah,” sahut Hatch, tersenyum tipis. “Aku tak pernah bertemu hantu.”

Well, sepertinya ini cerita bagus,” jelas Editor Kota. “Rumah berhantu. Tak ada yang mau tinggal di sana; segala macam kejadian aneh, gelak tawa kesetanan, erangan, dan sebagainya. Rumah itu milik Ernest Weston, seorang makelar. Sebaiknya kau segera meluncur dan mengeceknya. Kalau ini menjanjikan, kau boleh menghabiskan satu malam di sana untuk artikel Minggu. Tidak takut, kan?”

“Belum pernah aku mendengar hantu menyakiti manusia,” balas Hatch, masih tersenyum tipis. “Kalau yang ini menyakiti­ku, artikelnya justru akan lebih bagus.”

Begitulah, perhatian tertuju pada misteri seram teranyar: kota kecil di pinggir laut yang sejak dulu selalu menyimpan misteri seram.

Dalam dua jam, Hatch tiba di sana. Dia sudah menemukan rumah tua Weston, demikian sebutannya, sebuah struktur rangka dua lantai yang dibangun dengan kokoh, telah berdiri selama enam puluh sampai tujuh puluh tahun, tinggi di atas jurang berpemandangan laut, di tengah-tengah sebidang tanah seluas sepuluh sampai dua belas akre. Dari jauh wujudnya mengesankan, tapi begitu dilihat dari dekat, setidaknya dari luar, kondisinya bobrok.

Tanpa bertanya kepada siapapun di desa, Hatch memanjat jalan jurang terjal menuju rumah tua tersebut, berharap menemukan seseorang yang memberinya izin untuk melihat-lihat. Tapi tak tampak siapapun. Kemurungan dan kesuraman menyelimutinya, semua daun jendela ditutup rapat.

Tak ada jawaban terhadap ketukan kerasnya di pintu depan. Digoyangnya daun-daun jendela, tanpa hasil. Kemudian dia mengitari rumah ke belakang. Di sini dia menjumpai sebuah pintu dan langsung menggedornya. Tetap tak ada jawaban. Dia mencoba membukanya, dan masuk. Dia berdiri di dapur, lembab, dingin, dan gelap akibat tertutupnya daun-daun jendela.

Melirik-lirik ruangan, dia melintasi sebuah lorong belakang menuju ruang makan, yang kini sunyi tapi dulunya nyaman dan berperabot cantik. Lantai kayu kerasnya diselimuti debu. Hawa penelantaran merembes ke mana-mana. Tak ada furnitur, hanya kotoran yang bertumpuk dengan sendirinya.

Dari titik ini, persis di dalam pintu ruang makan, Hatch memulai semacam telaah arsitektur bagian dalam. Di sebelah kiri ada pintu, kamar kepala pelayan. Ada sebuah terusan menyambung, tiga langkah menuju dapur yang barusan ditinggalkan.

Lurus di depannya, terpasang di dinding, di antara dua jendela, terdapat cermin besar, kira-kira tujuh atau delapan kaki tingginya, dengan lebar sebanding. Satu cermin berukuran sama terpasang di dinding sebelah kiri, di ujung ruangan. Dari ruang makan, dia melewati lorong lebar beratap busur menuju ruangan berikutnya. Lorong busur ini membuat kedua ruangan hampir menyatu. Yang kedua ini, duganya, pernah menjadi ruang tinggal, tapi di sini juga tak ada apa-apa selain tumpukan kotoran, perapian bergaya kuno, dan dua cermin panjang. Begitu dia masuk, perapian ada di sebelah kirinya, dan salah satu cermin besar persis ada di depannya, sedangkan satu lagi di sebelah kanan.

Judul asli : The Flaming Phantom ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, November 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment