Skip to content
Jiwa Polisi – Relift Media

Jiwa Polisi

Berangsur-angsur dia mulai mengerti bahwa dirinya tidak termasuk kaum segelintir yang terlahir untuk memerintah—untuk mengawasi—para tetangga sederhana, yang hanya berambisi untuk bernafas.



Di luar, di atas hiruk-pikuk lalu-lintas, langit sedang gilang-gemilang dengan damainya petang musim panas cerah di kejauhan. Melalui kaca jendela pos polisi bagian atas, petugas polisi Bennett, yang merasa panca inderanya saat ini tajam di luar normal, mengenali dengan hati gundah warna-warna merah dan kuning yang menghiasi selimut perca terbaik di rumah. Sebaliknya lampu-lampu kantor inspektur redup, sehingga di dalam tembok pos polisi itu bunyi=bunyi terasa lebih penting. Di suatu tempat, seorang pemabuk, yang dilucuti dari sepatu botnya, sedang menabuh-nabuh kritikan terhadap pihak berwenang pada tembok-tembok selnya. Dari ruang sebelah, di mana orang-orang yang tak bertugas sedang meng­hibur diri, datang bunyi ceklikan bola biliar dan domino, sesekali diputus oleh ledakan gelak-tawa keras. Dan dekat sekali dengan dirinya, inspektur sedang bicara dalam suara halus itu yang mengingatkan Bennett akan beludru abu-abu.

“Bennett, kau tahu bagaimana situasinya. Aku tak punya masalah dengan kelakuanmu. Kau mantap dan tepat waktu, dan aku tak ragu kau sedang coba mengerjakan tugasmu. Tapi sayang sekali, kalau melihat hasilnya, kau tak punya apa-apa untuk ditunjukkan atas usaha-usahamu. Selama tiga pekan terakhir kau belum membuahkan tuntutan macam apapun, dan selama kurun waktu yang sama aku mendapati rekan-rekanmu di patroli sibuk luar biasa. Kuulangi, aku tidak menudingmu melalaikan tugas, tapi hal-hal ini berpengaruh terkait para hakim dan menyampaikan kesan malas.”

Bennett tertunduk pada sepatu botnya yang disemir kilap. Jari-jarinya berpasir dan ada kain lakan lembut di bawah kakinya.

“Aku sudah lama mengkhawatirkan ini, pak,” katanya, “amat sangat khawatir.”

Inspektur menatapnya penuh tanya.

“Tak ada yang mau kau katakan?” katanya.

“Aku selalu coba mengerjakan tugasku, pak.”

“Aku tahu, aku tahu. Tapi kau pasti paham bahwa jumlah tuntutan, kalau bukan dakwaan, adalah tanda opsir yang pintar.”

“Tentu kau tak mau aku menangkap orang-orang tak berdosa?”

“Itu pengamatan yang sangat tidak patut,” kata inspektur sengit. “Aku takkan mengatakan apa-apa lagi padamu sekarang. Tapi kuharap kau akan ambil perkataanku barusan sebagai peringatan. Kau harus sibuk, Bennett, sibuk.”

Di luar, di jalan raya, petugas polisi Bennett leluasa merenungi tanya-jawab tak mengenakkan itu. Inspektur orang yang ambisius dan karenanya bermegah diri; dia, dia sendiri, tidak ambisius dan karenanya bersahaja. Baginya sendiri, dia akan sudah puas menang dalam renungan tersebut karena dirinya tidak sampai mengatakan sejumlah hal bodoh, tapi kesejahteraan isteri dan anak-anaknya mengikatnya, cukup menjemukan untuk seorang pelamun, mengikatnya ketat pada alam praktis. Jelas, kalau dia tidak segera memperlihatkan tanda-tanda ketepatgunaannya sebagai penyelenggara keten­teraman, kesejahteraan itu bakal terancam. Tapi dia tidak menyalahkan nasib yang telah menjadikannya seorang polisi atau bahkan nasib buruk yang tidak membawa orang-orang bersalah ke tangannya. Justru dia memandang dengan rasa penasaran ramah ke wajah orang-orang yang melewatinya, dan bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa mendeteksi jejak-jejak kedurjanaan lingkungan itu yang diasumsikan oleh khalayak. Pria-pria dan wanita-wanita tak disisir ini adalah pencuri dan bahkan pembunuh, kelihatannya; tapi baginya mereka bersinar seperti pemuda dan pemudi bahagia, korban riang dari tirani cinta.

Sambil mendekati jalan di mana dirinya tinggal, perasaan cinta universal ini menderas di dalam darahnya dan mengaduk-aduknya aneh. Tak luput dari matanya bahwa bagi masyarakat umum seragamnya adalah sesuatu yang tak bersahabat. Para pria dan wanita terhenti dalam ocehan asyik mereka sampai dirinya lewat, dan bahkan anak-anak kecil terputus-putus dalam permainan mereka untuk melihatinya dengan mata sangsi. Tapi hatinya untuk mereka hangat; dia tahu dirinya mengharapkan kebaikan untuk mereka.

Meski demikian, ketika melihat rumahnya bersinar dalam barisan rumah-rumah serupa, dia sadar sikap mereka lebih bijak daripada sikapnya. Kalau dia ingin sukses sebagai pencari nafkah, dia harus melancarkan perang yang lebih keras terhadap orang-orang bahagia dan disayang ini. Adalah mudah—dia sudah cukup lama di dalam angkatan untuk tahu betapa mudah—untuk mendapat kasus-kasus. Gaya intoleran, sedikit kekasaran provokatif, dan beres. Tapi dengan segenap hatinya dia mengagumi kaum miskin atas kemerdekaan jiwa mereka yang penuh sakit hati. Baginya ini senantiasa menjadi kualitas tertinggi karakter Inggris; bagaimana dia bisa manfaatkan itu untuk memenuhi penjara-penjara Inggris?

Dia membuka pintu rumahnya, dengan desahan di bibir. Datanglah teriakan gembira anak-anaknya.

Judul asli : The Soul of a Policeman ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2020
Genre :
Kategori :

Unduh