Skip to content
Bayangan Kelam – Relift Media

Bayangan Kelam

Hidupnya mengalir di atas gelombang tenang dan lambat, tak terusik oleh riakan kepedihan. Tapi malam ini dia merasakan segala kepedihan dan penyesalan; kenangan hidup yang menderita dan disia-siakan; perihnya penghinaan dan pencemaran.


Wildheath Grange berdiri agak jauh dari jalan, dengan dataran tandus di baliknya, dan beberapa pohon cemara—bongkol terurai diterpa angin—sebagai pelindungnya. Ini merupakan rumah sepi di jalan sepi, sedikit lebih baik dari jalan setapak, yang melintasi padang-padang pasir terpencil menuju pantai; dan rumah ini menyandang nama buruk di antara penduduk asli desa Holcroft, tempat terdekat di mana manusia bisa dijumpai.

Meski demikian, rumah tua tersebut bagus, dibangun pada masa ketika pasokan batu dan kayu tak terbatas—rumah batu kelabu tua yang indah, dengan banyak muka, dudukan-dudukan jendela yang dalam, tangga yang lebar, gang-gang sempit gelap, pintu tersembunyi di pojok-pojok aneh, lemari-lemari dinding sebesar ruang modern, dan gudang-gudang bawah tanah di mana sekompi prajurit mungkin pernah bersembunyi.

Mansion tua nan luas ini telah diserahkan kepada tikus, kesunyian, gema, dan tiga orang sepuh: Michael Bascom, yang nenek moyangnya adalah tuan tanah terkemuka di lingkungan ini, bersama dua pembantunya, Daniel Skegg dan isterinya, yang telah mengabdi sejak pemilik rumah tua suram tersebut meninggalkan universitas, di mana dia menghabiskan lima belas tahun hidupnya—lima tahun sebagai mahasiswa, dan sepuluh tahun sebagai profesor ilmu alam.

Pada umur 33, Michael Bascom tampak separuh baya; pada umur 56, dia berparas, bergerak, dan berbicara seperti kakek-kakek. Selama kurun dua puluh tiga tahun itu dia hidup sendirian di Wildheath Grange, dan orang-orang desa sering bergosip bahwa rumah itulah yang membuatnya demikian. Ini pemikiran takhayul dan mengkhayal, sudah pasti, tapi tidaklah sulit menelusuri pertalian antara bangunan suram nan sepi dan orang yang tinggal di dalamnya. Keduanya sama-sama terasing dari perhatian manusia; keduanya memiliki suasana melankolis kuat, ditimbulkan oleh kesunyian abadi; keduanya sama-sama memiliki corak pudar, pembusukan perlahan.

Tapi betapapun sepinya hidup Michael Bascom di Wildheath Grange, dia tak mengubah suasana. Dia senang menukar keterasingan ruang-ruang kuliah dengan kesunyian Wildheath. Cintanya pada riset ilmiah sangat fanatik, dan hari-hari sunyinya diisi dengan kerja keras yang nyaris selalu menarik perhatiannya dan memberinya kepuasan. Ada periode depresi, terkadang keraguan, ketika sasaran yang ditujunya tidak tercapai, dan semangat di dalam dirinya meredup. Untungnya masa-masa seperti itu sangat jarang. Dia punya kekuatan kontinuitas yang membawanya ke puncak pencapaian tertinggi, dan mungkin yang memberinya nama besar dan ketenaran di seluruh dunia, tapi disertai malapetaka yang membebani tahun-tahun kemundurannya dengan penyesalan mendalam.

Suatu pagi di musim gugur—ketika dia sudah menghabiskan dua puluh tiga tahun di Wildheath, dan baru mulai menyadari bahwa pembantu setianya, yang telah berumur paruh baya saat pertama kali bekerja, semakin menua—sewaktu sarapan, renungan Tn. Bascom mengenai risalat teranyar teori atom dibuyarkan oleh tuntutan mendadak dari Daniel Skegg. Lelaki tersebut sudah biasa menunggu tuannya dalam kebisuan, jadi ucapannya ini terasa mengagetkan, seolah patung dada Socrates di atas lemari buku tiba-tiba bicara dalam bahasa manusia.

“Percuma,” kata Daniel, “harus ada seorang anak perempuan untuk isteriku!”

“Seorang apa?” desak Tn. Bascom, tanpa mengalihkan perhatiannya dari tulisan yang sedang dibaca.

“Seorang anak perempuan—untuk berlari-lari dan mencuci, dan membantu perempuan tua. Kakinya semakin lemah, kasihan. Kita tidak bertambah muda dalam dua puluh tahun terakhir.”

Judul asli : The Shadow in the Corner ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment