Skip to content
Bayang – Relift Media

Cerita fiksi filsafat Bayang

Aku tak pernah memandang wajahnya atau tahu namanya, atau bahkan melihat kuburannya. Dan dalam kematian dia tetap seperti dirinya dalam kehidupan: sesosok makhluk yang hanya kelihatan di kala senja, senyap dan tak teraba bagai bayang.



Sementara bias-bias matahari menghilang di langit, senja muncul dari bumi. Senja—bala tentara malam yang besar, dengan ribuan pasukan tak kasat mata dan miliaran prajurit. Bala tentara kuat yang sejak dahulu kala bertempur dengan cahaya, berpencar dengan setiap fajar, berjaya dengan setiap petang, berkuasa dari matahari terbenam sampai matahari terbit, dan di siang hari bersembunyi dan menanti, terpencar.

Menanti di benteng-benteng pegunungan dan di gudang-gudang bawah tanah perkotaan, di semak-semak hutan dan di dalam danau-danau suram. Menanti di gua-gua abadi, di tambang-tambang, di selokan-selokan, di pojok-pojok rumah-rumah, di ceruk-ceruk dinding-dinding. Terpencar dan seolah-olah tak ada, tapi ia mengisi setiap sudut dan celah. Ia ada di setiap retak kulit pohon, di lipatan pakaian orang-orang; ia terdapat di bawah butir pasir paling kecil, melekat pada jaring laba-laba paling halus, dan menanti. Terhalau dari satu titik, dalam sekedip mata ia bergeser ke titik lain, mengambil kesempatan apapun untuk kembali ke tempat dari mana ia telah diusir, untuk menangkap posisi-posisi kosong dan untuk membanjiri bumi.

Sementara matahari memudar, bala tentara senja ber­gerak ke luar dalam barisan-barisan rapat dari tempat-tem­pat pengasingannya, senyap dan awas. Ia mengisi koridor-koridor, lobi-lobi, dan tangga-tangga kurang penerangan di gedung-gedung; dari bawah lemari-lemari pakaian dan meja-meja ia merayap ke tengah-tengah ruangan dan me­nyerang gorden-gorden; melalui ventilasi-ventilasi gudang bawah tanah dan kaca-kaca jendela ia bergerak ke jalan-jalan, menyerbu tembok-tembok dan atap-atap dalam sunyi senyap dan, bersembunyi di puncak-puncak atap, dengan sabar menanti awan-awan merah mawar memudar di barat.

Satu detik lain, dan akan meletuslah tiba-tiba sebuah ledakan besar kegelapan yang menjangkau dari bumi ke langit. Hewan-hewan akan bersembunyi di sarang-sarang mereka, orang-orang akan berlari pulang; kehidupan, seperti tanaman tanpa air, akan mengerut dan mulai melayu. Warna-warna dan bentuk-bentuk akan larut ke dalam ketia­daan; ketakutan, kekhilafan, dan kejahatan akan berkuasa atas dunia.

Pada detik itu, di jalanan Warsawa yang nyaris kosong, tampak sosok aneh seorang manusia dengan api kecil di atas kepalanya. Dia berlari menyusuri trotoar seakan-akan dikejar oleh gelap, berhenti sejenak di setiap tiang lampu, menyala­kan lampu riang, lalu raib seperti bayang.

Dan demikian, setiap hari sepanjang tahun. Entah di ladang-ladang musim semi menghembuskan wangi bunga-bunga, atau badai Juli mengamuk; entah di jalan-jalan angin liar musim gugur menghempaskan awan-awan debu, atau salju musim dingin mengombak di udara—selalu, begitu malam datang, dia berlari menyusuri trotoar-trotoar kota dengan api kecilnya, menyalakan lampu, lalu menghilang seperti bayang.

Dari mana kau datang, wahai manusia, dan di mana kau tinggal, sampai kami tak tahu wajahmu dan tak pula men­dengar suaramu? Apakah kau punya isteri atau ibu yang menanti kepulanganmu? Ataukah anak-anak yang me­naruhkan obormu di sudut dan memanjat ke pangkuanmu dan merangkul lehermu? Apakah kau punya teman-teman yang kepadanya kau ceritakan sukadukamu, atau kenalan-kenalan yang dengannya kau bisa bercengkerama tentang peristiwa-peristiwa hari itu?

Apakah kau punya bahkan sebuah rumah di mana kau dapat dijumpai? sebuah nama yang dengannya kau dapat dipanggil? kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan yang menjadikanmu manusia seperti kami? Ataukah kau sebenarnya makhluk tanpa wujud, senyap, tak teraba yang muncul hanya di kala senja, menyalakan lampu, lalu meng­hilang seperti bayang?

Judul asli : Shades
Cienie
()
Pengarang : Bolesław Prus
Penerbit : Relift Media, Mei 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh