Skip to content
Puteri Khalifah – Relift Media

Puteri Khalifah

Aku tak tahu kapan atau di mana atau bagaimana mereka bertemu pertama kali; tapi gadis bodoh itu benar-benar hilang akal dengannya, dan lelaki itu tampak sama-sama tergila-gila padanya.



Waktu itu jam setengah sebelas, pada suatu malam September yang lembab, ketika limosin milik Super­intenden Narkom menepi di depan rumah Cleek di Clarges Street, dan superintenden sendiri, menyamar seperti biasa bila berkunjung ke sekutu terkenalnya, melangkah ke luar dan dengan kehati-hatian tak terhingga membantu seorang rekan untuk turun.

Namun, sosok orang kedua ini begitu tersembunyi oleh lipatan-lipatan jubah panjang bergumpalan tebal, yang kelimannya terjuntai kurang seinchi dari permukaan trotoar, sehingga akan mustahil bagi orang yang lewat untuk me­mutuskan apakah itu sosok pria atau wanita; tapi caranya membungkuk, di samping gaya berjalan seret dan tak pasti—seperti gerakan kaki “meraba jalan”—selagi Tn. Narkom menuntunnya melintasi trotoar menuju pintu, menyiratkan usia tua atau kebutaan total: sebuah penderitaan yang baru belakangan saja dialami sehingga si penderita belum mem­peroleh hawa kepercayaan diri itu dan kebebasan langkah itu yang merupakan anugerah murah hati dari Sang Waktu untuk kaum tunanetra.

Akan tetapi, dalam beberapa saat, semua keraguan perihal jenis kelamin dan kondisi sosok teredam itu terjawab: begitu superintenden dan rekannya dipersilakan oleh Dollops menuju ruang depan yang remang-remang, sosok bungkuk itu menjadi lurus tegak, dan tidak sulit untuk melihat bahwa itu bukan saja sosok seorang pria, tapi seorang pria yang matanya dibekap rapat-rapat.

“Kau boleh lepas perbannya sekarang, Mayor,” kata Narkom, sementara pintu ditutup di belakang mereka dan Dollops sibuk menyetel kembali alat-alat pengunci. “Kami akan temukan majikanmu di ruang duduknya, kan, embrioku Vidocq?”

“Bicara padaku, tuan? Ya ampun! Kau tak pernah lupa namaku setelah berbulan-bulan ini, ya, Tn. Narkom?” kata Dollops, tidak memahami sindiran itu. “Ya, tuan; kau akan temukan dia di sana, tuan, dan lincah seperti biri-biri muda tanpa kacang polong, diberkati hatinya! Habis ke pernikahan Lady Chepstow dan si Kapten Hawksley sore tadi, tuan, dan pasti menikmati dirinya, cara dia bersiul dan bernyanyi sejak pulang. Pasti mewah sekali makanan yang mereka sajikan dengan semua uang mereka! Melewatkannya serasa hampir seperti kejahatan. Mereka mengirim apa yang tersisa ke rumah-rumah sakit, kudengar, dan aku sekempes daun musim gugur setelah enam bulan terperas dalam Alkitab keluarga.”

“Apa! Masih lapar, Dollops?”

“Lapar, tuan? Ya ampun, Tn. Narkom, bagiku suling itu tolol karena tak ada isinya. Aku kosong nian sampai-sampai tulang-tulang rusukku saling berjabat tangan; dan sepuluh menit lalu, saat aku makan satu pint1 keong laut, bunyi yang timbul sewaktu mereka lewat, tuan, kau akan mengira itu seseorang yang jatuh terguling-guling di tangga. Tapi kata orang karena setiap anjing ada harinya, maka aku selalu hidup dalam harapan, tuan.”

“Harapan? Harapan akan apa?”

“Bahwa suatu saat kau akan datang mencari gubernur untuk menyelidiki kejahatan yang telah dilakukan di sebuah rumah makan, tuan—dan kemudian, hei! Tapi,” tambahnya dengan murung, “mereka tak pernah menjumpai ajal yang keras, orang-orang lugu penjual makanan itu; mereka selalu mati di tempat tidur seperti sepaket penyembah berhala!”

Narkom tak menyahut. Pada waktu ini pria yang dia panggil “mayor” sudah melepas perban dari matanya. Mem­berinya isyarat untuk ikut, superintenden memimpin jalan ke lantai atas, meninggalkan Dollops berdukacita sendirian.

Cleek, yang sedang duduk dekat lampu kap dan menulis­kan sesuatu dalam diarinya, menutup buku itu dan bangkit ketika kedua orang masuk. Meskipun saat itu sudah larut, dia belum mengganti pakaian yang dikenakannya di pernikahan Lady Chepstow sore tadi.

“Kau adalah ketepatwaktuan, Tn. Narkom,” katanya riang, sambil melirik arloji. “Kurasa aku sendiri melalaikan ber­lalunya waktu dalam mengurus—well, hal-hal lain. Kau, Tn. Narkom, barangkali akan tertarik untuk tahu bahwa Nona Lorne sudah memutuskan untuk tetap di Inggris.”

“Sungguh, kawanku, aku tak pernah dengar dia ber­maksud pergi dari Inggris lagi. Apa dia mau?”

Judul asli : The Caliph’s Daughter ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Puteri Khalifah

  • Unduh

    Puteri Khalifah

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)