Skip to content
Rumah Boneka – Relift Media

Rumah Boneka

Ada tanda-tanda kegaduhan menyeramkan di seisi rumah; cahaya-cahaya bergerak lurus dan naik, dan pintu-pintu dibuka dan ditutup, dan sosok-sosok berlarian melintas di dalam jendela-jendela.



“Aku duga barang macam itu melewati tanganmu cukup sering?” kata Tn. Dillet, sambil menunjuk dengan tongkatnya pada sebuah objek yang akan dijelaskan bila saatnya tiba; dan ketika dia mengatakan itu, dia berbohong bulat-bulat, dan tahu dirinya berbohong. Tak sekalipun dalam dua puluh tahun—mungkin tak sekalipun dalam seumur hidup—Tn. Chittenden, betapapun terampil dalam menemukan harta-karun terlupakan dari setengah lusin kabupaten, menyangka akan memegang spesimen seperti itu. Ucapan itu omong-kosong para kolektor, dan Tn. Chittenden mengenalinya sebagai demikian.

“Barang macam itu, Tn. Dillet! Itu benda museum, begitu.”

Well, aku duga ada museum-museum yang mau mene­rima apa saja.”

“Aku pernah lihat satu, tidak sebagus yang itu, bertahun-tahun silam,” kata Tn. Chittenden sambil berpikir. “Tapi itu tidak mungkin masuk ke pasar; dan aku dengar mereka punya beberapa yang bagus dari masa kesulitan finansial. Tidak; aku hanya bilang yang sebenarnya, Tn. Dillet, bila kukatakan bahwa jika kau mau titip padaku pesanan tak terbatas dengan harga terbaik yang bisa didapat—dan kau tahu aku punya kecakapan untuk tahu tentang barang-barang seperti itu, dan reputasi untuk dijaga—well, aku hanya bisa bilang, aku akan menuntunmu lurus ke yang itu dan berkata, ‘Aku tak bisa berbuat lebih baik dari itu untukmu, tuan.’”

“Hore, hore!” kata Tn. Dillet, menyorak sinis dengan ujung tongkatnya pada lantai toko. “Berapa duit kau menipu pem­beli Amerika polos untuk itu, hah?”

“Oh, aku tidak akan terlalu keras pada pembeli, orang Amerika atau lainnya. Kau tahu, begini, Tn. Dillet—kalau aku tahu sedikit lebih banyak tentang silsilah—”

“Atau sedikit lebih sedikit,” potong Tn. Dillet.

“Ha, ha! kau suka bercanda, tuan. Tidak, tapi seperti ku­katakan, kalau aku tahu sedikit lebih banyak tentang benda itu—meski siapapun bisa lihat sendiri itu barang asli, setiap sudutnya, dan tak ada satupun di antara anak buahku diizin­kan menyentuhnya sejak itu masuk ke toko ini—akan ada angka lain lagi dalam harga yang kuminta.”

“Berapa: dua puluh lima?”

“Kalikan tiga kali dan kau mendapatkannya, tuan. Tujuh puluh lima adalah hargaku.”

“Dan lima puluh adalah hargaku,” kata Tn. Dillet.

Titik kesepakatannya, tentu saja, di antara dua angka tersebut, tidak masalah berapa tepatnya—kukira enam puluh guinea. Tapi setengah jam kemudian objek itu dikemas, dan dalam satu jam Tn. Dillet sudah datang mengambilnya di dalam mobilnya dan pergi. Tn. Chittenden, memegang cek di tangan, mengantarnya keluar pintu sambil tersenyum, dan kembali, masih tersenyum, ke dalam ruang tamu di mana isterinya sedang membuat teh. Dia berhenti di pintu.

“Sudah hilang,” katanya.

“Syukurlah!” kata Ny. Chittenden, meletakkan teko. “Tn. Dillet, dia kan?”

“Ya, dia.”

Well, aku lebih suka dia dibanding yang lain.”

“Oh, entahlah; dia bukan orang yang buruk, sayangku.”

“Mungkin bukan, tapi menurutku dia tidak lebih buruk untuk sedikit goncangan.”

Well, itu menurutmu, menurutku dia sudah mengarah­kan dirinya sendiri untuk terkena. Biar bagaimanapun, kita kita takkan memegangnya lagi, dan itu sesuatu yang patut disyukuri.”

Maka Tn. Dan Ny. Chittenden duduk minum teh.

Terus apa yang terjadi dengan Tn. Dillet dan perolehan barunya? Apa yang terjadi, judul cerita ini akan sudah mem­beritahu kalian. Seperti apa kejadiannya, aku akan terangkan sebaik yang kubisa.

Hampir tidak ada ruang yang cukup untuk itu di dalam mobil, dan Tn. Dillet terpaksa duduk bersama sopir; dia juga harus melaju pelan, sebab meski kamar-kamar Rumah Boneka itu semuanya sudah disumpal dengan kapas mentah empuk, sentakan harus dihindari, mengingat banyaknya objek-objek kecil yang menjejali mereka; dan berkendara sepuluh mil adalah waktu yang mencemaskan buatnya, terlepas dari semua langkah antisipasi yang dia perintahkan. Akhirnya dia sampai ke pintu depan rumahnya, dan Collins, sang kepala pelayan, keluar.

Judul asli : The Haunted Dolls’ House ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, March 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment