Skip to content
Jiwa Islam – Relift Media

Jiwa Islam Bacaan non-fiksi sosial

author _Amos I. Dushaw_; date _1927_ genre _Sosial_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Allah tidak membeda-bedakan orang. Di hadapan-Nya, mereka semua setara. Di dalam Rumah Tuhan ini tidak ada bukti kebanggaan akan kekayaan atau ras. Bukan saja bahwa kaum miskin dan juga kaum kaya merasa nyaman di sini, tapi juga tidak ada garis warna yang dibuat. Studi perbandingan agama telah mengajari kita untuk menghargai agama-agama peradaban lain, dan juga telah memungkinkan kita untuk memahami makna utuhnya, sehingga kita dari Barat tidak lagi membagi umat manusia ke dalam dua golongan: Kristiani dan Paganis. Kita menyadari hari ini, tidak seperti sebelumnya, bahwa semua agama pada dasarnya satu, di mana setiap fasenya telah berkembang di jalan-jalan berbeda. Penulis Injil Keempat merasakan ini ketika dia menulis, “Terang yang sesungguhnya, yang mene­rangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” Penulis dan propagandis Kristen terkemuka dari abad pertama ini, ketika berhadap-hadapan dengan agama-agama kuno Ro­mawi, Yunani, dan Mesir, dan agama timur lain, melihat bahwa semua agama adalah seperti bulan, yang bersinar dengan cahaya pantulan, tapi di belakang mereka semua adalah satu matahari sentral bersama, sumber semua kebe­naran keagamaan. Sampai sekarang, orang-orang Kristen dari semua sekte menolak untuk mengakui nilai spiritual dan moral agama-agama lain, termasuk Islam. Sikap orang Kristen terhadap Islam ini dinyatakan secara penuh dalam Collect for Good Friday yang ditemukan dalam “Buku Doa Umum”, “Wahai Tuhan yang Maha Kasih, yang telah men­ciptakan semua manusia, dan tidak membenci apapun yang telah Kau ciptakan, tidak pula menginginkan kematian se­orang pendosa, tapi lebih senang dia dikonversi dan hidup; kasihilah semua orang Yahudi, orang Turki, orang kafir, dan orang bid’ah; dan cabutlah dari mereka semua kejahilan, ke­kerasan hati, dan kejijikan terhadap Firman-Mu.” Tapi opini-opini demikian telah berubah, dan untuk kebaikan semua, berkat pengetahuan yang lebih baik tentang Agama secara keseluruhan. Misionaris modern pergi menemui para pe­ngikut agama-agama lain, dengan semangat lebih mulia dibanding misionaris satu generasi lalu. Tujuannya bukan untuk menyelamatkan para paganis dari api neraka, tapi untuk berbagi dengan mereka buah peradaban-peradaban berbeda. Dia tahu bahwa perwakilan satu peradaban untuk peradaban lain dapat menerima, selain memberikan, se­suatu. Sikap ini lebih sehat, dan membuahkan hasil yang lebih baik. Itu menghasilkan persatuan dan kerukunan ketimbang perpisahan dan perselisihan. “Allahu akbar, Allah Maha Besar” adalah fondasi dan lan­dasan Islam. Bagi Muslim, itu berarti ketundukan penuh ke­pada Allah, untuk dunia ini dan alam berikutnya. Muslim sejati tidak akan kesulitan memahami sentimen Ayub ketika dia berkata, setelah kehilangan anak-anaknya, kekayaannya, kesehatannya, dan kepercayaan teman-teman, “Meski Dia membunuhku, aku akan tetap mempercayai-Nya.” Dia per­caya bahwa Allah tahu yang terbaik, dan selalu berbuat yang benar. Allah tidak boleh dipertanyakan/diragukan. Inilah yang menjadikan Islam kekuatan besar selama 1300 tahun ini. Tempat perhatian utama di kota Muslim manapun adalah Masjid, dengan kubahnya dan Muadzin yang memanggil orang-orang beriman untuk shalat lima kali sehari. Ini agama yang tidak bisa dipandang rendah oleh penstudi agama-agama. Jutaan penganut berimannya lebih loyal kepada Muhammad daripada orang Yahudi kepada Musa, atau Kristiani kepada Yesus. Carlyle menulis sebagai berikut tentang Islam dan Muhammad, “Hipotesis mutakhir kita tentang Muhammad, bahwa agamanya adalah sekadar tum­pukan perdukunan dan kedunguan, kini mulai benar-benar tak dapat dipertahankan oleh siapapun. Dusta-dusta, yang ditumpuk seputar orang ini karena didorong oleh semangat bermaksud baik, justru memalukan untuk kita sendiri. Islam dapat didefinisikan sebagai bentuk Kristen yang campur-aduk; seandainya Kristen tak ada, ia pun tak ada.” Dan Renan menyatakan, “Islam adalah versi Yudaisme yang diadaptasi dengan citarasa Arab.” Carlyle meminta perhatian pada fakta bahwa Muslim betul-betul mempercayai agama mereka. “Tak ada orang Kristen, sejak masa awal, kecuali barangkali para Puritan Inggris di zaman modern, yang pernah memegang agama mereka seperti Muslim memegang agamanya. Allahu akbar, Islam, bersuara menembus jiwa-jiwa dan eksistensi harian jutaan orang kehitaman ini.” Semua yang pernah tinggal di negeri-negeri Muslim tahu ini. Masalah besar yang dihadapi para pendeta Yudaisme dan Kristen adalah mem­pertahankan pengikut mereka sendiri. Ini tidak dialami oleh para pemimpin Islam. Para pengikut Muhammad amat ber­semangat dengan agama mereka, dan tak seorangpun berani memperolok itu di hadapan mereka. Insiden berikut akan menerangkan semangat Muslim ini terhadap Islam. Aku berlayar di atas sebuah kapal Lloyd Trestinto pada bulan Agustus dari Haifa ke Venezia. Kami singgah selama tiga hari di Alexandria. Kota ini didirikan oleh Alexander Agung dan selama bertahun-tahun menjadi kota terkemuka di dunia, menonjol dalam perniagaan, sains, politik, dan agama, dan masih merupakan kota menonjol. Itu adalah pe­labuhan utama Mesir, dan sebetulnya lebih Eropa ketimbang Afrika. Suatu malam, saat aku turun ke darat, ditemani seorang Austria, petugas beacukai Mesir di dermaga meng­geledah kami kalau-kalau ada barang kena bea. Si Austria kebetulan mengatakan sesuatu kepada Muslim Mesir ini yang baginya terdengar menghina kepercayaannya. Dia me­langkah maju, dan memandanginya, dengan api di matanya dan suara yang bergetar karena amarah, dan berkata dalam bahasa Arab, “Shoo?” “Apa?” Aku tahu sedikit bahasa Arab, dan kedengarannya si Austria mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dikatakan oleh siapapun kepada seorang Mus­lim, di negeri Muslim. Aku bertanya kepada si Austria apa yang dia katakan. Orang ini tidak tahu kenapa si Mesir tam­pak begitu marah. Aku jadi tahu bahwa si Austria menga­takan sesuatu kepadanya dalam bahasa Italia, dan bahwa kata-katanya tak ada kaitan dengan agama. Dia mendoa­kannya agar beruntung. Aku buru-buru menjelaskan kepada si Mesir makna kata-kata Italia itu. Ekspresinya berubah, kata-katanya lebih lemah-lembut, dan dia berkata kepadaku, “Siapapun yang memaki kepercayaanku akan mati.” Tak perlu dikatakan, si Mesir tidak sedang mencari masalah, dan senang mendengarkan penjelasanku. Dia mengambil bebe­rapa batang rokok yang kami sodorkan, dan kami berpisah sebagai teman. Dewasa ini ada pendeta-pendeta Kristen yang berbicara tentang menjadikan gereja mereka “Inklusif” alih-alih “Eks­klusif”. Tapi Islam sudah lebih Inklusif daripada Kristen atau Yudaisme. Seorang pria terpandang Mesir yang habis belajar di salah satu sekolah Misi di Mesir menjelaskan ini kepadaku. Aku bertemu dia sewaktu kembali dari Piramida-piramida Gizeh ke Kairo. Percakapan kami mengeluyur ke agama. Dia berkata padaku, “Orang Kristen itu tidak toleran dan bigot. Siapa pernah mendengar seorang Muslim berbicara tak baik tentang Musa atau Yesus, tapi orang jarang mendengar orang-orang Kristen bicara baik tentang Muhammad. Kami mengakui Musa maupun Yesus sebagai guru agung. Mereka berdua mempunyai tempat yang tinggi dalam Islam, tapi orang-orang Kristen secara umum menghina kenang-kenangan nabi kami.”
Judul asli : The Soul of Islam<i=1kIW73G3OWlWnJ9zbxoSDit81DKSxN-EX 216KB>The Soul of Islam
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Desember 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh