Skip to content
Buku Suamiku – Relift Media

Cerita fiksi keluarga Buku Suamiku

Kami menikah suatu hari bulan September, dan bulan madu berlalu gembira dengan obrolan terkait buku itu. Tidak ada yang lebih membuktikan dalamnya kasih-sayang George daripada fakta bahwa dia tidak memulai karya besarnya sebelum bulan madu selesai.



Jauh sebelum menikah dengan George, aku tahu dia sangat ambisius. Kami belum bertunangan saat dia menceritakan rahasianya tentang buku hebatnya yang akan datang, sebuah penyelidikan Metafisika Etika. “Aku belum memulainya,” dia selalu berkata, “tapi aku akan mengerjakannya tiap malam begitu musim dingin tiba.” Di siang hari George hanya se­orang juru catat, tapi juru catat yang sangat dihargai, jadi dia harus mencurahkan jam-jam terbaik hidupnya untuk buku kas.

“Jika saja kau punya lebih banyak waktu untukmu sendiri,” aku biasa berkata, ketika dia menceritakan buku yang bakal melambungkan namanya.

“Aku tak mengeluh,” katanya sepenuh hati, selalu seperti pahlawan sejati, kecuali ketika harus minum obat. “Sungguh, kau akan temukan, buku-buku hebat hampir selalu ditulis oleh orang-orang sibuk. Aku berpendapat kuat, jika sese­orang memiliki sesuatu yang orisinil di dalam dirinya, itu akan keluar.”

Dia semarak dengan antusiasme ketika berbicara dalam nada menjiwai ini, dan sebagian semangatnya mengalir padaku. Saat ketemuan, kami tidak membicarakan apa-apa selain masa depannya; setidaknya dia berbicara selagi aku mendengarkan sambil berdekap tangan. Dengan cara itulah kami jadi bertunangan. George bukan kekasih biasa. Dia tidak membuang-buang waktunya dengan menyebut aku cantik, atau sebentar-sebentar bilang “Kasihku!”. Tidak. Saat kami berdua, dia memberikan tangannya padaku untuk digenggam, dan bicara berapi-api tentang Metafisika Etika.

Pertunangan kami tidak terlalu panjang, sebab George membujukku menikah dengan cara begini—“Aku tak bisa fokus pada bukuku,” katanya, “sampai kita menikah.”

Hatinya begitu terpancang pada buku itu hingga aku menyerah. Kami berkeliling London membeli perabot. Ada satu bangku duduk yang kuinginkan, tapi George, dengan pertimbangannya seperti biasa, berkata:

“Lebih baik kita beli meja belajar. Itu akan membantu kerjaanku, dan begitu bukunya terbit, kita akan mampu membeli setengah lusin bangku duduk.”

Kali lain dia pergi sendirian untuk membeli beberapa lukisan untuk ruang kumpul.

“Aku justru dapat kursi belajar,” katanya malamnya. “Aku tahu kau tidak akan keberatan, sayangku, karena kursi ada­lah barang pokok untuk menulis sebuah buku besar.”

Dia bahkan memikirkan botol tinta.

“Di ruanganku,” katanya, “aku terus-terusan mendapati botol tintaku kosong; dan hatiku jadi panas jika menulis dengan air dan jelaga. Makanya aku berpikir sebaiknya kita beli rak botol tinta dengan dua botol.”

“Kita akan,” sahutku, dengan gairah muda, “dan aku akan kebagian tugas menyenangkan, memastikan botol-botolnya tetap penuh.”

“Sayang!” katanya penuh kasih; ini adalah jenis komentar yang paling menyentuh hatinya.

“Setiap malam,” lanjutku, didorong oleh nada-nada mem-belainya, “kau akan temukan naskahmu tergeletak di atas meja menunggumu, dan sebuah pena dengan mata baru.”

“Kau akan jadi isteri yang sempurna!” serunya.

“Tapi kau jangan terlalu banyak menulis,” kataku. “Kau harus menentukan jam-jam, dan pada jam tertentu, misal­nya jam sepuluh, aku akan memintamu berhenti menulis setiap malamnya.”

“Rasanya itu pengaturan yang bijak. Tapi kadang aku akan terlalu terpikat dalam kerjaan, kurasa, dan tak bisa mening­galkannya tanpa usaha.”

“Ah,” kataku, “aku akan datang ke belakangmu, dan me­rebut pena dari tanganmu.”

“Setiap Sabtu malam,” katanya, “aku akan bacakan pada­mu apa yang sudah kutulis sepanjang pekan.”

Tak heran aku mencintainya.

Kami menikah suatu hari bulan September, dan bulan madu berlalu gembira dengan obrolan terkait buku itu. Tidak ada yang lebih membuktikan dalamnya kasih-sayang George daripada fakta bahwa dia tidak memulai karya besarnya sebelum bulan madu selesai. Demikian aku sering berkata padanya, dan dia tersenyum penuh kasih sebagai balasan. Bahkan, semakin aku memujinya, semakin lebih senang dia kelihatannya. Istilah untuk ini adalah simpati.

Judul asli : My Husband’s Book ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Buku Suamiku

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)