Skip to content
Genta Berhantu – Relift Media

Genta Berhantu

Selama beberapa menit dia berdiri, memandang hampa. Apa yang menyebabkan genta ini berbunyi? Sikapnya kalem, dingin, tenang, ingin tahu—akal sehat yang gigih mengilhami kesangsiannya.


Kejadiannya sepele tapi anehnya begitu membingungkan, bahkan akal enggan menerimanya sebagai kenyataan padahal ada bukti indera pendengaran yang tak terbantahkan. Sementara detik demi detik berlalu, Franklin Phillips sama sekali tak yakin itu betul-betul terjadi, dan perlahan-lahan keraguan tersebut mulai membentuk keyakinan. Lalu, karena otaknya tidak siap menjelaskan, masalah itu dianggap mustahil. Sudah pasti tak terjadi. Tn. Phillips sedikit tersenyum. Tentu saja, itu—pasti—bentuk stresnya.

Tapi, selagi kemustahilan ini semakin mempengaruhinya, gemerincing musikal masih menggema samar dalam memori­nya, dan matanya masih terpaku penasaran pada gong Jepang, sumber suara itu. Gongnya bertipe standar—enam cakram perunggu, atau mangkuk terbalik, dengan ukuran semakin besar, digantung bertumpuk, yang paling besar ada di puncak, dan diwarnai aneh dengan warna-warna kemerahan seni deko­ratif kuno Jepang. Gong tersebut bergelantung tak bergerak di ujung tali sutera yang merosot curam dari langit-langit di atas pojok mejanya. Tampilannya memang tak berbahaya, tapi—tapi—

Saat dia memandanginya, genta berbunyi lagi. Nadanya jernih, kaya, bergetar—dentuman yang menyembur tiba-tiba seolah atas kemauannya sendiri, geletar bernada penuh, lalu menghilang pelan. Tn. Phillips mulai berdiri sambil berseru.

Di dunia pasar uang Franklin Phillips dipandang sebagai sanggahan terhadap semua teori bencana fisik akibat giatnya mengejar hidup—dia antitesis stres berwujud manusia. Dia bernafas empat belas kali sampai menit ini dan denyut jantungnya selalu satu per tujuh puluh satu. Ini tak berubah meski jutaan dolar dipertaruhkan di pasar yang tak terduga atau memesan sebatang cerutu. Dalam kekaleman ini ada kekuatan yang memungkinkannya menggapai usia 50 dalam kondisi mental dan fisik sempurna.

Di balik kenormalan ini ada akal yang tenang dan ingin tahu; jadi sekarang, dia mengambil pensil dan mengetuk genta-genta gong satu persatu, dimulai dari bawah. Lengkingan nada pertama segera memberitahunya bahwa itu bukan nada yang tadi berbunyi; begitupun dengan yang kedua atau ketiga. Pada genta keempat, dia ragu dan mengetuk sekali lagi. Lalu dia mengetuk yang kelima. Yang ini. Genta bergetar dan sedikit berayun akibat pukulan tersebut, ringan seperti tadi, dan dia mengetuknya dua kali lagi. Dia pun kian yakin.

Selama beberapa menit dia berdiri, memandang hampa. Apa yang menyebabkan genta ini berbunyi? Sikapnya kalem, dingin, tenang, ingin tahu—akal sehat yang gigih mengilhami kesang­siannya.

“Sepertinya gara-gara stres,” katanya sejenak kemudian. “Tapi aku sedang mengamatinya, dan—”

Kemungkinan stres tiba-tiba terkesampingkan, dan dia secara sistematis mencari suatu penjelasan nyata. Apa tadi ada serangga membentur genta? Tidak. Dia yakin, sebab dia sedang mengamatinya ketika berbunyi untuk kedua kalinya. Jika ada, serangga itu pasti sudah dilihatnya. Apa ada sesuatu jatuh dari langit-langit? Tidak. Dia juga akan melihatnya. Dengan mata siaga dia melihat-lihat ruangan kecil tersebut. Itu merupakan ruang kerja pribadinya—semacam kantor di rumah. Dia sedang sendirian; pintu terkunci; segalanya tampak normal.

Barangkali jendela! Jendela yang menghadap timur terbuka terhadap udara malam hangat pertama di musim semi yang agak ribut. Anginlah yang mengusik gongnya! Dia melompat saat terpikir hal tersebut. Namun kemudian pemikiran itu memudar begitu dilihatnya gorden jendela bergelantung lemas; gerakan udara terlalu ringan untuk mengusiknya. Mungkin ada sesuatu yang dilemparkan lewat jendela! Terkaan absurd ini segera terbantahkan. Ada kasa halus di jendela, butiran pasir pun nyaris tak bisa menembusnya. Dan kasa ini masih utuh.

Judul asli : The Haunted Bell ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment