Skip to content
Amandemen Keagamaan: Haruskah Nama Tuhan Dalam Konstitusi? – Relift Media

Amandemen Keagamaan: Haruskah Nama Tuhan Dalam Konstitusi? Bacaan non-fiksi politik

author _William F. Jamieson_; date _1872_ genre _Politik_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ series_title _Musuh Terbesar Amerika_; series_no _#2_ “Bangsa-bangsa wajib mengakui Tuhan bangsa-bangsa. Tuhan adalah Tuhan bangsa-bangsa, sebagaimana halnya Tuhan individu-individu. Hukum-hukum-Nya memiliki otoritas tertinggi atas bangsa-bangsa dan pemerintah-pemerintah, sebagaimana halnya atas individu-individu.” Ribuan Kristiani yang kini menentang gerakan pencan­tuman nama Tuhan dalam Konstitusi AS akan dime­nangkan hatinya melalui argumen kuat, yang ampuh untuk seorang Kristiani, “Barangsiapa tidak memihak-Ku, berarti dia melawan-Ku,” dan kembarannya, “Barangsiapa meng­akui-Ku di hadapan manusia, Aku pun akan mengakui dia di hadapan Bapak-Ku di surga.” Lalu akan disajikan pelajaran praktis, “Apa kalian mau, sahabat-sahabat Kristiani, ditemu­kan dalam barisan musuh-musuh Yesus? Tengok sekeliling, dan lihatlah siapa yang menentang pengakuan akan Tuhan dan Juru Selamat kita! Orang-orang kafir, dan, barangkali, beberapa saudara Kristiani yang tersesat, yang akan mening­galkan penentangan mereka terhadap pemerintahan Yesus ketika mereka melihat ke dalam rombongan apa mereka telah hanyut. Maukah kalian menyalib Kristus sekali lagi dengan bekerja bahu membahu dengan mereka yang meng­ingkari-Nya, yang mencemooh ketuhanan-Nya? Golongan manusia yang menentang pengakuan akan Tuhan dalam Piagam besar kita adalah dengan sendirinya jaminan yang cukup akan benarnya kepentingan kita. ‘Jangan duduk dalam perkumpulan pencemooh.’ ‘Hai jiwaku, janganlah masuk dalam perundingan mereka, janganlah kemuliaanku me­nyatu dalam perkumpulan mereka.’” Argumen-argumen demikian, kuulangi, akan memiliki bobot di tengah ribuan orang yang saat ini tidak menyukai gerakan tersebut. Aku sudah sering mendengar argumen tersebut disajikan dengan gelora hebat dari berbagai mim­bar. Aku mendapat kesempatan istimewa untuk menghadiri Konvensi-konvensi Kristen, dan pertemuan Kristiani lain, di mana aku repot-repot memfonograf ucapan. Ucapan-ucapan itu akan dibubuhkan dalam tiga bab. Berhubung gaya sehari-hari adalah metode penyajian fakta dan kebenaran secara sederhana dan paksa, aku akan melaporkan dalam bentuk tersebut apa yang sudah kudengar dan kulihat mengenai persoalan besar ini. Untuk mudahnya, aku akan sajikan ulang tiga pandangan utama dalam oknum seorang Pendeta, yang akan menyuarakan golongan Kristiani Tuhan-dalam-Konstitusi, yang mana sudah sewajarnya. Kedua, Kristiani Anti-Amandemen, yang akan mempertahankan pandangan yang dipegang oleh massa Kristiani yang dengan jujur meyakini bahwa penga­kuan akan Tuhan dalam Konstitusi bakal menjadi musibah bagi agama. Ketiga, Liberalis, yang percaya pada Manusia, pada institusi manusia, dan seratus persen Amerikanis dalam semua pemikiran dan perasaannya, dan akan meng­ekspresikan sentimen liberal tentang negara ini. Dia, dan argumen-argumennya, akan menerima waktu dan perhatian hampir sebanyak yang umumnya didapat Liberalis dalam pertemuan Kristen. Bahkan Kristiani Anti-Amandemen, yang sepakat dengannya dalam menentang pengakuan politik akan Tuhan, tampaknya takut padanya; sebuah fakta yang dengan sigap ditangkap oleh Pendeta dan dimanfaat­kan. Ide-ide yang terkandung dalam kolokui telah betul-betul didakwahkan, dikatakan, dituliskan, dan dicetak. Banyak dari kata-kata yang kutangkap dengan mata penaku diucapkan di tengah deru tembakan teologis; tapi pandangan-pandangan secara umum adalah ekspresi dingin dan tenang dari beberapa pihak. Di beberapa Konvensi Kristen, kegemparan­nya hebat. Kadang sekitar selusin delegasi kependetaan akan berusaha bermimbar di saat yang sama. Pemandangan demikian lebih sering terjadi setelah seorang lawan kafir menyampaikan protesnya. Dia selalu memberi mereka sesuatu untuk dibicarakan dan menyebabkan mereka me­nampakkan kecenderungan kanibalistik untuk “menyem­belih dan memakan”-nya, sebagai cara paling mujarab untuk menyingkirkan “penistaan-penistaan dahsyat”-nya! Berhu­bung hanya satu orang yang bisa didengarkan dalam satu waktu, para pemburu mimbar, yang sudah menggerakkan tangan dengan liar dan memanggil lantang “Tn. Presiden!” dengan raut gelisah “demi Tuhan” di wajah mereka, menam­pakkan kekecewaan, sesuai macam-macam tabiat mereka, sambil satu persatu kembali duduk. Sekarang kita ada dalam Konvensi Kristen. Pertanyaan, “Haruskah nama Tuhan dimasukkan ke dalam Konstitusi AS?” Tak peduli argumen apa saja yang menentang itu, para delegasi semua memberi satu suara, yakni mendukung amandemen keagamaan. Orang yang tadinya tidak mendu­kung Tuhan dalam konstitusi tidak memenuhi syarat untuk menjadi delegasi, dan dia diharapkan akan memberikan suara ‘ya’ untuk setiap resolusi. Sebetulnya para delegasi tidak diharuskan memberikan suara, tapi itu dijadikan kesempatan penting dan sangat khidmat. Pemungutan suara dilakukan dengan banyak seremoni—memanggil ya dan tidak. Aku sudah melihat majelis-majelis seperti ini terdiam hening seperti kuburan saat nama setiap delegasi dipanggil, dan respon khidmat “ya!” terdengar. Umumnya ada banyak resolusi, yang masing-masingnya diberikan suara secara terpisah—resolusi-resolusi yang telah didiskusikan dengan ribut! Sekarang tenang! Inilah satu kemenangan Kristen lain! Tidak mengambil suara itu, dengan sikap bermartabat itu, bakal merusak efek Konvensi. Orang-orang kini sangat tercamkan bahwa apa yang dikatakan orang Yahudi, orang Kafir, dan orang Kristen konservatif untuk menentang gerakan ini telah gagal menghasilkan kesan sedikitpun; sebab bukankah suara-suara telah secara bulat mendukung pengakuan Tuhan? Kekafiran telah sering dikalahkan dengan cara ini!

DISKUSI

Pendeta: “Tuhan adalah Pencipta bangsa-bangsa, sebagai­mana halnya individu-individu. Manusia tidak menciptakan bangsa-bangsa, selain sebagai instrumen Tuhan. Seluruh umat manusia bersama-sama tidak mampu menciptakan sehelai rumput, ataupun sebutir materi; apalagi, organisme yang paling tinggi dan paling kompleks di antara semuanya, yakni bangsa! Apa kita pernah membayangkan diri kita telah menciptakan, atau sanggup melestarikan eksistensi bangsa kita ini untuk satu jam? Akan lebih dekat dengan kebenaran jika membayangkan bangsa ini telah menciptakan kita, kendati itu keliru. Daya cipta adalah milik Tuhan saja. Dia adalah Pencipta dan Pelestari bangsa-bangsa, sebenar-benarnya dan sebetul-betulnya, sebagaimana Dia adalah Pencipta dan Pelestari individu-individu. Dia menggenggam nyawa bangsa di tangan-Nya, sebenar-benarnya dan sebetul-betulnya, sebagaimana dia menggenggam nyawa individu-individu. Maka, tak seharusnya, kah, bangsa meng­akui Pencipta-nya? Apa alasan seseorang untuk berbuat ini, alasan yang tidak mengikat bangsa dengan sama kuatnya? Dia yang mengambil landasan lain, atau yang tidak merasa­kan pentingnya ini—bukankah dia di situ secara implisit menanamkan doktrin bahwa individu tidak wajib mengakui Pencipta-nya—yakni doktrin ateisme praktis?” Kristiani Anti-Amandemen Keagamaan: “Jika ‘Tuhan adalah Pencipta bangsa-bangsa’, berarti bukan kita yang ber­tanggungjawab atas ‘Cacat keagamaan Konstitusi AS’? Dan jika Tuhan menciptakan bangsa ini, mengapa Dia izinkan ia menjadi makmur saat dihadapkan dengan pengelabuan dalam mukadimah Konstitusi itu, ‘Kami, rakyat Amerika Serikat,’ dst? “Jika kita mengakui Tuhan dalam Konstitusi, tapi terus-menerus berdosa sebagai individu, akankah bangsa atau rakyat lolos dari azab? “Nah, sebagaimana pengakuan iman Kristen lahiriah belaka, oleh seseorang, boleh jadi lahir dari motif-motif yang sangat tak pantas atau tersesat, begitu pula pengakuan belaka atas Kristus oleh bangsa bukanlah bukti loyalitas bangsa tersebut kepada Kristus. Dan Kristus mungkin lebih dihormati dengan tidak diakui sama sekali, daripada diakui dan bangsa tersebut tidak sungguh-sungguh Kristiani.” Liberalis: “Jika aku percaya bahwa Alkitab-mu ditulis oleh Tuhan, maka aku wajib mengakui Tuhan adalah pencipta bangsa-bangsa. Teman pendetaku mengatakan, karena umat manusia tidak mampu menciptakan sehelai rumput, mereka tidak sanggup membuat bangsa. Kedua kasus ini tidak sejajar. Ada beberapa hal yang bisa manusia lakukan yang Tuhan-mu tidak bisa lakukan, dan hal-hal lain yang Alam bisa lakukan yang manusia tidak bisa kerjakan. Manu­sia bisa membuat mesin uap dan menjalankannya dengan laju 40 mil per jam. Tapi Tuhan tidak bisa memindahkannya satu inchi pun. Ada bukti sama banyaknya bahwa Tuhan membuat dan menginsinyuri lokomotif sebagaimana bahwa dia menciptakan sebuah bangsa dan mengelola pemerin­tahannya. Jika Tuhan memang menciptakan bangsa-bangsa, mengapa dia tidak menjalankan mereka? Apakah manusia telah merebut pemerintahan Tuhan dari tangan-Nya? Jika Tuhan Yesus Kristus-mu adalah penguasa di antara bangsa-bangsa, lebih baik Dia turun takhta, jika keluhan-keluhan kaum pendeta memiliki landasan apapun; sebab mereka bilang urusan tak pernah dikelola seburuk ini, dan menya­takan itu semakin buruk. Tengoklah Prancis Kristiani, Prusia Kristiani—dan, bahkan, semua bangsa Kristiani di bumi ini!” Pendeta: “Bangsa-bangsa wajib mengakui Tuhan bangsa-bangsa. Tuhan adalah Tuhan bangsa-bangsa, sebagaimana halnya Tuhan individu-individu. Hukum-hukum-Nya memi­liki otoritas tertinggi atas bangsa-bangsa dan pemerintah-pemerintah, sebagaimana halnya atas individu-individu. Bagaimanapun dipastikan, hukum-hukum ini memiliki oto­ritas tertinggi dalam seluruh bidang kehidupan bangsa dan moral. Tuhan meminta bangsa-bangsa, dengan demikian, bertanggungjawab kepada-Nya. Dia mempahalai mereka se­bagai demikian atas ketaatan; Dia mengazab mereka sebagai bangsa-bangsa atas ketidaktaatan. Dalam pembalasan ke­bangsaan demikian, entah kemurahan atau penghakiman, tidak ada pembedaan antara individu-individu tak bersalah dan bersalah. Ketika bangsa taat, semua memetik manfaat ridho Tuhan; ketika ia diazab atas ketidaktaatan, orang tak bersalah ikut menderita bersama orang bersalah; karena bangsa dianggap dan diperlakukan sebagai persona publik—dipahalai dan diazab sebagai demikian. Karenanya tertulis, ‘Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN.’ Ini adalah satu kenyataan sejarah sipil kaum Yahudi, dan juga bangsa-bangsa sekitar, Mesir, Arab, Fenisia, Asyur, Persia. Ini adalah satu kenyataan sejarah masa lalu semua bangsa—satu kenyataan yang harus dimasukkan ke dalam hati oleh semua bangsa yang ada demi kebaikan masa kini dan masa depan mereka. Jika bangsa-bangsa, sebagai demikian, bertang­gungjawab kepada pemerintahan moril Tuhan, dipahalai dan diazab sebagai bangsa-bangsa, maka mereka wajib meng­akui tanggungjawab ini, mengakui, sebagai bangsa-bangsa, Raja hakiki mereka. Setiap prinsip pemerintahan, setiap sentimen loyalitas, menuntut mereka berbuat demikian. Penolakan atau pengabaian untuk mengakui Tuhan merupa­kan pemberontakan terhadap pemerintahan-Nya. Pun tidak ada apapun yang bisa dikemukakan untuk menjustifikasi individu dalam melanggar kewajiban paling nyata dan sakral ini.” Kristiani Anti-Amandemen Keagamaan: “Berarti di sini kelihatannya bangsa dalam kapasitas organiknya dianggap persis sebagai persona atau individu, dan kewajiban-kewajiban yang sama dibebankan pada organisasi korporat itu seperti pada setiap jiwa individu, dan sebagaimana setiap jiwa berkewajiban tunduk pada Kristus sebagai Pengampun dan Penyelamat para pendosa, begitu pula tujuan besar Pemerintah adalah, sebagai sebuah organisasi, untuk mengakui Kristen sebagai satu-satunya agama yang benar, dan jika ia tidak mengakui Kristus secara demikian, ia tidak setia kepada hal yang merupakan tujuan tertingginya, dan akan mendatangkan pada dirinya sendiri murka Tuhan dan kehancurannya sendiri. Berarti ini adalah teorimu tentang pemerintah. “Pendek kata, bangsa ini, dalam kapasitas organiknya sebagai persona, harus mengakukan iman agama, dan itu harus agama Kristen. Tidak mungkin diartikan kurang dari ini, karena ini dalam pengertian sebuah pemerintahan Kristen. “Tapi Kristus dengan jelas mengatakan non tali auxilio (“tidak dengan bantuan demikian”). Dia tidak meminta pengakuan demikian dari wewenang sipil. ‘Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.’ ‘Siapa yang menjadikan-Ku hakim atau pengantara?’ Ketika orang-orang (lihat Yohanes 6:15) ingin membawanya dengan paksa dan menjadikan-Nya Raja, Dia menarik Diri. Dia menolak untuk bahkan memutuskan sebuah persoalan pihak, seperti dalam kasus pertanyaan, Apakah sah memberi penghormatan kepada Caesar? Kristus adalah Raja di Zion—Dia memerintah dalam Yakub. Dia tidak meminta agar hukum-hukum-Nya atau injil-injil-Nya ditulis dalam konstitusi manusia—tapi Dia menulis mereka pada hati manusia. Dia memerintah dalam hati ‘yang dari situlah pancaran kehidupan’. Dia telah memberikan kepada gereja-Nya—bukan kepada pemerintah sipil—misi menyebarkan iman. Jika kita mencontohkan pencantuman sebuah kredo agama dalam Konstitusi, suara mayoritas bisa mengubah kredo kapan saja. Jika orang China sampai mendapatkan suara mayoritas (dan hal ini memungkinkan), mereka bisa saja mengeluarkan Yesus lewat voting dan memasukkan Joss lewat voting. Kau bersikeras bahwa bangsa-bangsa adalah persona-persona moril, yang bertanggungjawab kepada Tuhan; jadi mereka seharusnya beribadah kepada Tuhan sebagai bangsa-bangsa, dan jika tidak mereka akan diazab. Jawaban: Sebuah bangsa hanyalah persona artifisial, bukan persona moril. Ia hanyalah korporasi—‘ia tidak memiliki jiwa’ seperti kata Sir Edward Coke. ‘Makhluk yang tidak punya nurani individu tidak mungkin persona moril.’ Dan dalih bahwa terdapat ‘nurani publik agregat’ adalah mustahil! Tanggungjawab individual adalah jiwa dari kebertanggung­jawaban. ‘Setiap orang dari kita akan mempertanggung­jawabkan dirinya sendiri kepada Tuhan.’ Kebertanggung­jawaban terkumpul dan terkonsolidasi bukanlah kebertang­gungjawaban sama sekali. Doktrin ini adalah jiwa dari gerombolan.”
Judul asli : The Great Question<i=1VO_Y6Mn4uHhWHZhy0oiRWdrH5wt64Q0Z 371KB>The Great Question
Pengarang :
Seri : Musuh Terbesar Amerika #2
Penerbit : Relift Media, September 2023
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Amandemen Keagamaan: Haruskah Nama Tuhan Dalam Konstitusi?

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2023)