Skip to content
Apakah Yahudi Korban atau Pelaku Persekusi Amerikanisme? – Relift Media

Apakah Yahudi Korban atau Pelaku Persekusi Amerikanisme? Bacaan non-fiksi sosial

author _Henry Ford_; date _1921_ genre _Sosial_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Harapan riil orang-orang Yahudi tertulis dalam nubuat umum Yahudi bahwa Kristen ditakdirkan untuk binasa. Itu akan binasa dengan menjadi Yudaisme, untuk segala maksud dan kegunaan. Dan itu akan menjadi Yudaisme, pertama-tama dengan mengeluarkan semua doktrin terkait oknum Kristus.
“Separuh Kristendom menyembah seorang pria Yahudi, separuh lainnya menyembah seorang wanita Yahudi.” (Editorial Yahudi)
“Jika kisah injil benar, Yudas adalah jenis orang yang sangat terhormat. Baru setelah dia menjadi konvert Kristen-lah dia menjadi sesuatu yang membuang kenangannya sebagai hal terkutuk selama 1900 tahun.” (Editorial Yahudi)
“Negeri kita sering disebut bangsa Kristen. Tak diragukan lagi mayoritas warga kita mempercayai ini. Tak kurang seorang pakar seperti Hakim Brewer dari Mahkamah Agung sendiri mengekspresikan begitu pada 1892. Tapi pernyataan itu jelas tidak benar... Ini bukan bangsa Kristen. Dalam hal inspirasi, setidaknya, ini adalah bangsa Ibrani, sebab Konstitusi yang kita nikmati sekarang berasal-muasal dari Persemakmuran Ibrani.” (Editorial Yahudi)
(Dari notulen rapat Committee on Families of the New York Board of Child Welfare.) Tn. Hebbar: “Itu salah satu hal yang kupikirkan, bahwa seorang janda sengaja membawa masuk ke rumahnya seorang anak tanpa nama dan akibat tak terelakkan adalah bahwa anak-anak sahnya kemudian selalu ditunjuk.” “Nona Sophie Irene Loeb: “Menyangkut anak-anak tanpa nama, Kristus sendiri adalah anak tanpa nama. Mari kita menjauh dari anak-anak tanpa nama.” Dr. Dirvoch: “Aku pikir, di mana ada tiga atau empat anak di sebuah rumah dan satu bocah asing memasuki rumah itu tanpa seorang ayah, kau sedang merusak moral anak-anak sah itu dengan membiarkan mereka berada di lingkungan demikian.” Nona Loeb: “Kukatakan pada kalian bahwa komite ini, jika mengambil sikap seperti itu, seratus tahun ketinggalan zaman.” Tn. Cunnion: “Apapun yang bertentangan dengan kesucian adalah amoral.” Nona Loeb: “Apa kaitannya dengan persoalan kesu­cian? Apakah ibunya Kristus suci?” Tn. Cunnion: “Tentu saja.” Nona Loeb: “Dia (Kristus) tak punya nama!” Tn. Cunnion: “Kau tak bisa masukkan itu ke sini. Kami percaya dia dikandung tanpa dosa.” Tn. Menehen (kepada Nona Loeb): “Salah besar membuat pernyataan itu.” (Dikutip dalam surat aduan kepada Walikota Hylan.)
Hubungan intim gereja dan negara di Amerika Serikat yang agung dan non-sektarian dipertontonkan lang­sung pada 12 Agustus (1913), ketika seorang deputi sersan pengamanan Senat buru-buru dikirim untuk memanggil pendeta dari denominasi lama manapun untuk membuka Senat dengan doa. Sesi dibuka satu jam lebih awal daripada biasanya, pendeta reguler tidak ada, tapi dengan sisa dua menit terluang si deputi datang kembali dalam sebuah mobil, bergegas ke kantor Wakil Presiden dan memperkenalkan Pdt. Dr. C. Albert Homas, dari Canonsburg, Pennsylvania, kepada Tn. Marshall tepat pada waktunya untuk Wakil Presiden memimpin ke ruang Senat untuk membuka sesi pada jam 11, dan sekali lagi Union diselamatkan. Kita bergidik membayangkan apa yang bakal terjadi jika tak ada pendeta ditangkap tepat waktu untuk membuka sesi dengan doa!” (Editorial Yahudi)
“Presiden Wilson di acara pelantikannya memberi satu contoh lain fakta masyhur bahwa pada momen-momen khidmat ketika mereka butuh pelipur dan ins­pirasi, orang-orang Kristen berpaling pada Perjanjian Lama dan bukan pada Perjanjian Baru. Jadi Presiden Wilson, ketika mencium alkitab usai mengambil sum­pah pelantikan, memilih petikan Mazmur 46.” (Edito­rial Yahudi)
“Dalam kolom-kolom ini sering dirujuk sejumlah pidato yang diberikan oleh mendiang Isaac M. Wise di perayaan penghormatan peringatan ulangtahun ke-80-nya, dan dalam pidato-pidato itu dia memprediksi bahwa dalam seperempat abad dari tanggal tersebut (1899) tidak akan ada yang tersisa dari kepercayaan akan ketuhanan Yesus Kristus atau dogma-dogma khas Kristen di dalam Kristen Protestan, dan bahwa semua orang Kristen Protestan, dengan nama apapun mereka menyebut diri mereka, pada hakikatnya akan menjadi orang Yahudi dalam hal kepercayaan. Bagi siapapun yang mencatat tanda-tanda zaman, jelas bahwa rama­lan ini sedang tergenapkan dengan pesat... Takhayul Yesus dan dogma-dogma fantastis yang dibangun di atas dugaan kemuasalan ilahinya mati secara pelan-pelan saja, tapi bahwa mereka sedang mati, itu jelas kelihatan.” (Editorial Yahudi)
Subjek artikel ini adalah “Prasangka dan Persekusi Kea­gamaan—Apakah Kaum Yahudi Korban atau Pelaku?” Sebuah studi terhadap sejarah dan terhadap jurnalisme Yahudi kontemporer menunjukkan bahwa prasangka dan persekusi Yahudi adalah sebuah fenomena berkelanjutan di manapun kaum Yahudi menggapai kekuasaan, dan bahwa dalam tindakan ataupun perkataan, ketidakmampuan yang dibebankan pada orang Yahudi tidak sebanding dengan ketidakmampuan yang dia bebankan dan masih hendak dia bebankan pada orang-orang non-Yahudi. Itu kebalikan yang agak mengagetkan dari semua hal yang sudah kita dengar dari sejarah-sejarah kita yang di-Yudaisasi, tapi meski begitu itu tampaknya fakta. Perhatian sekali lagi terpanggil pada fakta bahwa kaum Yahudi sendiri tidak menjeritkan “persekusi keagamaan” di sini atau di tempat lain, tapi mereka membiarkan “kedok-kedok non-Yahudi” mereka melakukan itu untuk mereka—sebagaimana mereka tidak mengingkari pernyataan-pernya­taan yang dibuat dalam seri ini (di antara sesama mereka sendiri, mereka mengakui sebagian besarnya dengan leluasa) tapi membiarkan “kedok-kedok non-Yahudi” melakukannya untuk mereka. Kaum Yahudi tidak bakal segan menjeritkan “persekusi keagamaan” (asal mereka bisa membuat itu berlaku) seandainya mereka tidak khawatir itu akan menarik perhatian pada aktivitas persekusi mereka sendiri. Tapi “kedok-kedok non-Yahudi” mereka telah mendatangkan itu pada mereka. Tidak ada gereja Kristen yang belum diserang berulang­kali oleh kaum Yahudi. Mereka sudah menyerang Gereja Katolik. Ini paling mena­rik saat ini ketika agen-agen Yahudi sedang berbuat sebisa mereka untuk membangkitkan sentimen Katolik agar memi­hak mereka dengan mengedarkan tudingan-tudingan yang diketahui palsu oleh para agen ini. Dearborn Independent punya keyakinan penuh akan informasi yang mungkin dimiliki para pemimpin Katolik mengenai Persoalan Yahudi. Perihal subjek ini para pendeta Katolik tidak tersesat. Contoh-contoh serangan ini banyak sekali. “Separuh Kristendom menyembah seorang wanita Yahudi” bukanlah sebuah pernyataan tapi sebuah hinaan, yang dilempar oleh orang-orang Yahudi yang berucap dalam ritual doa pagi: “Diberkahilah engkau, wahai Allah Tuhan kami, Raja Semesta, yang tidak menjadikanku seorang wanita.” Diskusi para Talmudis mengenai Bunda Perawan seringkali keji. Festival-festival Kristen, yang terpelihara berkat kebiasaan dan suara hati Katolik, semuanya diserang oleh orang-orang Yahudi. Bani Israel Amerika, yang berprestise besar dalam golongan Yahudi Amerika karena didirikan oleh Rabbi Isaac M. Wise, menentang penetapan Hari Columbus dan men­caci-maki Gubernur Hughes lantaran menandatangani hukum yang menjadikannya hari libur di New York. UU yang menetapkannya patut “dicibir oleh orang-orang berpikir”. Mengapa? Bukankah penemuan Amerika adalah peristiwa yang patut dikenang? Ya, tapi Columbus seorang Katolik! Namun, pada bulan-bulan belakangan, kaum Yahudi sedang membuktikan dia adalah seorang Yahudi, jadi kita dapat menyangka suatu hari nanti akan melihat Hari Columbus didesakkan dengan ritus-ritus Yahudi. Editorial Catholic Columbian menyinggung pengaruh Yahudi yang meningkat terhadap pers Amerika, dalam kata-kata ini: “Golongan Yahudi mulai mencengkeram berita negara ini sebagaimana mereka mencengkeram agensi Reuter dan Havas di Eropa.” Sebuah pengamatan sopan dan sesuai kenyataan. Tapi penggemuruh editorial Yahudi membalas: “Colum­bian, dengan cara Yesuitis-nya yang sembunyi-sembunyi, tidak menyebutkan fakta bahwa koran-koran (Yahudi) ini ada­lah yang paling bersih di negara ini. Columbian tidak bisa me­nunjuk satupun harian milik salah seorang saudara seagama­nya yang mulai menyamai koran-koran di atas.” Semangat manis yang ditunjukkan di sini sangat signi­fikan hari ini ketika sedang dibuat seruan untuk menciptakan sentiman Katolik pro-Yahudi yang kuat. Jika di dunia ini ada usaha orang-orang Katolik di luar gereja yang telah memenangkan restu penuh dari dunia Kris­ten sebagaimana Passion Play di Oberammergau, penulis tidak tahu usaha apa itu. Tapi dalam sebuah volume berjudul “A Rabbi’s Impressions of the Oberammergau Passion Play”, Rabbi Joseph Krauskoptf, D.D., dari Philadelphia, telah menstigmatisasi produksi terkemuka itu sebagai penuh dengan kepalsuan dan anti-Semitisme ganas. Di mata sang rabbi tentu saja demikian, sebab baginya seluruh tradisi Kristen adalah dusta beracun. Seluruh struktur kebenaran Kristen, khususnya yang menyangkut oknum Kristus, adalah “halusinasi pria-pria emosional dan wanita-wanita histeris”. “Dengan begitu,” kata sang rabbi (hal. 127), “diciptakanlah cerita kejam yang menimbulkan lebih banyak kesengsaraan, lebih banyak penderitaan tak berdosa, dibanding karya fiksi lain manapun dalam jajaran seluruh sastra dunia.” Dan dengan begitu, para petani sederhana di Oberammergau, yang menampilkan keyakinan Katolik dalam pertunjukan yang menimbulkan rasa hormat, dilabeli sebagai orang-orang anti-Semit. Semua ini bukan kasus-kasus tunggal. Antagonisme ter­hadap Gereja Katolik mengalir di dalam literatur Yahudi. Sikap Yahudi dirangkum dalam sebuah editorial dalam Jewish Sentinel 26 November 1920, sebagai berikut: “Satu-satunya musuh historis besar kita, musuh paling berbahaya kita, adalah Roma dalam segala bentuk dan wujudnya, dalam segala percabangannya. Kapapun matahari Roma mulai ter­benam, matahari Yerusalem terbit.” Namun, hal-hal ini dike­tahui betul oleh para pemimpin Katolik.
Judul asli : Are the Jews Victims or Persecutors?<i=1mlpZDLOyqqLcq0RZXpn4eYJYb9ma76K6 489KB>Are the Jews Victims or Persecutors?
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Oktober 2023
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Apakah Yahudi Korban atau Pelaku Persekusi Amerikanisme?

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2023)