Skip to content
Kamar #7 – Relift Media

Kamar #7

Akan terjadi sesuatu hari ini. Aku berkata pada diriku sendiri—itulah alasanku berada di sini. Tapi, aku ketakutan. Dan dalam ketakutan bahwa peristiwa yang sama akan menimpaku sebagaimana para pendahuluku, ada ketakutan aneh lain.


Ketika mahasiswa kedokteran, Richard Bracquemont, memutuskan pindah ke kamar #7 Hotel Stevens yang kecil, Rue Alfred Stevens (Paris 6), sudah tiga orang gantung diri dari selot jendela kamar itu pada tiga Jumat berturut-turut.

Yang pertama adalah seorang sales pria asal Swiss. Mereka menemukan jasadnya Sabtu malam. Dokter menetapkan kematiannya terjadi antara pukul lima sampai enam Jumat sore. Mayatnya tergantung pada kait kokoh yang didorong ke dalam selot jendela untuk gantungan pakaian. Jendelanya tertutup, dan orang itu menggunakan tali gorden sebagai simpul. Karena jendelanya rendah, dia bergelantung dengan lutut menyentuh lantai—pertanda bahwa bunuh diri tersebut dilakukan sesuai rencana. Belakangan diketahui, dia sudah berkeluarga, seorang ayah. Dia hidup bahagia, seseorang yang telah mencapai kedudukan aman dalam hidup. Tak ada surat yang menerangkan bahwa dia akan bunuh diri…tidak pula wasiat.

Selain itu, tak satupun kenalan mendengar kabar darinya yang memungkinkan mereka untuk menduga kematiannya.

Kasus kedua tak jauh berbeda. Seniman Karl Krause, seorang pesepeda tali tinggi di Sirkus Medrano, pindah ke kamar #7 dua hari kemudian. Karena dia tak kunjung muncul di pertunjukan Jumat, sutradara mengutus seorang pegawai ke hotel. Di sana dia menemukan Krause di kamar yang tak terkunci, tergelan­tung dari selot jendela dalam keadaan persis seperti bunuh diri sebelumnya. Kematiannya sama-sama membingungkan. Krause sangat populer. Dia punya gaji tinggi, dan tampak menikmati hidupnya. Sekali lagi, tak ada surat bunuh diri; tak ada isyarat. Satu-satunya kerabat Krause adalah ibunya, yang rutin dikirimi 200 mark pada tanggal satu setiap bulan.

Bagi Madame Dubonnet, pemilik penginapan mungil dan murah yang pelanggannya kebanyakan adalah pegawai teater komidi Montmarte tak jauh dari situ, kematian aneh kedua di kamar yang sama ini berdampak buruk. Beberapa tamunya keluar, dan klien langganan lainnya belum kembali. Dia meminta bantuan teman pribadinya, inspektur polisi seksi sembilan, yang meyakinkan dirinya bahwa sang inspektur akan menolong semampunya. Inspektur tak hanya menyelidiki lokasi bunuh diri kedua tamu, tapi juga menempatkan seorang perwira di kamar misterius itu.

Perwira ini, Charles-Maria Chaumié, sebetulnya bersukarela untuk tugas tersebut. Chaumié adalah “Marsouin” tua, sersan marinir dengan delapan tahun masa bakti, yang telah mengisi banyak malam di pos-pos Tonkin dan Annam, dan menyambut begitu banyak perompak sungai dengan tembakan senapannya, sehingga dirasa cocok untuk menghadapi “hantu” yang didesas-desuskan oleh setiap orang di Rue Alfred Stevens.

Jadi dia pindah ke kamar itu pada Minggu malam dan pergi tidur dalam keadaan kenyang, setelah melahap berlimpah-ruah makanan dan minuman dari Madame Dubonnet yang patut dihormati.

Sejak saat itu, setiap pagi dan malam, Chaumié melakukan kunjungan singkat ke pos polisi untuk membuat laporan, yang, selama beberapa hari pertama, hanya terdiri dari pernyataan bahwa tak ada hal ganjil. Namun, pada Rabu malam, dia mengisyaratkan telah menemukan petunjuk.

Ketika didesak lebih jauh, dia meminta waktu lagi sebelum memberi komentar, sebab dia tak yakin temuannya itu terkait dengan kedua kematian, dan dia takut apa yang dikatakannya akan membuat dirinya tampak konyol.

Judul asli : The Spider
Die Spinne
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment