Skip to content
Teman Lama – Relift Media

Teman Lama

Otaknya terus membayangkan temannya yang berwajah pucat, bermata aneh, kelaparan dan lusuh, berbaring dengan pakaian lengkap dan sepatu di ranjang. Dia mengenang masa-masa bersama di sekolah sebelum mereka berpisah.


Pukul sebelas malam, Marriott muda mengunci diri di dalam kamar, belajar sekeras-kerasnya. Dia adalah “Mahasiswa Tahun Keempat” di Universitas Edinburgh dan begitu sering gagal dalam ujian khusus ini sampai-sampai orangtuanya positif menyatakan tak mampu lagi memasok dana untuk mempertahankannya di kampus.

Kamarnya murah dan kumal, tapi biaya kuliahlah yang menyedot uangnya. Jadi Marriott akhirnya menguatkan diri dan bertekad untuk lulus atau mati dalam upayanya, dan selama beberapa pekan ini dia membaca serajin mungkin. Dia mencoba menutupi waktu dan uang yang hilang, yang menunjukkan betapa dia tak paham nilai keduanya. Manusia luar biasa—sedangkan Marriott adalah manusia biasa dalam segala pengertian—sanggup memaksa otak seperti yang dia lakukan akhir-akhir ini, tanpa membayar konsekuensinya cepat atau lambat.

Di antara para mahasiswa, dia punya beberapa teman atau kenalan, dan mereka sudah berjanji takkan mengusiknya di malam hari. Mereka tahu akhirnya dia membaca dengan sungguh-sungguh. Karenanya, dengan perasaan kaget bukan kepalang, dia mendengar bel pintunya berbunyi pada malam ini dan sadar dirinya kedatangan tamu. Sebagian orang akan cukup meredam bel dan meneruskan kegiatan mereka tanpa suara. Tapi Marriott bukan tipe ini. Dia gelisah. Pikirannya akan terganjal semalaman jika tak tahu siapa tamu yang datang dan apa yang diinginkan. Oleh sebab itu, satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah mempersilakan masuk—dan keluar lagi—secepat mungkin.

Pemilik pondok tidur pada jam sepuluh tepat, sesudah itu tak ada yang mampu memancingnya untuk mendengar bel, maka Marriott pun meloncat dari buku-bukunya disertai seruan yang menjadi pertanda buruk atas penyambutan tamunya, dan bersiap mempersilakan masuk dengan tangannya sendiri.

Jalanan kota Edinburgh sangat sepi pada jam selarut ini—larut untuk ukuran Edinburgh—dan di lingkungan hening Jalan F, di mana Marriott tinggal di lantai tiga, nyaris tak ada suara yang memecah kesunyian. Sewaktu dia menyeberangi ruangan, bel berbunyi untuk kedua kalinya, dengan kebisingan yang tak perlu, lalu dia membuka kunci pintu dan masuk ke lorong kecil sambil marah dan jengkel terhadap gangguan dua kali tersebut.

“Semua temanku tahu aku sedang belajar untuk ujian ini. Mengapa mereka datang mengganggu selarut ini?”

Penghuni-penghuni gedung, termasuk dirinya, adalah mahasiswa kedokteran, mahasiswa umum, para advokat miskin, dan sebagian lain tak punya pekerjaan jelas. Tangga batu, yang diterangi redup di tiap lantai oleh pancaran gas yang tak melampaui ketinggian tertentu, berputar turun ke lantai setingkat jalan raya, tanpa karpet atau pagar. Di beberapa lantai, tangganya lebih bersih. Tergantung pemilik pondokan di lantai tertentu.

Sifat akustik tangga spiral terasa khas. Marriott, berdiri dekat pintu terbuka, dengan buku di tangan, mengira pemilik langkah kaki akan muncul. Suara sepatu begitu dekat dan nyaring sampai seperti mendahului pemiliknya. Penasaran siapa yang datang, dia berdiri dengan sikap sambutan sengit terhadap orang yang berani mengganggu pekerjaannya. Tapi orang itu tak kunjung muncul. Langkah-langkah kaki terdengar hampir di depan matanya, tapi tak ada siapapun terlihat.

Tiba-tiba sensasi ketakutan melandanya—punggungnya merinding. Namun perasaan itu lenyap tak lama kemudian. Dia sedang bergumul untuk memanggil tamu gaibnya keras-keras, atau membanting pintu dan kembali membaca bukunya, ketika penyebab gangguannya pelan-pelan berbelok di sudut dan menampakkan diri.

Judul asli : Keeping His Promise ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment